Alasan RI Ngebet Jadi Produsen Baterai Mobil Listrik Terbesar di Dunia

Alasan RI Ngebet Jadi Produsen Baterai Mobil Listrik Terbesar di Dunia
Ilustrasi, baterai mobil listrik - dok.Engadget

Jakarta, Motoris – Pemerintah Indonesia meminta agar produsen baterai listrik yang ingin berinvestasi di Tanah Air agar mulai berproduksi pada 2023 nanti. Peningkatan jumlah kendaraan listrik di dunia yang diperkirakan terjadi pada 2025 nanti, diyakini menjadi pemicu melonjaknya permintaan baterai.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, menyebut pada tahun itu, banyak negara di dunia – termasuk Indonesia – yang menargetkan populasi kendaraan listrik melonjak untuk menggantikan kendaraan konvensional.

“Kebijakan Uni Eropa misalnya, akan menghentikan penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil pada tahun 2025. Tentu, ini menjadi peluang. Karena itu, kita harus begerak cepat,” tutur dia, di Jakarta, Selasa (10/12/2019).

Sementara, lanjut dia, baterai berbahan lithium masih akan menjadi kebutuhan utama bagi kendaraan listrik dalam kurun waktu yang lama. Pasalnya, hingga kini, masih belum ada bahan lain yang menggantikan ketahanan bahan tersebut sebagai penyimpan arus listrik.

“Saya sudah jalan keliling cari tahu kapan baterai lithium kapan selesai? Dari pembicaraan saya dengan VW, Mercedes, BMW, Korea, mereka bilang belum ada. Sehingga 15-20 tahun ke depan, belum ada yang menggantikan efektivitas lithium baterai. Apa artinya? kita harus cepat,” ungkap mantan Menkopolhukam itu.

Baca juga: Target 2025, Pemerintah Diminta Terbitkan Roadmap Kendaraan Listrik

Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut B.Panjaitan (berbaju putih) saat menyambangi Indonesia Ekectric Motor Show 2019 – dok.Istimewa

Indonesua, lanjut Luhut, saat ini tengah berada pada proses hilirisasi nikel. Sehingga, saat ini pemerintah berambisi agar pada tahun 2023 nanti, sudah memasuki pada proses pembuatan baterai dengan bahan baku nikel.

“Kita sudah masuk stainlesteel masuk carbon steel. Baterai 2023 masuk,” ucap dia.

Tak berubah pikiran
Oleh karena itu pula, pensunan jenderal bintang empat itu meminta agar perusahaan-perusahaan yang telah berkomitmen berinvestasi di Tanah Air untuk segera memproduksi baterai pada tahun 2023 itu. Hal ini dimaksudkan agar para investor tak berubah pikiran karena jeda yang terlalu lama.

Terlebih, jika pada tahun 2025 nanti periode kedua pemerintahan Presiden Joko Widodo juga sudah berakhir. “Saya maunya (tahun) 2023. Mereka bilang (mau menggelontorkan investasi) tahun 2025. Tapi, saya mau 2023, soal izin urusan saya. Kalau kita terima-terima saja, nanti tahun 2025 berubah lagi. Pejabat baru lagi, tidak jadi itu barang (produksi baterai listrik),” kata dia.

Luhut meminta agar perusahaan di Morowali dan Weda Bay membangun fasilitas pengolahan nikel berteknologi High Pressure Acid Leach.

“Kita berharap 2023 semua (investasi) sudah masuk. Dan itu akan berdampak luar biasa ke ekspor kita. Sehingga current account deficit kita yang US$ 31 miliar bisa diatasi,” terang dia.

Baca juga: LG Chemical Siap Bangun Pabrik Baterai Sel Rp32,4 T di Indonesia

Ilustrasi, pengecasan baterai mobil listrik – dok.Motoris

Mantan Menteri Perdagangan di era Presiden Abdurrahman Wahid ini juga menyebut ada kemungkinan pabrik baterai itu dibangun di Patimban, Jawa Barat. Pertimbangannya, secara teknis dekat dengan kawasan produksi otomotif. “Tetapi katodenya tetap di Morowali,” jelasnya.

Keunggulan Indonesia
Pada kesemptan itu Luhut juga kembali menegaskan bahwa proses produksi baterai listrik di Indonesia memiliki keunggulan tersendiri dibanding di negara lain. Dibanding Australia misalnya.

Pertama, Indonesia memiliki cadangan nikel yang jauh lebih besar dibanding Australia, Barsilia, maupun Rusia. Hasil survei US Geological menunjukan cadangan nikel di Indonesia mencapai 21 juta ton.
“Artinya, bahan baku di kita sangat berlimpah,” papar Luhut.

Baca juga: Produsen Baterai Listrik Asal AS Ionic Materials Investasi di RI

Ilustrasi baterai motor listrik di mobil – dok.Stanford University

Kedua, secara geoggrafis, Indonesia merupakan negara kepulauan yang banyak wilayah perairan. Alhasil, proses pengangkutan lebih murah karena menggunakan kapal.

Hal itu berbeda dengan Australia yang merupakan negara dengan dominasi daratam. Sehingga proses pengangkutan produk menggunakan jalur darat yang lebih mahal.

Saat ini ada beberapa investor yang telah menyatakan berminat mengolah bijih nikel menjadi baterai kendaraan listrik. Di antara mereka, dua yang telah serius menyatakan minatnya, yaitu GEM dan CATL.

“Karena itu, kami terus berkoordinasi dengan GEM dan CATL (Contemporary Amperex Technology Ltd) agar segera membangun pabrik baterai lithium ini. Kita harus cepat karena peluang pasarnya sangat besar,” (Fer/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS