Kendaraan CNG Dinilai Layak Bebas Aturan Ganjil Genap

Kendaraan CNG Dinilai Layak Bebas Aturan Ganjil Genap
Ilustrasi, stasiun pengisian bahan bakar CNG - dok.AFP

Jakarta, Motoris – Asosiasi Perusahaan Compressed Natural Gas Indonesia (APCNG) meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memberi perlakuan yang sama – dengan kendaraan listrik, hybrid, dan plug-in hybrid – ke kendaraan berbahan bakar gas (CNG) dalam kebijakan kendaraan ganjil-genap. Permintaan seperti itu dinilai wajar karena memang layak.

Seperti diungkapkan Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPPB), Ahmad Safruddin, kendaraan berbahan bakar gas memang memiliki tingkat emisi yang ramah lingkungan. “Sehingga, kami setuju (kendaraan berbahan bakar CNG beas dari aturan ganjil-genap). Karena memang aturan (ganjil-genap seperti yang diungkapkan Gubernur DKI Jakarta), itu (dikecualikan) untuk kendaraan yang ramah lingkungan kan?,” kata pria yang akrab disapa Puput itu, saat dihubungi Motoris, Rabu (14/8/2019).

CNG dibuat dengan melakukan kompresi metana (CH4) yang diekstrak dari gas alam. Bahan bakar gas yang terkompresi ini terdiri dari metana 80%, etana 7%, propana 6%, butana 4%, isobotana, pentana dan juga mengandung helium, nitrogen, karbon dioksida, dan karbon-karbon lainnya.

Ilustrasi penerapan kebijakan pelat nomor ganjil genap – dok.Poskotanews.com

“Gas alam lebih ringan dari udara. Emisi gas buangnya mendekati EV (Electric Vehicle/mobil listrik). Dabiang kendaraan BBM, emisi pencemaran udaranya hanya tersisa sekitar 10%,” ucap Puput.

Sebelumnya, Ketua APCNG Robbi R Sukardi, menyebut permintaan itu merujuk pada kebijakan yang diberikan untuk kendaraan berbasis listrik. “Karena kendaraan berbasis gas juga terbukti ramah lingkungan, efisien dan bahkan bukan energi impor, sehingga membantu pemerintah dalam mengurangi subsidi impor BBM,” papar dia dalam keterangan tertulis, Selasa (13/8/2019).

Menurut dia, saat ini di Jakarta juga sudah banyak kedaraan yang menggunakan gas bumi sebagai bahan bakar. Diantaranya, armada bus milik Transjakarta, taksi, dan bajaj.

“Sehingga, sudah seharusnya pemerintah memiliki komitmen yang sama untuk mendukung perluasan pemanfaatan gas bagi sektor transportasi,” kata Robbi.

SPBG Cempaka Mas Jakpro – dok.Motoris

Di Jakarta dan sekitarnya, lanjut dia, hingga saat ini sudah 23 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas. Tak urang dari 11.000-an kendaraan yang telah menggunakan gas bumi untuk memenuhi kebutuhan sumber energi. (Fan/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This