Harganya Mahal, CATL Bikin Alternatif Baterai Listrik Tanpa Nikel dan Kobalt

Harganya Mahal, CATL Bikin Alternatif Baterai Listrik Tanpa Nikel dan Kobalt
Ilustrasi, pengecasan baterai mobil listrik - dok.Motoris

Shanghai, Motoris – Produsen baterai listrik terbesar di dunia China’s Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL), mengaku tengah mengembangkan baterai tanpa bahan baku dari nikel dan kobalt. Padahal, kedua mineral tersebut selama ini diketahui sebagai bahan utama pembuatan baterai.

Informasi ini diungkap seorang eksekutif pabrikan asal Ningde, Cina tersebut dan dilansir Reuters, Sabtu (15/8/2020). Selama ini CATL memproduksi baterai nikel-kobalt-aluminium (NCA).

Selain itu, pabrikan yang didirikan Zeng Yuqun pada 16 Desember 2011 itu juga diketahui memasok baterai lithium iron phosphate (LFP) ke Tesla. “Jenis baterai baru yang dikembangkan akan berbeda dari baterai NCA, NCM dan LFP yang ada saat ini. Dan tidak akan memiliki logam mahal seperti nikel atau kobalt,” kata eksekutif CATL, Meng Xiangfeng dalam konferensi industri yang diadakan oleh Asosiasi Produsen Mobil China di Shanghai.

Hanya, Meng tidak merinci berapa biaya pembuatan baterai anyar non nikel dan kobalt tersebut. Dia juga tak menyebutkan secara jelas nama baterai dan bahan yang akan dibuat pabrikannya itu.

Ilustrasi, produksi baterai motor listrik CTAL – dok.China Daily

Tetapi yang pasti, nikel dan kobalt merupakan bahan baku yang mahal harganya, sehingga berpengaruh kepada harga jual mobil listrik yang menggunakannya. Bulan lalu, bos Tesla inc – Elon Musk –mendesak para penambang untuk memproduksi lebih banyak nikel karena saat ini harga baterai masih menjadi rintangan besar bagi pertumbuhan perusahaan.

Selama ini CATL diketahui sebagai pemasok baterai lithium iron phosphate (LFP) ke Tesla. Dia juga menjalin kemitraan dengan Toyota Motor Jepang dan Honda Motor untuk memasok baterai. Bahkan dengan dua pabrikan Jerman, Volkswagen AG dan Daimler AG.

Mahalnya nikel dan kobalt sebagai bahan baku baterai mobil listrik menyebabkan pabrikan lain juga tak menggunakannya. Sebut sebagi contoh perusahaan asal Jepang Panasonic Corporation dan pabrikan asal Korea Selatan LG Chem yang sedikit menggunakan NCA) maupun NCM.

Ilustrasi, kantor LG Chem. Perusahaan ini sejak tahun 2011 lalu tercatat sebagai pabrikan pembuat baterai untuk kendaraan listrik terbesar ketiga di dunia – dok.Istimewa

CATL sudah investasi di RI
CATL sejak pertengahan tahun 2019 lalu telah disebut-sebut masuk ke Indonesia. Kabar itu diungkap Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan. DIa mengaku hasil kunjungannya ke Cina awal Juli 2019 telah membuahkan komitmen investasi baterai lithium di Morowali.

Mantan Menko Polhukam itu mengatakan CATL memimpin kelompok perusahaan otomotif global untuk memproduksi baterai mobil listrik dengan komitmen investasi sebesar US$ 4 miliar di Indonesia. Investasi tersebut bakal dilakukan secara bertahap.”CATL kongsi juga dengan LG, Volkswagen, Mercedes, serta macam-macam perusahaan lain,” kata dia di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (19/7.2019) lalu.

Ilustrasi, kantor pusat CATL di Ningedi, Fujian, Cina – dok.Automotivenews

Proses pembangunan pabrik baterai lithium ini bahkan sudah dilakukan di Morowali. Menurutnya, penanaman modal asing yang sudah masuk sebesar US$ 1 miliar. Mereka berinvestasi di RI, lanjut LUhut, karena nikel dan kobalt yang merupakan bahn baku baterai ion lithium banyak tersedia di Indonesia.

“Walaupun mungkin porsi masing-masing sedikit-sedikit, tetapi mereka masuk karena melihat bahan baterai itu banyak di indonesia,” tandas Luhut. (Fat/Sut/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This