Cerita Nestapa Perusahaan dan Awak Angkutan Akibat Corona

Cerita Nestapa Perusahaan dan Awak Angkutan Akibat Corona
Ilustrasi bus Pariwisata yang saat ini dikandakan di pool karena sudah tak beroperasi menyusul wabah virus corona - dok,Istimewa

Jakarta. Motoris – Kondisi perusahaan angkutan darat terutama yang melayani penumpang di oda angkutan umum dalam kota dalam provinsi, antar kota dalam provinsi, maupun antar kota antar provinsi sejak wabah virus corona (Covid-19) mendera Indonesia dari hari ke hari semakin sulit. Pasalnya, mobilitas masyarakat yang semakin berkurang – terlebih diikuti kebijakan physical distancing/social distancing – membuat tingkat isian kendaraan angutan terus merosot.

Seperti diungkap Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Organisasi Angkutan Darat (Organda) Adrianto Djokosoetono, kondisi bagi awak angkutan maupun perusahaan semakin sulit ketika daerah-daerah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan karantina wilayah.

“(Kondisi) ini akan semakin parah apabila pemerintah tidak memberikan insentif usai melarang masyarakat untuk mudik. Kondisi usaha angkutan penumpang saat ini sudah sangat terpuruk,” kata dia dalam diskusi “Mengantisipasi Mudik Lebaran Saat Pandemi” melalui teleconference, di Jakarta, Rabu (22/4/2020).

Ilustrasi bus di terminal – dok.Sindonews.com

Menurut dia, daya tahan perusahaan angkutan saat ini hanya sekitar satu hingga dua bulan lagi. Jika angkutan darat – terutama angkutan bus – benar-benar berhenti tanpa adanya restrukturisasi dari kreditur yang direalisasikan secara menyeluruh, maka kondisi akan semakin sulit.

“Angkutan umum sudah sangat terpuruk, karena tidak bisa beroperasi dengan normal di tengah pandemi virus corona. Saat ini kemampuan cashflow perusahaan bus hanya kuat sampai satu sampai dua bulan saja,” ujar dia.

Pendapatan sudah nyaris nol
Pernyataan ini diamini kalangan pelaku usaha angkutan bus. Menurut mereka, sejak awal maret hingga pekan ketiga April ini, tingkat isian bus dalam setiap perjalanan tinggal 10%.

“Sedangkan bus pariwisata sudah 0%, dan PO (perusahaan otobus) yang menjadi operatornya sudah menghentikan 100% operasi. Apalagi, sekarang dengan aturan baru yang melarang mudik, tentunya semua angkutan penumpang termasuk bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) akan berhenti. Lalau, bagaimana kami bisa membayaw kewajiban kredit kami kalau pedapatan tidak ada? Permohonan kami untuk mendapatkan restrukrisasi kredit kepada bank maupun lembaga pembiayaan sesuai kondisi riil kami sampai saat ini belum bisa mereka realisasi. Peraturan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) Nomor 11/2020 mandul di lapangan,” papar dia saat dihubungi Motoris, di Jakarta, Rabu (22/4/2020).

Direktur PO Scorpion Holidays, Firman Fathkul Rochman ikut melayani wisatawan yang menggunakan bus perusahaanya beberapa waktu lalu sebelum wabah corona mendera Indonesia  – dok.Motoris

Direktur PO Scorpion Holidays – perusahaan angkutan bus pariwisata – Firman Fathkul Rochman mengaku kondisi perusahaannya saat ini semakin terjepit. Pasalnya, dalam kondisi yang sudah tidak beroperasi namun beberbagai kewajiban harus tetap dipenuhi.

“Karyawan di bagian manajemen maupun sebagai di lapangan yang merupakan karyawan tetap kan harus tetap kita gaji. Apalagi, ini menjelang Idul Fitri, ya kita harus pintar-pintar membagi untuk kita yang masih ada lah. Jadi, kalau tidak ada relaksasi kredit yang sesuai dengan kondisi nyata yang kami alami, ya kami akan sangat jauh lebih sulit,” ungkap dia saat dihubungi Motoris, dari Jakarta, Rabu (22/4/2020).

Nestapa angkutan kota
Kondisi yang sulit sejatinya juga dialami para pelaku usaha dan awak angkutan kota. Meski saban hari masih diperbolehkan beroperasi – dari pukup 06.00 hingga 18.00 WIB terkait PSBB – namun nyatanya kondisi tak lebih bagus.

Maklum, sebeum PSBB diberlakukan – khususnya di wilayah Jakarta – sebagian besar instnasi pemerintah maupun swasta telah memberlakukan kebijakan Work From Home (WFH). Alhasil, penumpang angkutan kota – yang sebagian besar adalah pegawai atau karyawan – tiba-tiba lenyap.

“Jadi sebelum PSBB, itu tingkat isian sudah turun sekitar 70-80%. Kemudian, PSBB berlaku kita jam operai dibatasi dan kapasitas angkut juga dibatasi hanya 50% dari kapasitas. Orang sudah jarang pergi-pergi kalau tidak ada urusan mendesak. Sopir angkot banyak yang nganggur di terminal. Mereka bengong menunggu penumpang yang tidak datang-datang, sementara petugas timer memintanya segera berangkat karena harus bergiliran dengan sopir lain,” papar Ketua DPC Organda DKI Jakarta, Shafruhan Sinungan, saat dihubungi Motoris di Jakarta, belum lama ini.

Ilustrasi, angkutan kota Mikrolet di Terminal Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur – dok.Kompas.com

Karena jumlah penumpang yang merosot jauh dari biasanya, pendapatan pun juga anjlok. Sementara, para pengemudi itu juga harus mengisi bahan bakar kendaraannya.

Alhasil, pendapatan yang dibawa oleh sopir ke rumah pun sangat minim atau bahkan dengan tangan hampa. Tak sedikit di antara mereka yang terpaksa harus ngutang untuk membeli bahan bakar.

“Karena itu, kami sangat berharap relaksasi kredit ke pelaku usaha juga bisa diberikan secara maksimal. Dan kepada pemerintah DKI Jakarta, bebaskan pajak kendaraan anggota kami yang sudah terjepit kondisi sulit ini. Kami mendukung kebijakan pemerintah sepenuh hati,” papar Shafruhan. (Chr/Ara)

Ilustrasi, pengisian BBG Bajaj di kawasan Monas, Jakarta Pusat – dok.Kompas.com

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS