Produksi dan Penjualan Kendaraan Ambles, Pabrikan Ban Ikut Lemes

Produksi dan Penjualan Kendaraan Ambles, Pabrikan Ban Ikut Lemes
Ilustrasi baru Dunlop SP Sport LM705 - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Seiring dengan melorotnya penjualan kendaraan bermotor roda empat maupun roda, produksi ban kendaraan di Indonesia diperkirakan turun hingga 30%. Walhasil, utilisasi kapasitas produksi yang ada di pabrik juga menurun alias lemes.

“Diperkirakan demikian (turun). Penurunan produksi itu dikarenakan penyerapan oleh pabrikan kendaraan (sebagai original equiment manufacturer atau OEM) juga menurun. Kan, kita tahu produksi maupun penjualan kendaraan masih turun sampai September kemarin (Januari – September 2020),” ungkap Ketua Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) Azis Pane, saat dihubungi di Jakarta, Senin (2/11/2020).

Menurut dia, produsen ban di Tanah Air – yang jumlahnya sebanyak 18 pabrikan dari total 19 pabrikan yang ada – sampai dengan September tetap berproduksi. Mereka memproduksi ban berdasar pesanan, sehingga antara produk yang dibuat dengan penyerapan di pasar sebanding.

“Sehingga, kita bisa perkirakan, kalau penjualan dan produksi kendaraan kita turun ya tentunya utilisasi pabrik juga turun. Kira-kira masih di bawah 50%,” jelas Azis.

Ilustrasi tumpukan ban Bridgestone – dok.Pakwheels.com

Tahun lalu, jumlah ban – untuk seluruh jenis kendaraan – mencapai 150,2 juta unit. Utilisasi industri atau pabrikan saat itu mencapai 85% lebih, dengan kapasitas terpasang produksi sebanyak 238,6 juta unit setiap tahun.

Penyerapan pabrikan melempem
Fakta berbicara, produksi dan penjualan kendaraan bermotor pengguna produk ban itu juga menyusut di rentang waktu Januari – September. Data yang dihimpun Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan, meski di September produksi kendaraan bermotor roda empat atau lebih naik, tetapi sepanjang tahun masih ambles.

Data menunjukkan di bulan September produksi mencapai 59.581 unit atau meningkat 101,4% dibanding bulan Agustus, namun secara kumulatif Januari – September masih ambrol. Sebab di sepanjang Januari hingga Agustus jumlah produksi mobil hanya 427.607 unit atau anjlok hingga 48,7% dibanding periode sama tahun lalu.

Ilustrasi, proses produksi ban di PT Multistrada Arah Sarana- dok.Istimewa

Jebloknya penjualan ritel di dalam negeri plus jumlah ekspor yang melorot menjadi penyebab turunnya permintaan ban. Sepanjang sembilan bulan pertama, penjualan mobil ke konsumen (ritel) tercatat hanya 407.396 unit, atau ambrol 46,6% dibanding sembilan bulan pertama tahun 2019 yang sebanyak 762.390 unit.

Sementara, penjualan ke diler (wholesales) selama kurun waktu itu anjlok 50,9%. Secara kumulatif dari Januari hingga September, wholesales yang dibukukan hanya 372.046 unit.

Kinerja ekspor pun setali tiga uang. Selama tiga kuartal (sampai September) ekspor mobil CBU hanya sebanyak 155.258 unit. Padahal di kurun waktu yang sama tahun lalu masih sebanyak 240.446 unit.

Ilustrasi, proses produksi sepeda motor Honda di Indonesia – dok.AHM

Remuknya penjualan juga terjadi segmen kendaraan bermotor roda dua atau sepeda motor. Selama sembilan bulan – seperti terungkap di data internal Grup Astra – total penjualan sepeda motor di Indonesia hanya 2,9 juta unit alias anjlok 42% dibanding periode sama tahun lalu.(Fat/Fer/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This