Pengusaha: Sampai Kini, Tingkat Isian Bus dan Angkutan Kota Masih Sepi

Pengusaha: Sampai Kini, Tingkat Isian Bus dan Angkutan Kota Masih Sepi
Ilustrasi, penumpang Bus AKAP di Terminal Poris, Kota Tangerang yang melayani trayek antar kota antar provinsi - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Tingkat isian armada angkutan darat di Tanah Air hingga saat ini masih belum maksimal, karena dampak wabah virus corona terhadap kegiatan masyarakat dan ekonomi masih kuat. Tingkat isian bangku bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) disebut rata-rata hanya 40%, sedangkan angkutan kota (Angkot) rata-rata hanya 60% dari kapasitas maksimal yang ada.

Hal itu diungkap Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Organda Ateng Aryono saat dihubungi di Jakarta, Jumat (4/9/2020). “Untuk sektor transportasi darat masih belum pulih seperti sebelum pandemic Covid-19. Meskipun, penerapan adaptasi pola kebiasaan baru yang dilakukan oleh pemerintah memang telah mendorong adanya pergerakan di sektor transportasi darat ini,” papar dia.

Dari data yang disampaikan para pelaku bisnis jasa angkutan diketahui, untuk bus AKAP rata-rata isian hanya 40% dari kapasitas yang ada. Sedangkan transportasi rute tertentu mencapai 50% dari kapasitas, dan angkutan dalam kota rata-rata 60%.

“Masih adanya kekhawatiran masyarakat untuk bepergian dengan angkutan umum menjadi salah satu faktor. Bahkan, di daerah tertentu yang memberlakukan jam malam juga ikut berpengaruh signifikan ke tingkat isian angkutan dalam kota,” ujar Ateng.

Ilustrasi, armada angkutan kota di wilayah Jabodetabek – dok.Istimewa

Sebelumnya, Ketua Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI), Kurnia Lesani Adnan, juga menyampaikan informasi senada. Karena saat ini, lanjut Lesani, hanya orang yang benar-benar mempunyai keperluan mendesak saja yang bepergian dengan angkutan umum.

Bahkan, sebagian besar malah menggunakan kendaraan pribadi atau carter khusus. “Ya karena ada kekhawatiran untuk menggunakan angkutan umum. Jadi, ini perlu sosialisasi dan kepastian dari lembaga yang memiliki otoritas, pastikan angkutan umum itu juga menerapkan protokol kesehatan sehingga aman. Bukan sebaliknya,” ujar dia saat dihubungi belum lama ini.

Selain itu, faktor daya beli masyarakat yang menurun, sehingga akan berhitung ulang jika bepergian tanpa keperluan atau kepentingan yang benar-benar mendesak. “Ini karena dampak Covid-19 yang benar-benar masih terasa,” kata dia. (Fud/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This