Banderol Minyak Dunia Ambrol, Harga BBM Diminta Turun

Banderol Minyak Dunia Ambrol, Harga BBM Diminta Turun
Ilustrasi, petugas SPBU Pertamina tengah mengisi BBM jenis Pertamax - dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Harga minyak dunia saat ini berada di level terendah sejak tahun 2003 setelah permintaan pasar dunia anjlok gegara wabah virus corona, sementara jumlah produksi berlebihan. Data yang dilansir Bloomberg menunjukan saat ini telah ambrol kejeblos hingga 63,02% sejak awal tahun, dan kini bertengger di bawah US$ 30 per barel.

Pengamat ekonomi energi Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Fahmy Radhi menyarankan PT Pertamina agar segera mengerek turun harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Menurut dia, di tengah kelesuan ekonomi dan daya beli masyarakat yang tersengat dampak wabah virus corona (Covid-19), penurunan harga BBM bakal berdampak besar dalam “memompa” daya beli masyarakat.

“Kalau daya beli naik, maka konsumsi masyarakat akan naik. Dengan naiknya konsumsi, maka roda ekonomi juga akan tertarik sehingga berputar. Harga minyak dunia sudah di bawah US$ 30 per barel. Itu bahkan sudah cukup lama terjadi, jadi sekarang ada kesempatan bagi pemerintah dan Pertamina untuk menurunkan harga BBM, khususnya untuk BBM non subsidi” ujar dia saat dihubungi Motoris, Senin (23/3/2020).

PT Pertamina (Persero) melalui Vice President Corporate Communicationm Fajriyah Usman menyatakan, pada prinsipnya Pertamina sebagai operator akan menyesuaikan dengan peraturan pemerintah. Sebab, harga BBM yang dipasarkan Pertamina mengacu pada ketentuan dari Kementrian Energi dan Sumber dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Ilustrasi, antrean sepeda motor untuk mengisi BBM di SPBU Pertamina – dok.Motoris

Ikuti peraturan
Fajriyah mengatakan, penghitungan besaran harga jual BBM Non Subsidi dan Non Penugasan ditetapkan Pertamina secara periodik bulanan dengan mempertimbangkan beberapa hal. Salah satunya perkembangan harga minyak dan harga BBM di pasaran.

“Pertamina akan mengacu pada kebijakan dan ketentuan Kementerian ESDM dalam hal penyesuaian harga BBM Non Subsidi. Sedangkan harga BBM subsidi atau penugasan adalah kewenangan Pemerintah untuk penetapan harga jualnya,” papar Fajriyah, dalam keterangan tertulis, di Jakarta, Senin (23/3/2020).

Apabila nanti ada perubahan peraturan atau kebijakan, Pertamina akan mematuhinya. Penentuan harga BBM, lanjut dia, memperhitungkan beberapa faktor, antara lain harga minyak dunia, nilai tukar rupiah terhadap dolar, inflasi, dan lain lain.

Ilustrasi, SPBU – dok.Istimewa

Terlebih, kata dia, Pertamina sudah menurunkan harga BBM non-subsidi pada Februari lalu. Sedangkan harga kategori itu, yang berlaku saat ini dinilai masih kompetitif.”Pertamina terus memantau pergerakan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar sebagai faktor utama yang menentukan harga BBM,” imbuh Fajriyah.

Seperti dilansir Bloomberg, Senin (23/3/2020), dalam sesi perdagangan perdana di bursa NYMEX, New York, Amerika Serikat, pada perdagangan Senin (23/3/2020) hingga pukul 14.35 WIB, harga minyak jenis WTI untuk kontrak April 2020 menguat 1,33% atau 0,3 poin ke level US$22,94 per barel.

Namun, level harga itu masih jauh di bawah US$ 30 per barel. Sedangkan, harga minyak jenis Brent di bursa ICE untuk kontrak Mei 2020 malah ambles 2,48% menjadi US$26,31 per barel. Besaran harga yang juga jauh di bawah US$ 30 per barel. (Sut/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This