Jauh Dari Target, PLN Ajak Pengusaha Berbisnis Cas Mobil Listrik

FOLLOW IG @MotorisIndonesia, buat grafis otomotif terkini lainnya-PLN Klaim Punya 1.000 Tempat Ngecas Kendaraan Listrik.

JAKARTA, Motoris – Dalam Grand Strategi Energi Nasional, pemerintahan Joko Widodo menargetkan operasional infrastruktur penunjang mobil listrik, yakni Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) sebanyak 527 unit.

Sementara, jumlah tempat cas mobil listrik ini yang tersedia di Indonesia, menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), baru ada 240 titik. Kalau pakai bahasa presentasi, belum sampai setengahnya target itu tercapai atau tepatnya baru  45,5%.

Buat catatan tambahan, angka 240 titik fasilitas berupa nfrastruktur Pengisian Listrik (IPL) juga agak tricky hitungannya. Jadi di dalam angka itu tekandung SPKLU yang bisa dipake umum, sama yang milik pribadi (private charging station), dan Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU) untuk motor listrik swap baterai.

Ilustrasi-peluncuran-aplikasi-Charge.IN-oleh-PLN-dok.Kominfo.Jatim_

Terus, bagaimana cara mendorong agar fasilitas cas mobil listrik ini lebih banyak tersedia di Indonesia, dengan target nasional 31.859 unit pada 2030?

Bob Saril, Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PT PLN, menargetkan akan membangun 67 unit SPKLU baru di Indonesia sampai akhir tahun. Sehingga, akan ada 113 unit, milik PLN only, tempat cas mobil listrik di dalam negeri.

“Kami sudah menyediakan 46 unit SPKLU yang bisa mendukung para pemilik kendaraan listrik. Ini wujud peran aktif kami untuk memberikan kemudahan yang harapannya bisa mendorong pertumbuhan kendaraan listrik lebih masif lagi,” kata Bob.

Seiring upaya  mempercepat kehadiran infrastruktur penunjang mobil listrik ini, maka PLN membuka peluang bisnis cas mobil listrik.

“Bicara potensi, sangat besar sekali untuk pasar Indonesia, mengingat tren atas penjualan mobil listrik saat ini meningkat,” kata Bob dalam keterangan resmi, Kamis (23/9/2021).

Petugas SPKLU Pertamina tengah memilih model mengecas daya baterai mobil listrik – dok.Istimewa

Bagi investor dan pengusaha lokal yang minat punya SPKLU, semacam pemilik SPBU kalau di mobil bensin lah ya, bisa ikutan daftar. Mitra penngusaha wajib mennyediakan fasilitas cas mobil listrik, berupa alat isi daya, lahan atau properti, termasuk menanggung biaya operasional dan pemeliharaan si SPLKU itu tadi.

Sementara, pihak PLN akan menyediakan Surat Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (IUPTL) milik PLN, menyiapkan suplai listrik, dan juga dukungan aplikasi Charge IN dalam pengelolaan SPKLU.

“PLN telah mengembangkan beberapa model bisnis untuk mendukung rencana kerja sama ini supaya lebih atraktif dan efektif untuk mendukung pengembangan ekosistem kendaraan listrik,” ujar Bob.

Diketahui, skema usaha SPKLU untuk pemegang IUPTL penjualan itu berupa Retail Own Self Operated (ROSO), Retail Own Privately Operated (ROPO), Retail, Privately Owned & Operated (RPOO), Retail Lease Self Operated (RLSO), dan Retail Lease, Privately Operated (RLPO).

PLN menjual listrik dengan tarif curah (faktor Q=1,01) sekitar Rp 714 per kWh kepada badan usaha IUPTL. Sementara badan usaha bisa menjual listrik ke konsumen dengan harga maksimal Rp 2.466 per kWh.

CATEGORIES
TAGS
Share This