Giliran Eropa Minat Investasi Baterai Lithium Mobil Listrik di Indonesia

Giliran Eropa Minat Investasi Baterai Lithium Mobil Listrik di Indonesia
Ilustrasi, baterai mobil listrik Tesla - dok.Watch

Ludwigshafen, Motoris – Korea Selatan, China, dan investor Eropa berminat menanamkan modal pada sektor baterai lithium di Indonesia.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Bahlil Lahadalia, menyampaikan hal tersebut usai mendampingi Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, dan delegasi Indonesia tatkala bertemu dengan BASF, perusahaan kimia terbesar dunia di Ludwigshafen, Jerman, pada Kamis (28/11/2019).

BASF merupakan perusahan kimia terbesar dunia dan pemasok utama bahan-bahan kimia baik bagi industri makanan, otomotif, hingga infrastruktur.

Bahlil menyebutkan pemerintah berharap beberapa investor potensial yang akan masuk ke Indonesia yakni dari Korea Selatan, Tiongkok dan Eropa itu membangun industri baterai lithium di Indonesia.

“Ini merupakan hal yang baik dan strategis untuk menjadikan Indonesia sebagai tempat berinvestasi yang aman,” ujar Bahlil dalam siaran pers, di Ludwigshafen, Senin (2/12/2019).

Baca juga: LG Chemical Siap Bangun Pabrik Baterai Sel Rp32,4 T di Indonesia

Produsen produk kimia asal Jerman, BASF meminati investasi produksi baterai mobil listrik di Indonesia – dok.The Gazette

Hadir pula dalam kesempatan itu Dubes RI di Berlin Arief Havas Oegroseno; Konjen RI di Frankfurt Toferry Soetikno; Direktur Perencanaan Jasa dan Kawasan BKPM Nurul Ichwan; Pejabat Promosi Investasi IIPC London Aditia Prasta; Chairman Zhejiang Huayou Cobalt Xuehua Chen. Sedangkan perwakilan BASF, yakni Vice President BASF Battery Material Europe Daniel Schoenfelder; Vice President BASF Battery Material Asia Jay Yang; dan Senior Vice President BASF Precious & Base Metal Services Matthias Dohrn.

Bahlil mengatakan BASF sangat tertarik dengan penjelasan yang disampaikan oleh delegasi Indonesia yang menjabarkan mengenai cadangan mineral khususnya nikel. Mineral ini merupakan komponen dominan pembuatan baterai lithium untuk kendaraan listrik dan rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang akan menghasilkan harga listrik yang sangat murah yang akan mendukung industri litium baterai dan smelter di Indonesia.

Pada kesempatan itu, Luhut menjelaskan upaya pemerintah Indonesia untuk menarik investasi dibidang manufaktur kendaraan listrik. Selain itu, potensi pasar Indonesia yang sangat besar. Sehingga peluang ini dapat menciptakan permintaan akan investasi di sektor baterai kendaraan listrik.

Dipaparkan juga pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden No. 55/2019 tentang Percepatan Program KBL Berbasis Baterai untuk Transportasi Jalan.

“Pak Luhut juga sampaikan tadi ke depan yang akan menjadi tren adalah kendaraan listrik, dibandingkan kendaraan hybrid apalagi dari energi fosil,” ucap Bahlil.

Pada kesempatan itu, hadir pula perwakilan dari perusahaan asal China. Perusahaan-perusahaan ini telah berinvestasi di Weda Bay Nickel (WBN), Halmahera, Maluku Utara. Perusahaan-perusahaan ini telah berinvestasi di bidang pembuatan bahan untuk baterai lithium di Indonesia. Chairman Zhejiang Huayou Cobalt, Xuehua Chen, mengapresiasi pemerintah Indonesia yang mengundang dan melibatkan perusahaan asal Tiongkok berkunjung ke Eropa.

Baca juga: Tesla Minati Investasi Baterai Listrik di Indonesia

Ilustrasi baterai motor listrik di mobil – dok.Stanford University

“Market di Eropa sangat penting untuk produk baterai kendaraan listrik. Kami mendapat dukungan penuh dari semua tingkatan pemerintah Indonesia, dan juga kami mendapatkan dukungan bahan baku yang melimpah. Oleh karena itu kami sebagai salah satu perusahaan terdepan di bidang baterai untuk kendaraan listrik merasa percaya diri akan sukses di Indonesia,” ujar Chen.

Huayou merupakan salah satu pemain baru utama di bidang industri energi baterai li-ion. Bahkan Huayou telah menguasai pangsa pasar kobalt dunia. Guna mendorong daya saing di industri ini, pihaknya telah memulai di beberapa proyeknya di Indonesia.

“Proyek-proyek kami sudah jalan. Tidak ada kendala-kendala berarti untuk proyek kami di Indonesia,” tegas Chen.

Menurutnya, Indonesia tak hanya kaya akan laterite ore, bahan material baterai li-ion. Namun juga pemerintah Indonesia sudah menciptakan iklim yang bagus buat bisnis ini.

Faktor inilah yang membuat pihaknya optimistis dengan kelangsungan investasi dan proyek-proyeknya di Indonesia di masa depan. Chen menargetkan perusahaannya akan membangun kawasan industri global terdepan kelas dunia di industri baterai di Indonesia.

Baca juga: Soal Limbah Baterai Listrik, KPPB: Jangan Cuma Euforia

Ilustrasi pengisian daya baterai mobil listrik oleh masyarakat – dok.Caixin Global

“Ini gabungan yang cakep antara kemampuan dan daya saing teknis kami di Huayou dan sumber daya yang dimiliki Indonesia. Kita sama-sama kembangkan kedua pihak di Indonesia,” kata Chen.

Basis Mobil Listrik
Minat investor berinvestasi memproduksi baterai lithium di Indonesia itu diyakini akan memperkuat ekosistem kendaraan listrik di masa mendatang. Sebelumnya, Luhut mengungkapkan bahwa Indonesia akan melakukan penandatanganan kerja sama investasi mobil listrik dengan Hyundai, Korea Selatan, senilai US$ 1 Miliar.

“Hyundai mau investasi kira-kira US$ 1 Miliar di industri mobil listrik, di dekat Karawang (Jawa Barat) sana. Tanahnya sekitar 600 hektar,” kata Menko Luhut kepada awak media di Gedung MPR-DPR, Jakarta, Rabu (13/11/2019).

Luhut juga meminta kepada pihak Hyundai agar nantinya mereka menggunakan bahan baku dari Indonesia.

“Mereka sudah saya minta pakai bahan dari Morowali. Kemudian ban mobil, pesawat terbang, karet dari kita. Sekarang Dunlop, sudah. Jadi nanti semua mobil listrik yang diproduksi di Indonesia pakai karet ban dari karet kita,” Luhut menjabarkan.

Presiden Joko Widodo, Selasa (26/11/2019), meninjau kompleks Pabrik Hyundai Motor Company, di Ulsan, Korea Selatan serta menyaksikan penandatanganan kerjasama (MoU/Memorandum of Understanding) antara Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia dengan dengan CEO Hyundai Motor Company, Won Hee Lee.

Baca juga: Tiga Produsen Baterai Listrik Terbesar di Dunia Masuk Indonesia

Presiden Joko Widodo dan rombongan berkunjung ke kantor pusat Hyundai di Korea Selatan – dok.Istimewa

Hyundai, menurut Bahlil, akan melakukan investasi secara bertahap di Indonesia dengan membangun pabrik dengan investasi US$ 1,5 miliar. Kucuran investasi di tahap pertama kurang lebih US$ 700 juta.

“Semua perizinan itu sudah komplet, dan tahap pertama ini mereka akan running di Januari 2020, sudah jalan, begitu. Dan diharapkan 1 tahun produksi bisa mencapai 250 ribu unit,” kata Bahlil di Ulsan dilansir Motoris dari laman Sekretariat Kabinet.

Luhut mengapresiasi penandatangan MoU ini “Sesuai keinginan pemerintah untuk menjadikan Indonesia bukan hanya pasar tetapi juga basis produksi,” kata Luhut usat mendampingi Presiden Jokowi mengunjungi pabrik mobil Hyundai itu.

Menko Maritim dan Investasi itu juga menyampaikan, bahwa rencana investasi sebesar US$ 1,5 miliar dollar AS yang akan dilakukan Hyundai untuk pabrik di Bekasi, Jawa Barat akan berlanjut.

“Kedua belah pihak bersama-sama ingin mengembangkan dan memproduksi kendaraan dengan model baru untuk memenuhi kebutuhan konsumen Asia dan Australia,” jelas Luhut.

Bahlil meyakini investasi Hyundai Motor ke Indonesia itu akan memberikan nilai tambah yang besar untuk perekonomian Indonesia.

“Penyerapan 3.500 tenaga kerja dan pengambangan pusat pelatihan, penelitian, dan pengembangan mobil listrik,” kata Bahlil.

Baca juga: Cuma Medioker Tapi Berani Investasi, Kupas Prospek Hyundai di RI

Presiden Joko Widodo bersama pimpinan Hyundai Motor Company dan Kepala BKPM RI Bahlil Lahadalia usai penandatatangan kerjasama investasi Hyundai di Indonesia – dok.Istimewa

Agar manfaat tersebut dapat lebih maksimal, Kepala BKPM akan meminta kepada pihak Hyundai agar dalam berproduksi memaksimalkan penggunaan bahan baku dalam negeri dan bekerja sama dengan pengusaha lokal.

“Seperti menggunakan bahan baterai dari Morowali, ban karet dari dalam negeri, sehingga nantinya semua mobil listrik yang diproduksi di Indonesia menggunakan bahan dari dalam negeri,” kata Bahlil.

Realisasi investasi Hyundai Motor di Indonesia akan dilakukan dalam dua tahap, yaitu periode 2019-2021 dan selanjutnya 2022-2030.

“Pada tahap pertama, Hyundai akan fokus pada investasi pembuatan pabrik mobil dan akan mengekspor sedikitnya 50 persen dari total fase produksinya. Pada tahap kedua pada pengembangan pabrik mobil listrik, dan 70 persen produksinya akan diekspor,” jelas Bahlil.

Menurut Bahlil, Hyundai akan memulai produksinya pada 2021 dengan kapasitas 70.000-250.000 unit per tahun, termasuk mobil listrik ke depannya. (Gen)

CATEGORIES
TAGS
Share This