BI Pangkas Suku Bunga, Ini Dampak ke Sektor Otomotif

BI Pangkas Suku Bunga, Ini Dampak ke Sektor Otomotif
BI Pangkas Suku Bunga, Begini Dampak ke Sektor Otomotif

Jakarta, Motoris – Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI), Kamis (22/8/2019) memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) 25 basis poin ke level 5,50% . Keputusan ini disebut memberi sentimen positif ke berbagai sektor termasuk sektor otomotif, meski tidak serta merta.

“Tentu, ini kabar baik bagi sektor otomotif. Tetapi, kan tidak serta merta. Hari ini turun, besok langsung berdampak, banyak orang beli mobil. Sebab, perlu waktu, biasanya tiga bulan setelah keputusan penurunan itu ditetapkan,” papar Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie Sugiarto, saat dihubungi, Kamis (22/8/2019).

Namun, lanjut Jongkie, juga tergantung kepada lembaga keuangan sebagai lembaga pemberi kredit atau pembiayaan. Sebab, merekalah yang menetapkan tingkat suku bunga pembiayaan atau kredit kepada konsumen.

Dia tak memungkiri, dalam kondisi seperti saat ini – dimana sepanjang Januari hingga Juli hanya 570.331 unit atau susut 13,75% dibanding tahun lalu – memang membutuhkan stimulus tersendiri. Terlebih, sekitar 70% lebih pembelian mobil di Tanah Air dilakukan secara kredit.

Pernyataan senada diungkapkan Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Suwandi Wiratno. Menurut dia, lesunya penjualan mobil juga berdampak ke pertumbuhan pembiayaan dari perusahaan leasing.

Ilustrasi, logo Bank Indonesia – dok.Reuters

Suwandi menyebut hingga akhir semester pertama lalu, pertumbuhan pembiayaan yang digelontorkan perusahaan leasing di sektor otomotif hanya tumbuh 4,8 – 4,9%. Padahal, industri pembiayaan ematok target bisa mencapai hingga 10%.

“Tentu, dengan turunnya suku bunga acuan BI itu memberi angin segar. Tetapi, apakah akan berarti suku bunga pembiayaan juga turun, ini yang akan dibahas. Karena tidak hanya faktor cost of fund (biaya bunga atau biaya kredit) saja yang dipertimbangkan, tetapi juga ada beberapa faktor lain. Jadi, masih butuh waktu untuk menentukan,” papar dia.

Dampak perang dagang
Sebelumnya, analis PT Bahana Sekuritas Anthony Yunus, menyebut langkah BI yang akan memangkas suku bunga acuan tak akan serta merta mendongkrak penjualan mobil. Pasalnya, masih ada faktor lain yang juga menjadi persoalan serius dan perlu dicari solusinya dengan segera yakni kemampuan daya beli masyarakat.

Kemampuan masyarakat semakin terbatas karena nilai tukar rupiah yang melemah. Semakin tidak berdaya nilai tukar terjadi karena terdampak perang dagang antara Amerika Serikat dengan Cina.

“Kemampuan atau daya beli masyarakat yang semakin terbatas akibat faktor internal dan eksternal menjadi penyebabnya. Faktor dari luar itu antara lain penurunan harga komoditas, perang dagang antara Amerika Serikat dengan Cina yang berlanjut pada perang mata uang (currency war),” paparnya dalam keterangan resmi, Senin (19/8/2019).

Ilustrasi, Mitsubishi Pajero Sport di GIIAS 2019 – dok.Motoris

Bahana memperkirakan volume penjualan kendaraan roda empat akan mencapai 1,082 juta unit hingga akhir tahun ini. Jumlah itu susut 6% dibanding penjualan tahun 2018 lalu. (Fan/Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This