Ini Cara Cina Antisipasi Bahaya Limbah Baterai Mobil Listrik

Para pekerja sebuah perusahaan sedang merakit baterai ken di Huabei Provinsi Ahui-dok.China Daily


Beijing, Motoris – Pemerintah Republik Rakyat Cina (Cina) terus “memompa” minta rakyatnya untuk beralih ke kendaraan bersumber tenaga dari listrik, dengan tujuan mengenyahkan polusi udara dari asap kendaraan dan sekaligus menghapus ketergantungan terhadap bahan bakar minyak.

Namun Negeri Panda itu kini juga dihadapkan pada persoalan baru, yakni limbah baterai yang dampaknya juga tak kalah serius ke lingkungan jika tak dikelola secara rapi.

Seperti dilaporkan China Daily dan The People Daily, Senin (19/7/2021), salah satu cara yang ditempuh pemerintah Cina adalah dengan memangkas harga baterai. Ini diwujudkan dengan cara mendorong pabrikan melakukan daur ulang baterai dengan iming-iming insentif yang menggiurkan jika cara itu dilakukan.

Menurut rencana lima tahun mengembangkan ekonomi sirkular yang dirilis oleh Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional yang dirilis awal bulan ini, Cina akan meningkatkan pembangunan sistem manajemen penelusuran baterai kendaraan energi terbarukan (NEV), baik hybrid, plug-in hybrid, maupun listrik murni atau baterai (BEV).

Ilustrasi, mengecas baterai mobil listrik – dok.Detroit Business

“Rencana itu berfokus pada bagaimana sisa daya baterai digunakan setelah penggunaan utamanya, serta sekaligus memantau bagaimana daur ulang baterai yang lebih efektif,” tulis China Daily mengutip dokumen rencana lima tahunan itu.

Analis industri senior di Gotion High-Tech, Roy Lu, mengatakan sudah waktunya untuk mendaur ulang batch pertama baterai kendaraan elektrifikasi (NEV). Terutama, setelah ledakan awal penjualan di pasar sejak lima hingga tujuh tahun lalu.

“Penjualan kendaraan energi baru terus tumbuh tinggi, sehingga bisa dibayangkan akan menjadi tantangan bagi industri,” kata Lu.

Menurut dia, jika logam berat yang terkandung dalam baterai listrik didaur ulang secara tidak benar, hal itu menimbulkan tantangan berat bagi lingkungan.

Ilustrasi, mobil listrik Xpeng P7 buatan Xpeng Motors yang dipamerkan di hajatan Guangzhou Motor Show 2019 lalu – dok.InsideEVs.com

“Dan itu, tentu saja kontradiksi dengan niatan awal menggunakan NEV yang dikatakan demi menjaga kelstarian lingkungan yang bersih,” kata Lu.

Data Asosiasi Produsen Mobil Cina (CAAM), jumlah NEV di Cina telah meningkat 1 juta unit per tahun selama tiga tahun terakhir.

Bahkan, hingga akhir tahun 2020, lalu total populasi NEV di Cina telah mencapai 4,92 juta unit, dimana 4 juta unit di antaranya merupakan mobil listrik murni (BEV).

Ilustrasi, mobil listrik Wuling Hong Guang Mini menjadi mobil listrik terlaris di Cina Januari 2021-dok.Inside-EVs

Bernilai ekonomi tinggi
CAAM bahkan memprediksi penjualan NEV di tahun ini akan mencapai 2,4 juta unit lebih di tahun ini.

Data dari Pusat Penelitian dan Teknologi Otomotif China menunjukkan total baterai listrik yang dinonaktifkan hingga tahun 2020 telah mencapai sekitar 200.000 metrik ton.

Sebab, masa pakai baterai listrik biasanya sekitar enam hingga delapan tahun. Hingga tahun 2025 nanti, baterai yang non aktif akan mencapai 780.000 ton dan daya baterai yang dibutuhkan untuk didaur ulang akan mencapai 137,4 gigawatt-jam, atau sekitar 110 ton.

Ilustrasi, baterai mobil listrik – dok.CAR Magazine

Namun, jika daur ulang ini digarap serius maka akan memunculkan potensi ekonomi yang besar.

Menurut laporan Everbright Securities, daur ulang baterai terner dan baterai lithium-ion fosfat akan menghasilkan pasar senilai 100 miliar yuan atau sekitar Rp 224,6 triliun (kurs 1 yuan = Rp 2.246,04).

Itulah yang terus digaungkan oleh pemerintah Cina plus memberikan sejumlah insentif bagi industri penggarapnya. Walhasil, tak sedikit perusahaan lama maupun baru yang tergiur untuk terjun ke sektor bisnis daur ulang ini.

Ilustrasi, baterai mobil listrik – dok.Wikipedia

Data Badan Statistik Cina menunjukkan, hingga paruh pertama tahun 2021 ini tak kurang dari 9.435 perusahaan yang bersiap menggarap industri daur ulang baterai ini. Jumlah perusahaan itu 26 kali lipat dari periode yang sama pada tahun 2020. (Ril/Sut/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This