Menteri ESDM Minta Tes Distribusi Biodiesel B30 Dimulai

Menteri ESDM Minta Tes Distribusi Biodiesel B30 Dimulai
Ilustrasi, Biodiesel - dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif meminta seluruh pihak terkait untuk memulai tes atau uji coba distribusi Biodiesel B30 dimulai untuk melihat kesiapan jalur pendistribusian dan kualitas bahan baku.

Permintaan tersebut dituangkan Arifin dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 227 K/10/MEM/2019 Tentang Pelaksanaan Uji Coba Pencampuran Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel 30% (B30) ke Dalam Bahan Bakar Minyak Jenis Minyak Solar Periode 2019, yang ditekennya pada 15 November 2019.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Publik Kementerian ESDM, Agung Pribadi menuturkan, beleid tersebut diteken Arifin setelah mendapatkan laporan bahwa uji coba penggunaan B30 pada kendaraan bermesin diesel menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan pada kinerja mesin kendaraan.

“Dengan dilakukannya uji coba pendistribusian ini mudah-mudahan nanti setelah diimplementasikan awal 2020 bisa berjalan lancar,” ujar Agung dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (19/11).

Pemerintah menurutnya berharap PT Pertamina (Persero) dan Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) bisa menunjukkan proses produksi dan distribusi Biodiesel B30 berjalan lancar. Mulai dari pasokan bahan baku, proses penggabungannya di fasilitas pencampuran, sampai distribusinya ke SPBU-SPBU.

Baca juga: Trik Agar Mesin Kendaraan Ber-BBM Biodiesel Tetap Awet

Ilustrasi, kampanye penggunaan B30 – dok.Twitter

“Kalau B30 ini bisa diterapkan dan proses distribusinya berjalan lancar, kami berharap angka subsidi solar bisa berkurang sekitar 10%,” ujar Agung.

Ia menuturkan, Menteri ESDM meminta uji coba distribusi dilakukan di delapan wilayah yaitu, Terminal BBM (TBBM) Rewulu, TBBM Medan, TBBM Balikpapan, TBBM Plumpang, TBBM Kasim, TBBM Plaju, TBBM Panjang dan TBBM Boyolali Jawa tengah.

Dengan dimulainya percobaan pendistribusian B30 ini, Pemerintah memperkirakan akan terdapat penambahan bahan bakar nabati (BBN) yang terserap sekitar 72.000 liter biodiesel hingga akhir uji coba. Adapun untuk mandatori B20 dialokasikan sekitar 6,6 juta KL biodiesel hingga akhir 2019.

Baca juga: Uji Jalan B30 Selesai, ESDM Umumkan Hasil Final Akhir November

Ilustrasi, kendaraan yang mengikuti road tes menggunakan BBM B30 – dok.BPBD.or.id

Spesifikasi B30
Kementerian ESDM menurut Agung Pribadi memercayakan penyediaan campuran BBN atau fatty acid methyl ester (FAME) yang diperlukan dalam masa uji coba kepada sepuluh badan usaha penyalur biodiesel.

“Sudah ditetapkan ada 10 (sepuluh) badan usaha yang akan menyediakan biodiesel bagi trial implementasi B30 di tahun 2019,” ungkapnya.

Selain itu, Pemerintah juga menetapkan standar dan mutu (spesifikasi) dalam pelaksanaan uji coba B30 berdasar SNI 7182: 2015, antara lain:

1. Massa jenis pada 40 derajat celcius harus memiliki 850 – 890 Kg/m3

2. Viskositas kinematik pada 40 derajat celcius harus memiliki 2,3 – 6,0 mm2/s (cSt)

3. Angka Setana menimal 51

4. Titik nyala (mangkok tertutup) memiliki minimal 130 derajat celcius

5. Korosi lempeng tembaga (3 jam pada 50 derajat celcius) harus nomor satu

6. Residu Karbon dalam percontoh asli memiliki maksimal 0,05 %- massa; atau dalam 10% ampas ditilasi 0,3%- massa

7. Temperatur distilasi 90% maksimal 360 derajat celcius

8. Abu tersulfatkan maksimal 0,02%-massa

Sampel B30 – dok.Katadata.co.id

9. Belerang maksimal 10 mg/kg

10. Fosfor maksimal 4 mg/kg

11. Angka asam maksimal 0,4 mg-KOH/g

12. Gliserol bebas maksimal 0,02%-massa

13. Gliserol total maksimal 0,24%-massa

14. Kadar ester metil minimal 96,5%-massa

15. Angka ioudium maksimal 115%-massa (g-12/100 g)

16. Kestabilan oksidasi periode induksi metode rancimat 600 menit; atau periode induksi metode petro oksi 45 menit.

17. Monogliserida maksimal 0,55%-massa

18. Warna maksimal 3 dengan metode uji ASTM D-1500

19. Kadar air maksimal 350 ppm dengan metode uji D-6304

20. CFPP (Cold FIlter Plugging Point) maksimal 15 derajat celcius dengan metode uji D-6371

21. Logam I maksimal 5 mg/kg dengan metode uji EN 14108/14109, EN 14538

22. Logam II maksimal 5 mg/kg dengan metode uji EN 14538

23. Total Kontaminan maksimal 20 mg/liter dengan metode uji ASTM D 2276, ASTM D 5452, ASTM D 6217

Pelaksanaan uji coba B30 pada akhir 2019 ini merupakan sebagai langkah awal Pemerintah mempersiapkan pelaksanaan mandatori B30 di tahun 2020 mendatang.

Sebelumnya, Kementerian ESDM telah menyelesaikan rangkaian uji jalan, uji perfoma kendaraan, monitoring dan evaluasi bahan bakar biodiesel B30 pada kendaraan bermesin diesel pada awal November lalu. (Gen)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This