Uji Coba B40, Pengusaha Minta Jangan Cuma APM yang Dilibatkan

Uji Coba B40, Pengusaha Minta Jangan Cuma APM yang Dilibatkan
Ilustrasi, armada bus milik PO SAN - dok.PO SAN

Jakarta, Motoris – Para pelaku usaha di bidang jasa transportasi bus dan truk meminta kepada pemerintah agar melibatkan mereka dalam proses uji coba Bahan Bakar Minyak (BBM) Biodiesel 40 (B40) yang dikabarkan akan dilaksanakan Maret nanti. Pasalnya, masukan yang berdasar fakta sebenarnya tentang dampak penggunaan BBM jenis itu justeru berasal dari pengguna bukan penjual kendaraan.

“Jadi kalau APM (Agen Pemegang Merek) kan yang berjualan kendaraan. Barangkali mereka takut atau sungkan kepada pemerintah. APM hanya karena takut kepada pemerintah waton siap thok (asal menyatakan siap saja). Karena penggunaan BBM ini (B40) blunder, sebab bertentangan dengan teknologi yang selalu dielu-elukan pemerintah bahwa tahun 2021 (April 2021) semua kendaraan (diesel) sudah harus berstandar Euro 4,” ungkap Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Kurnia Lesani Adnan kepada Motoris, di Jakarta, Senin (10/2/2020).

Sebagai perantara antara produsen dengan konsumen, lanjut Lesani, APM akan bersikap kompromi ketika ada peraturan atau kebijakan dari pemerintah. Mereka juga akan menyatakan bahwa kendaraan yang bersangkutan tidak akan bermasalah dengan BBM dengan kualifikasi baru itu.

Direktur PO Scorpion Holidays, Firman Fathul Rochman – dok.Pribadi

Direktur Perusahaan Otobus (PO) Scorpion Holidays, Firman Fathul Rochman juga menyatakan senada. “Ajak tuh pelaku usaha yang ada di Organda (Oganisasi Angkutan Darat), IPOMI, asosiasi truk, kalau perlu juga organisasi supir truk. Jadi apa yang dihasilkan nanti benar-benar memperhatikan kepentingan pengguna. Bagaimana pengalaman selama ini menggunakan biosolar kualifikasi yang ada sekarang seperti B30. Jadi masukannya nyata. Bukan berdasar kepentingan penjualan produk kendaraan dan kepentingan kebijakan semata,” kata dia saat dihubungi Motoris, Selasa (11/2/2020).

Pengalaman nyata lebih penting
Firman mengaku selama menggunakan BBM B30 pengusaha angkutan bus harus merogoh kocek lebih dalam. Pasalnya, bus-bus – terutama armada untk reguler – harus lebih sering berganti filter bahan bakar, sebab BBM B30 menghasilkan banyak gel.

Kurnia Lesani Adnan menyebut tak kurang dari Rp 30 juta harus digelontorkan untuk satu unit bus selama setahun untuk penggantian filter dan penambahan zat aditif Add Blue. Biaya itu belum termasuk untuk pembersihan tangki BBM.

Sementara, Wakil Ketua Umum Kyatmaja Lookman meminta agar sebelum benar-benar diputuskan penggunaan BBM B40, sebaiknya dilakukan kajian lebih mendalam. Kajian bukan sekadar apakah BBM ini sudah layak atau belum digunakan, tetapi juga dampak ekonomi yang harus ditanggung penggunanya.

“Karena kan porsi campuran minyak nabati juga semakin tinggi. Kalau yang ada sekarang sudah B30 saja menimbulkan dampak harus ganti filter, ada water separator untuk truk model tahun lama, coating tangki BBM dan sebagainya. Nah, kalau sekarang bertambah seperti apa. Ini saya kira perlu masukan berdasar fakta riil di lapangan, bukan saat uji coba dengan kendaraan baru saja,” papar dia saat dihubungi Motoris, Selasa (11/2/2020).

Kyatmaja Lookman – dok.Pribadi

Pria yang juga Chief Executive Officer Lookman Djaja Group ini menyebut implementasi BBM Biodiesel – terlebih B40 – tidaklah semudah yang dibayangkan dan direncanakan. “Kecuali kalau dibarengi dengan pergantian sarana angkut (penggantian armada truk lama dengan yang baru),” ucap dia.

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) MP Tumanggor usai mengikuti rapat di kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Jakarta, Senin (10/2/2020). “Kami, tadi sudah mendapatkan surat Badan Penelitian Migas. Isinya, kami diminta mengirimkan bahan baku B40 itu untuk diujicobakan. Iya, nanti uji jalan, road test. Rencananya (uji coba) bulan depan (Maret),” kata dia. (Fan/Fer/Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This