Catat, Maret – Mei Tahun Ini Tarif PPnBM Mobil Jadi 0%

Ilustrasi, Nissan Terra saat pertama kali diluncurkan di Indonesia- dok.Motoris


Jakarta, Motoris – Pemerintah berencana melakukan relaksaksi berupa pengenaan tarif sebesar 0% – 50% secara bertahap selama tiga bulanan untuk pembelian kendaraan bermotor (otomotif) sepanjang tahun 2021 ini. Tarif 0% akan diberlakukan selama periode Maret – Mei, kemudian pengurangan tarif hingga 50% berlaku di Juni – Agustus, dan pemangkasan tarif sebesar 25% untuk periode September – November.

Informasi ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam keterangan resmi yang dirilis di Jakarta, Kamis (11/2/2021). Dia menyebut seiring dengan kebijakan relaksasi itu, maka Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 73 Tahun 2019 juga disesuaikan.

“Penyesuaian terhadap tarif PPnBM dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 73 Tahun 2019 ini bertujuan untuk menggairahkan kembali industri otomotif dan meningkatkan investasi di sektor tersebut (otomotif),” kata mantan Menteri Perindustrian itu.

Ilustrasi, sedan listrik Nissan Leaf dihadirkan ke GIIAS 2019 oleh Nissan Indonesia – dok.Motoris

Menurut Airlangga, relaksasi PPnBM dapat meningkatkan daya beli masyarakat dan memberikan jumpstart pada perekonomian. “Dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi saat ini, relaksasi akan dilakukan secara bertahap (dalam periode tiga bulanan),” ucap dia.

Dengan skenario relaksasi PPnBM yang dilakukan secara bertahap maka produksi mobil akan meningkat hingga 81.752 unit. Selain itu, relaksasi ini akan menambah pemasukan negara sebesar Rp1,4 triliun, sehingga terjadi surplus penerimaan sebesar Rp1,62 triliun.

“Pulihnya produksi dan penjualan industri otomotif akan membawa dampak yang luas bagi sektor industri lainnya. Terlebih industri otomotif memiliki keterkaitan dengan industri lainnya terutama industri bahan baku. Sebab, kontribusi industri bahan baku (di industri otomotif) sekitar 59%,” papar Airlangga.

Toyota Kijang Innova versi terbaru – dok.Istimewa

Industri pendukung otomotif ini, lanjut Airlangga, menyumbang ke PDB sebesar Rp700 triliun. Selain itu, industri otomotif merupakan industri padat karya, dimana 1,5 juta orang lebih bekerja di sektor-sektor industri tersebut.

Tapi, yang perlu dicatat, kebijakan itu hanya berlaku untuk mobil baru yang diproduksi di dalam negeri (dengan konten lokal 70%) dan bermesin 1.500 cc ke bawah. Mobil tersebut merupakan mobil berpenggerak 4×2 jenis minibus maupun sedan, tidak termasuk mobil murah ramah lingkungan (LCGC).

Memantik optimisme
Menanggapi kebijakan ini, Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto menyebut pihaknya menyambut gembira, karena selain memberi angina segar juga memantik optimisme.

“Karena sepanjang tahun 2020, dan bahkan hingga kini (2021) persoalan daya beli masih menjadi faktor utama menurunnya penjualan mobil di kita (Indonesia),” kata dia saat dihubungi Motoris, di Jakarta, Kamis (11/2/2021).

Jongkie menyodorkan fakta data penjualan mobil ke konsumen (ritel) sepanjang tahun 2020 lalu yang hanya 578.327 unit atau ambrol 44,7% dibanding tahun 2019.

Mitsubishi Pajero Sport versi reguler- dok.Motoris

Bahkan, di bulan Januari tahun ini, penurunan penjualan ritel (year on year alias dibanding Januari 2019) masih terjadi.

Total penjualan ritel selama Januari 2019 masih sebanyak 87.555 unit. “Sedangkan tahun ini turun signikan. Angka penjualan ritel Januari 2021 masifh belum final, tetapi angkanya hanya di kisaran 53.000-an unit. Faktor utama juga masih daya beli,” imbuh Jongkie. (Sut/Fer/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This