Pelonggaran Cicilan Kredit Karena Corona, Ini Kata Leasing

Pelonggaran Cicilan Kredit Karena Corona, Ini Kata Leasing
Ilustrasi, kredit mobil - dok.Kengarff.com

Jakarta, Motoris – Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) yang merupakan asosiasi tunggal perusahaan leasing di Indonesia merespon secara positif kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berupa stimulus relaksasi atau pelonggaran pembayaran kredit ke leasing oleh nasabah. Kebijakan ini dimaksudkan untuk meringankan beban kredit akibat dampak wabah virus corona, sekaligus mencegah dampak ekonomi yang lebih luas.

Ketua Umum APPI, Suwandi Wiratno, mengatakan kebijakan tersebut cukup realistis karena dalam kondisi seperti sekarang – dimana dampak wabah virus corona telah merasuk ke perekonomian nasional – banyak debitur atau nasabah leasing yang mengalami penyusutan pendapatan.

“Terutama debitur yang menjadikan kendaraan mereka sebagai sarana atau penunjang kegiatan usaha (baik perusahaan maupun perorangan). Dari laporan-laporan dan permohonan yang disampaikan disebutkan terjadi penurunan omset usaha, sehingga pendapatan mereka juga menurun. Yang lainnya (individu) juga menyatakan ada kondisi yang memberatkan,” papar dia saat dihubungi Motoris di Jakarta, Senin (23/3/2020).

Menurut dia, pelonggaran tersebut bisa dilakukan dengan cara merestrukrisasi kredit yakni para nasabah hanya diminta untuk membayar cicilan bunganya saja atau hanya membayar cicilan pokok utang. Atau, lanjut dia, dilakukan penjadwalan ulang dari skema kredit baik tenor maupun besaran angsuran.

Ilustrasi, mobil kreditan ditarik leasing – dok.Istimewa

Tetapi, lanjut dia, hal itu diserahkan kepada masing-masing perusahaan leasing untuk menyeleksi dan melihat profil usaha dari nasabahnya. Mereka bisa memanggil nasabah dan melihat pembukuan mereka atau – bagi nasabah perorangan – melihat arus kas di rekening atau buku tabungannya.

“Jadi, memang harus dilihat dengan cermat. Sehingga, diharapkan tidak ada free rider (penumpang) gelap yang memanfaatkan kebijakan ini, dengan berdalih karena kondisi yang ada (wabah corona). Tetap harus prudent (hati-hati dan selektif),” terang Suwandi.

Selain itu, Suwandi juga meminta agar OJK juga menegaskan kepada bank – yang merupakan pemberi modal pendanaan kepada leasing – juga menerapkan restruktirisasi kredit kepada leasing. Sebab, lanjut dia, peran penyaluran kredit pada leasing ada dua, pertama chanelling yakni kami hanya sebagai agen penyalur dana pinjaman dari bank kepada debitur, dan dana piutang (yang digunakan nasabah) itu menjadi portofolio langsung bank.

Suasana transaksi pengunjung pemesan mobil dengan staf lembaga leasing di IIMS 2019 – dok.Motoris

Kedua executing (sebagai pembuat kebijakan sekaligus penyaluran secara otonom) kredit. “Sehingga restrukturisasi itu juga harus dilakukan bank untuk leasing. Sebab, 80% dana permodalan leasing itu dari bank, sisanya dari lainnya (penerbitan obligasi dan lainnya). Tetapi, pada prinsipnya, kita merespon positif kebijakan OJK itu sehingga bisa mencegah NPL (Non Performing Loan atau kredit macet),” jelas Suwandi.

Sudah diterbitkan
Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana yang dihubungi Motoris, Senin (23/3/2020) menegaskan, OJK telah mengizinkan bank untuk melakukan restrukturiasi kredit bagi nasabahnya yang terkena dampak wabah virus corona.

“Ini untuk berbagai debitur dengan sektor usaha. Tetapi, teknisnya seperti apa restrukturisasi itu diserahkan kepada masing-masing bank, termasuk dalam melihat atau mengindentifikasi profil debitur yang mengajukan permohonan. Prinsip prudent (kehati-hatian) tetap harus ditegakan,” papar dia.

Ilustrasi, kegiatan transaksi pembelian mobil di Business Center Suzuki di GIIAS 2019 – dok.Istimewa

Stimulus berupa restrukturisasi kredit itu, lanjut Heru, tertuang dalam Peraturan OJK No.11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease. Aturan ini sudah terbit 19 Maret lalu.

“Ini sudah berlaku 13 Maret sampai dengan 31 Maret 2021. Perbankan diharapkan proaktif, termasuk mengidentifikasi para debitur (sektor usaha) yang terkena dampak Covid-19,” ucap Heru. (Sut/Fat/Ara)

 

 

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS