Leasing Perketat Pembiayaan, Industri Otomotif Berharap “Jalan Tengah”

Leasing Perketat Pembiayaan, Industri Otomotif Berharap “Jalan Tengah”
Ilustrasi, Toyota New Agya atau Toyota Agya versi baru resmi diluncurkan secara virtual pada Kamis, 19 Maret 2020 - dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Mengantisipasi potensi risiko yang menyertai dampak wabah virus corona terhadap perekonomian nasional maupun masyarakat, perusahaan pembiayaan (leasing) – terutama untuk pembiayaan sektor konsumtif termasuk untuk pembelian produk otomotif – semakin selektif. Pembiayaan diperketat dengan menerapkan uang muka yang jauh lebih tinggi dari yang dipatok dalam kondisi normal, bahkan hingga 40%.

Informasi itu tak ditampik oleh Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno. Meski tak menyebut jumlah perusahaan pembiayaan yang memperketat penyaluran pembiayaan, namun dia mengakui langkah seperti itu tak melanggar ketentuan atau peraturan yang ada.

“Justeru sebenarnya, kalau perusahaan pembiayaan (leasing) menerapkan kebijakan seperti itu, sebenarnya menerapkan prinsip prudential (kehati-kehatian). Karena di tengah potensi risiko yang tinggi untuk default (gagal bayar) debitur (nasabah kredit), maka mitigasi risiko itu penting. Sebab kalau terjadi NPF (Non Performing Fund atau kredit macet, atau biasa disebut Non Performing Loan/NPL) dengan tinggi yang tinggi, maka bukan hanya predikat lembaga saja yang turun, tetapi juga kinerja keuangan yang turun. Apalagi, 80% modal perusahaan pembiayaan itu berasal dari bank (dari kredit modal yang bersuber dari bank), sisanya lainnya (penerbitan obligasi dan lainnya), jadi mereka musti berhati-hati,” papar dia saat dihubungi Motoris di Jakarta, belum lama ini.

Ilustrasi, peluncuran New Daihatsu Sirion – dok.Istimewa

Sebelumnya, dalam video conference, Corporate Secretary and Legal Compliance Division Head Mandiri Tunas Finance (MTF) Arif Reza Fahlepi dengan terus terang mengatakan perusahaanya menerapkan syarat ketat dalam penyaluran pembiayaan baru. Selain melihat profil calon nasabah, juga dengan menetapkan down payment (DP) atau uang muka hingga 40%.

“Kalaupun kita buka (pembiayaan baru), syaratnya jadi lebih berat. Kalau biaasanya cukup dengan DP 20%, sekarang sepertinya naik. Sejauh ini, MTF memberlakukan kebijakan DP 40%, belum sampai angka 50% untuk new customers,” ujar dia belum lama ini.

Arif menegaskan, cara itu ditempuh dengan dasar pertimbangan faktor potensi risiko di tengah merebaknya wabah virus corona (Covid-19) serta dampaknya terhadap perekonomian masyarakat sehingga untuk penyaluran pembiayaan juga perlu mitigasi (tindakan mengurangi meluasnya akibat sebuah kondisi buruk yang terjadi). “Nanti, setelah recovery (kondisi pulih), Kita bisa kembali ke kebijakan awal. Untuk mengejar target yang sempat hilang,” ungkap dia.

Ilustrasi, Pikap Suzuki Carry. Salah satu produk yang diproduksi di dalam negeri – dok.Motoris

Jalan tengah
Menyikapi strategi leasing yang memperketat penyaluran pembiayaan, kalangan industri otomotif berharap mereka juga memikirkan dampak yang yang terjadi terhadap pasar. Sebab, jika, pasar otomotif sepanjang tahun ini “macet” karena di kalangan calon konsumen sudah terbentuk persepsi tidak ingin menggunakan jasa leasing, maka di tahun-tahun berikutnya juga akan terdampak.

“Karena bisa dikatakan 70% lebih pembelian kendaraan bermotor roda empat (atau lebih) di Indonesia itu menggunakan cara kredit. Sedangkan, persepsi masyarakat itu sangat dipengaruhi kejadian hari ini. Oleh karena itu, dalam kondisi seperti sekarang, bisa saja dilakukan cara-cara yang ketat karena itu bagin dari prinsip kehati-hatian agar kredit tidak macet, tetapi mungkin bisa dengan cara lain. Misalnya, tenor (jangka waktu) diperpanjang atau lainnya. Berkoordinasi dengan APM (Agen Pemegang Merek) saya kira lebih bagus,” papar Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie Sugiarto, saat dihubungi Motoris di Jakarta, Jumat (10/4/2020).

Pernyataan hampir senada diungkapkan Marketing Director PT Toyota Astra Motor (TAM) Anton Jimmi Suwandy. Dia menyatakan pandangannya – sebagai pribadi – sitausi dan kondisi saaat ini memang konpleks, dimana ada Covid-19 dan dampaknya terhadap ekonomi nasional dan masyarakat.

Ilustrasi, truk terbaru Hino Ranger FG 235 JU – dok.Istimewa

“Tetapi pandangan saya, kita harus perhatian dan care terhadap konsuen yang saat ini juga mengalami kesulitan. Justeru di saat seperti ini, kita harus berpikir bagaimana mereka juga terbantu tetapi kinerja perusahaan juga tidak terganggu.Saya mengerti ada resiko yang muncul bagi rekan-rekan leasing. Nah, di sinilah menariknya, bagaimana leasing bisa balancing (menteimbangkan kepentingan) hal ini,” kata Anton kepada Motoris melalui aplikasi pesan elektronik, di Jakarta, Senin (13/4/2020).

Pernyataan Anton diamini Sales & Promotion PT Hino Motor Sales Indonesia (HMSI) Santiko Wardoyo. “Saat ini memang ujian bagi perusahaan bagaimana menyiasati kondisi yang memang di luar kendai kita, karena ini kan wabah ya. Apalagi, leasing itu partner bagi APM, dan sevaliknya. Oleh karena itu, bagiamana kita sama-sama me-maintain (merawat) kondisi pasar itu penting. Tetapi, memang harus berprinsip ke prudent itu perlu. Saya kira, perusahaan mana pun yang jadi customer, juga tidak ingin kondisinya terpuruk terus. Kita sama-sama cari jalan tengah lah,” papar dia saat dihubungi Motoris, di Jakarta, Senin (13/4/2020). (Fan/Fer/Ara).

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS