Kapasitas Angkut Bus Jadi 70%, Pengusaha: Saat Ini Isian Masih Minim

Kapasitas Angkut Bus Jadi 70%, Pengusaha: Saat Ini Isian Masih Minim
Ilustrasi, bus milik PO Harapan Jaya - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan menambah batas angkut penumpang bus di masa transisi menuju era kenormalan baru (new normal) di tengah Covid-19 dari 50% menjadi 70% mulai 1 Juli nanti. Dengan kapasitas angkut hingga 70% tersebut disebut tak perlu lagi ada kenaikkan harga tiket.

Hal itu diungkapkan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Budi Setiyadi, di Jakarta, Jumat (26/6/2020). “Kita naikkan kapasitas angkut bus jadi 70% mulai 1 Juli nanti. Kalau sudah 70% kan sudah BEP (Break Event Point) operasi, harga normal sudah masuk angka keekonomian. Jadi tidak perlu menaikkan harga tiket,” papar dia.

Menurutnya, kebijakan penaikkan kapasitas angkut bus itu sesuai dengan Surat Edaran Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub Nomor: SE 11 Tahun 2020. Beleid itu merupakan Pedoman dan Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Transportasi Darat pada Masa Adaptasi Kebiasaan Baru untuk Mencegah Penyebaran Corona Virus Disease 2019.

Meski begitu, mantan Widya Iswara di Korlantas Polri ini mengakui minat masyarakat untuk menggunakan bus masih menjadi tanya tanya. Hal itu, kata dia, terkait dengan tingkat keterisian bus oleh penumpang.

Ilustrasi, bus milik PO Gunung Harta – dok.Istimewa

“Jangankan 70%, kemarin saya lihat ke terminal Pulogebang itu satu armada hanya membawa empat orang ke Jawa Tengah,” ujarnya.

Masih minim
Pernyataan itu diamini oleh Ketua Umum Ikatan Prngusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI), Kurnia Lesani Adnan. “Kami juga merasakan hal seperti itu. Hingga hari ini total jumlah bus yang beroperasi masih 40%, dan tingkat ikupansi (keterisian bangku) satu armada (yang dibatasi hanya 50% dari kapasitas maksimal yang semestinya) hanya 40% saja. Jadi ya, paling banyak 10 orang, atau bahkan kurang dari itu. Tingkat isian masih minim,” papar dia saat dihubungi Motoris di Jakarta, Jumat (26/6/2020).

Apakah hal itu terkait dengan daya beli ekonomi masyarakat akibat ekonomi yang disebut terus mengalami kontraksi akibat wabah virus corona? Lesani mengaku masih akan melihat dugaan itu pada saat liburan sekolah, pada pekan depan.

“Kan minggu ini anak sekolah terima rapor. Pekan depan liburan, kita lihat saja, apakah banyak orang yang bepergian ke luar kota? Kalau tidak berarti dugaan daya beli yang melemah mendapatkan jawaban dari fakta tingkat okupansi bus yang rendah itu. Meski dugaan mengarah ke sana, tetapi aspek daya beli menjadi kunci” terang dia.

Ketua IPOMI, Kurnia Lesani Adnan – dok.Motoris

Terlebih, lanjut pria yang juga Direktur PO SAN itu, Kementerian Keuangan juga sudah memperkirakan pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua (April – Juni) mengalami kontraksi -3,4%. Tetapi, ada faktor lain yang juga bisa menciutkan minta orang untuk naik us, yakni masih diberlakukannya Surat Izin Keluar Masuk (SIKM) Jakarta.

“Sehingga, banyak orang yang memilih angkutan non busa. Apakah mobil pribadi atau lainnya. Karena kalau masuk terminal Pulogebang harus pakai SIKM. Jadi orang enggan naik bus. Tetapi faktor daya beli yang paling utama, karena orang bepergian kan sudah diperbolehkan meski ke Jakarta masih ada SIKM,” imbuh dia. (Fer/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This