Sudah 583.000 Kredit Mobil Minta Direstrukrisasi, Tak Langsung Dikabulkan

Sudah 583.000 Kredit Mobil Minta Direstrukrisasi, Tak Langsung Dikabulkan
Ilustrasi mobil di diler - dok.Viking Bond Service

Jakarta, Motoris – Sejak terbitnya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 11 Tahun 2020 tentang restrukturisasi kredit, sudah 583.000 konsumen pengredit mobil yang mengajukan permohonan keringanan itu. Semua permohonan langsung dikabulkan tetapi melalui verifikasi ketat, dan hasilnya dari jumlah itu, baru 203.000 permohonan yang disetujui.

“Sedangkan kurang lebih 350.000 kontrak kredit yang mengajukan permohanan relaksasi masih dalam proses,” tutur Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Suwandi Wiratno, daam video coference di Jakarta, Selasa (28/4/2020).

Hanya, lanjut Suwandi, saat ini masih banyak yang salah persepsi terhadap pengertian dan konsep restrukturisasi kredit. Tak sedikit dari nasabah kredit – baik dari bank maupun perusahaan pembiayaan non bank (leasing) – yang beranggapan bahwa restrukturisasi kredit adalah tidak membayar sama sekali cicilan pokok maupun bunga hingga satu tahun.

Selain itu, banyak pula yang tak memahami syarat-syarat untuk mendapatkan relaksasi kredit berupa restrukturisasi kredit sebagaimana ditetapkan oleh pemerintah melalui OJK. Masyarakat beranggapan semua kredit yang selama masa pandemi virus corona bisa di-restrukturisasi.

Ilustrasi kredit mobil – dok.BadCredit.org

“Padahal kan ada ketentuan dan syaratnya, antara lain sektor usaha UKM, pekerja informal, nelayan yang usahanya terdampak langsung oleh Covid-19 (wabah virus corona). Kemudian juga mispersepsi terhadap arti restrukturisasi yang diartikan libur membayar angsuran dan pokok. Padahal, kan itu artinya nasabah diseleksi berdasar kemampuannya. Kondisinya seperti apa, lalu ditetapkan apakah tenornya diperpanjang sehingga angsurannya lebih ringan, dan sebagainya,” ungkap Suwandi.

Jika kredit nasabah direstrukturisasi dengan tidak membayar sama sekali angsuran  baik pokok maupun bunga, maka lembaga pembiayaan – khususnya leasing – akan keteteran dan mengalami kredit macet. Pasalnya, sebut Suwandi, modal leasing sekitar 80%-nya berasal dari pinjaman bank.

Sedangkan, bank juga akan terus menagih kepada leasing atas pinjaman modal yang diberikannya. Oleh karena itu, dalam restrukrisasi kredit ini, 183 perusahaan pembiayaan terus melakukan pemantauan terhadap nasabahnya yang megajukan permohanan relaksasi tersebut.

Ilustrasi, mobil di area diler – dok.TechBooky

Masalah lain yang disalahmengerti masyarakat adalah waktu restrukturisasi. Banyak yang menganggap bahwa keringanan harus diberikan selama satu tahun. Padahal, waktu satu tahun itu merupakan batas maksimalnya, dan praktiknya bisa kurang dari itu tergantung keadaan nasabah.

“Enam bulan, tiga bulan, dan bisa maksimal satu tahun, tergantung kemampuan atau kondisi debitur (nasabah). Jadi ini perlu dijelaskan oleh OJK dan sebagainya agar tidak salah persepsi di masyarakat,” imbuh Suwandi saat dihubungi. (Sut/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This