Banjir, Klaim Asuransi Kendaraan Bermotor Melonjak

Banjir, Klaim Asuransi Kendaraan Bermotor Melonjak
Ilustrasi, klaim asuransi mobil - dok.Blog Pirate

Jakarta, Motoris – Perusahaan asuransi memperkirakan pada bulan-bulan pertama tahun 2020 ini pengajuan klaim asuransi mobil dan sepeda motor di Indonesia melonjak drastis, seiring dengan banyaknya mobil dan motor yang terdampak banjir. Meski, untuk klaim atas dasar kerusakan akibat banjir itu mensyaratkan pemegang polis atau nasabah telah melaukan ekstensi atau perluasan cakupan perlindungan ke risiko akibat banjir.

“Bisa dipastikan klaim asuransi kendaraan meningkat. Tetapi berapa jumlahnya, dan berapa nilainya, tentu belum bisa disebutkan karena saat ini pemilik kendaraan juga banyak yang belum membuat pengajuan klaim,” ungkap Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody Dalimunthe, saat dihubungi di Jakarta, Jumat (3/1/2020).

Pernyataan senada diungkapkan Chief Executive Officer Adira Insurance, Julian Noor. Menurutnya, jumlah maupun nilai klaim asuransi pasti naik jika dibanding Januari tahun lalu. Pasalnya, pada periode itu, tidak ada banjir yang intensitas maupun skalanya seperti sekarang.

“Tentu akan ada lonjakan, karena saat ini ada peristiwa banjir. Tapi jumlahnya berapa, nilainya berapa kita belum bisa pastikan. Para pemilik mobil sendiri saat ini masih memprioritaskan evakuasi diri, mungkin satu atau dua hari mereka prioritaskan evakuasi mobil dan mengajukan klaim. Kan ada laporan mobilnya yang hanyut, saling benturan, bertumpukan kemudian rusak, dan sebagainya,” tutur Julian saat dihubungi, Jumat (3/1/2020).

Ilustrasi mobil terendam banjir – dok.True Activist

Baik Julian maupun Dody kembali mengingatkan, klaim asuransi terkait dengan risiko banjir hanya bisa diklaim oleh mereka yang telah melakukan perluasan cakupan perlindungan terhadap banjir. Dan itu, terjadi pada saat pembelian polis asuransi oleh nasabah, atau setelahnya setelah yang bersangkutan mengajukan penambahan cakupan.

Banjir masuk dalam klausul perluasan karena peristiwa benca atau force majeur yakni kejadian yang berada di luar kendali kemampuan manusia. Pada umumnya, risiko akibat force majeure tidak termasuk dalam cakupan perlindungan dari produk asuransi.

“Tetapi yang pasti, dengan musibah banjir ini, mudah-mudahan kita semua menyadari betapa pentingnya asuransi untuk perlindungan dari risiko terhadap aset-aset kita. Apalagi, yang namanya musibah, kita tidak tahu kapan terjadi dan dimana,” kata Dody.

Motor terendam banjir – dok.Kompas.com

Minim literasi
Hingga saat ini, secara umum, lanjut Dody, tingkat penetrasi asuransi di Indonesia masih sangat rendah, yakni 2 – 3%. Bahkan, tingkat penetrasi produk asuransi di Indonesia terbilang terendah kedua di kawasan Asia Tenggara setelah Myanmar.

“Apalagi asuransi umum seperti asuransi kendaraan bermotor,” ucap dia.

Data AAUI menunjukan tingkat densitas belanja masyarakat untuk Rp 1,6 juta per tahun. Dari nilai sebesar itu, nilai untuk premi asuransi kendaraan bermotor tak lebih dari 250.000.

Ilustrasi, asuransi mobil – dol.APKPure.com

Pembelanjaan asuransi ini pun, bukan terjadi atas kesadaran atau kemauan sendiri dari masyarakat, melainkan ada “paksaan” dari diler. Pasalnya, premi asuransi tersbut sudah termasuk di harga atau uang muka (DP) kendaraan bermotor yang mereka beli.

“Jadi ini perlu adanya penyadaran agar awareness masyarakat meningkat, dan mereka menyadari bahwa pentingnya asuransi itu ternyata memang benar. Masyarakat kita kurang literasi soal asuransi,” imbuh Dody. (Fer/Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This