Grab dan Gojek Disebut Bakal Merger, KPPU Terus Memantau

Grab dan Gojek Disebut Bakal Merger, KPPU Terus Memantau
Pengemudi ojek online Grab dan Gojek bersama-sama menunggu order dari calon penumpang - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Dua perusahaan aplikator ride hailing Asia Tenggara yakni Grab (Singapura) dan Gojek (Indonesia) santer dikabarkan segera melakukan merger alias bergabung menjadi satu dengan menggunakan salah satu nama dari mereka. Menyikapi kabar tersebut, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) terus memonitor perkembangan itu.

Seperti diungkapkan salah seorang komisioner KPPU, Guntur Syahputra Saragih, jika memang benar kedua decacorn tersebut melakukan upaya-upaya untuk merger, semestinya melaporkan aksi merger itu ke komisi tersebut.

“Kami terus memantau. Karena semestinya melaporkan rencana aksi mereka untuk merger ke KPPU. Kalau dilihat, dari persaingan, pasar semakin terkonsentrasi. Jika ada dua pelaku usaha menguasai pangsa pasar yang dominan, tentunya berpotensi ditolak oleh KPPU, karena sudah masuk dalam kategori monopoli,” papar Guntur saat dihubungi Motoris di Jakarta, Rabu (11/3/2020).

Ilustrasi, pengemudi ojek online Gojek – dok.Motoris

Dia menyebut, larangan tersebut telah secara tegas disebutkan pasal 28 Undang-undang (UU) Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli Dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. “Di pasal ini sudah secara jelas dinyatakan, bahwa pelaku usaha dilarang melakukan penggabungan atau peleburan badan usaha yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat,” papar Guntur.

Untuk menilai tingkat konsentrasi usaha keduanya dalam merger sehingga masih dalam kategori monopoli, KPPU menggunakan acuan Herfindahl-Hirschman Index (HHI). Indeks tersebut akan dilihat dari nilai atau valuasi perusahaan hasil merger tersebut.

Seperti dilaporkan Financial Times, Selasa (10/3/2020), Grab dan Gojek tengah melakukan pembicaraan untuk melakukan merger. Mengutip sumber di salah satu investor Grab, media tersebut menyebut langkah merger itu dalam rangka untuk memperkuat keduanya di pasar Indonesia yang merupakan pasar terbesar di Asia Tenggara dan memiliki jumlah populasi terbesar keempat di dunia.

Ilustrasi, ojek online Grab di Jakarta – dok.Motoris

“Pihak yang berperan dalam upaya ini (merger) ini lebih tinggi dari sekadar apa yang diinginkan Grab atau Gojek, atau memang tidak diinginkan. Ini merupakan cara sejumlah pemegang saham berpengaruh jangka panjang di kedua perusahaan yang ingin membendung kerugian atau menemukan cara untuk keluar dari investasi mereka,” ungkap investor tersebut.

Masih menurut Financial Times, pendiri SoftBank Masayoshi Son belum lama ini bertandang ke Jakarta. Salah satu agendanya adalah melakuka pembicaraan soal rencana merger itu. SoftBank disebut-sebut tengah melobi untuk merealisasikan rencana itu.

Ilustrasi, Softbank – dok.Istimewa

Seperti diketahui, Softbank merupakan salah satu penyandang dana terbesar Grab, selain Microsoft. Sedangkan penyandang dana terbesar Gojek adalah Google dan Tencent.

Softbank memang mendukung Grab untuk terus berkembang di Indonesia. Salah satunya, membangun kantor pusat Grab di Tanah Air. “Kami akan membangun kantor pusat kedua Grab di Indonesia dan menjadikannya unicorn kelima, dan juga menginvestasikan US$ 2 miliar melalui Grab,” kata dia usai bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Presiden, Jakarta, 29 Juli 2019 lalu. (Fat/Mus/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This