Biar Penjualan Kendaraan Listrik Ngejoss, DP 0% Saja Tak Cukup

Biar Penjualan Kendaraan Listrik Ngejoss, DP 0% Saja Tak Cukup
Ilustrasi mobil listrik Lexus UX300e- dok.Istimewa

Jakarta, Motoris –Target pemerintah produksi kendaraan listrik di Indonesia pada tahun 2024 nanyi sudah 20% dari total produksi kendaraan secara nasional, perlu dipacu melalui penjualan kendaraan bertenaga dari setrum itu. Untuk itu Bank Indonesia (BI) menetapkan uang muka (down payment/DP) kredit kendaraan jenis ini menjadi 0%.

Namun, menurut Peneliti Senior Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Riyanto, DP 0% saja belumlah cukup. Pasalnya, kata dia, harga kendaraan listrik masih mahal bagi masyarakat.

Sementara, daya beli masyarakat juga masih belum membaik. Oleh karena itu, dia mengusulkan agar kebijakan DP 0% itu juga dilengkapi dengan besaran cicilan atau angsuran kredit yang rendah.

Ilustrasi, Hyundai Kona listrik model 2020 – dok.Autoblog

“Sebenarnya yang ditunggu adalah suku bunga. Karena kalau (besaran) suku bungan masih tinggi dan tenornya (jangka waktu atau masa kredit) yang pendek, itu juga sama saja berat. Jadi (konsumen tetap) menanggung beban besar karena cicilannya sangat berat. Jadi, suku bunga juga harus dibedakan (dengan besaran suku bunga untuk kredit barang lain), sebagai insentif (pembelian kendaraan listrik),” papar Riyanto dalam diskusi Industri Otomotif yang digelar Forwot bersama Forwin secara virtual di Jakarta, Kamis (26/11/2020).

Agar cicilan bisa lebih ringan, Riyanto menyarankan agar tenor dibuat lebih panjang dengan mengacu pada umur baterai (yang saat ini menurut pabrikan) 8 – 10 tahun atau dibuat lebih panjang dari itu. Sebagai pelaksananya bisa bank-bank milik negara (BUMN). “Tetapi tetap ada cost capital-nya, mungkin pemerintah memberikan subsidi juga kepada bank-nya. Kan juga tidak mungkin nol (tanpa subsidi),” ucap dia.

Meski, Riyanto juga tak memungkiri saat ini harga kendaraan listrik masih mahal bagi masyarakat. Dia mengaku, dari hasil kajian dan simulasi yang pernah dilakukan lembaganya, harga ideal untuk Low MPV listrik tujuh kursi penumpang adalah Rp 300 juta – Rp 350 juta.

Ilustrasi,skuter lisrik (Skutrik) buatan anak negeri, Gesits – dok.Motoris

Tetap utamakan prinsip kehati-hatian
Sementara itu, Kepala Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko yang dihubungi di Jakarta, Kamis (26/11/2020) sore mengatakan kebijakan uang muka kedit kendaraan listrik 0% itu untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan pemasyarakatan kendaraan ramah lingkungan.

Selain itu, untuk memaksimalkan fungsi intermediasi atau penyaluran dana pihak ketiga di bank kepada masyarakat, di tengah seretnya perekonomian yang diterjang badai pandemi Covid-19. Kebijakan ini ditetapkan dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) Noomor 22/13/PBI/2020 tentang Perubahan Kedua atas PBI No. 20/8/2018.

“Tetapi, yang perlu digarisbawahi adalah, keputusan penurunan DP kendaraan bermotor ini tetap memperhatikan prinsip prudential (prinsip kehati-hatian). Ini hanya bagi bank-bank yang mempunyai rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) di bawah 5%,” kata dia.

Ilustrasi, Bank Indonesia – dok.Istimewa via Anadolu Agency

Onny juga memastikan bahwa yang dimaksud kendaraan ramah lingkungan yang berhak mendapatkan DP% adalah kendaraan listrik berbasis baterai. “Kendaraan bermotor berwawasan lingkungan yang dimaksud adalah kendaraan bermotor listrik berbasis baterai, sebagaimana dimaksud dalam Perpres Nomor 55 Tahun 2019 tentang percepatan pengembangan kendaraan bermotor listrik,” ucap dia.

Sedangkan soal tenor, lanjut Onny, hal itu tergantung kebijakan teknis dari masing-masing perbankan atau lembaga keuangan lainnya yang menyediakan fasilitas kredit kendaraan. (Sut/Die/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This