Sanksi Travel Gelap Angkut Pemudik Tak Cukup Denda Rp 500 Ribu

Kendaraan berpelat hitam, angkutan travel dan bus yang mengangkut pemudik di masa larangan mudik lebaran tahun 2020, yang diamankan aparat Polda Metro Jaya – dok.TMC Polda Metro Jaya


Jakarta, Motoris – Kepolisian menyatakan akan menindak tegas terhadap mobil travel pelat hitam yang mengangkut pemudik selama masa larangan mudik pada 6 – 17 Mei mendatang, dengan mengurungnya hingga 17 Mei. Namun, sanksi seperti itu dinilai sebagian kalangan kurang memberi efek jera, sehingga masih memunculkan nyali oknum-oknum penyedia jasa angkutan travel gelap karena keuntugannya memang besar.

“Kalau memang mau dilarang harus tegas. Karena tujuan yang dicapai dengan pelarangan ini bukan sekadar melarang angkutan travel pelat hitam untuk mengangkut orang. Tetapi ada aspek lain yang hendak diwujudkan yaitu mencegah penularan virus corona atau memutus potensi munculnya mata rantai penularan Covid-19. Jadi, kalau kami dilarang dan kami patuhi, semestinya pihak-pihak lain yang menawarkan angkutan ilegal (pelat hitam juga ditindak tegas,” papar Ketua Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Kurnia Lesani Adnan, saat dihubungi di Jakarta, Senin (26/4/2021).

Pernyataan serupa diungkapkan pemilik Perusahaan Otobus Sumber Alam, Anthony Steven Hambali. Menurut dia, aspek keadilan berupa kesamaan perlakuan terhadap semua moda transportasi harus ditegakkan dalam upaya pelarangan mudik demi mencegah Covid-19.

Ilustrasi, penumpang Bus AKAP di Terminal Poris, Kota Tangerang – dok.Motoris

“Sehingga tidak menuimbulkan rasa ketidakadilan karena diskriminasi perlakuan. Karena yang kita sepakati adalah demi memutus mata rantai Covid-19, sehingga seluruh komponen bangsa ini sehat, dan kalau sehat ekonomi nasional akan tumbuh. Itu kan tujuannya? Jadi jangan ada larangan hayna untuk angkutan umum bus, tetapi yang lainnya masih merajalela,” kata dia.

Baik Anthony maupun Lesani berpendapat, jika kepolisian dan aparat terkait hanya memberikan sanksi akan menahan mobil pelat hitam yang digunakan untuk mengangkut pemudik hingga tanggal 17 Mei atau mengenakan denda Rp 500.000, itu sangat ringan. Sebab, sanksi itu tidak akan menimbulkan rasa jera.

“Sehingga, masih akan memunculkan niat untuk mencoba-coba. Sebab, untungnya memang gede. Ke Semarang atau Yogyakarta di hari-hari biasa hanya Rp 200.000 – Rp 250.000, saat larangan mudik bisa mencapai Rp 800.000 per orang. Taruhlah satu mobil mengangkut tujuh orang, sudah berapa. Ya kalau dikenai sanksi Rp 500.000 kalau ketangkap ya sangat enteng,” papar Lesani.

Kurnia Lesani Adnan – dok.Istimewa

Sanksi harus menjadikan jera
Sanksi yang lebih tegas bisa berupa penahanan hingga satu tahun atau pencabutan masa berlaku STNK mobil yang bersangkutan hingga satu tahun atau lebih. Sehingga, akan membuat orang berpikir ulang untuk mencobanya.

Sebelumnya, Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Sambodo Purnomo Yogo, belum lama ini mengatakan aparat kepolisian akan menindak tegas travel gelap yang kedapatan mengangut pemudik di masa lebaran tahun ini. “Kalau nanti kami tangkap, kami akan tahan kendaraannya sampai dengan tanggal 17 Mei,” ujar dia.

Selain itu, angkutan yang bersangkutan akan ditilang sesuai dengan pasal 308 Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Ancaman sanksi bagi pelanggar pasal tersebut adalah pidana kurungan paling lama dua bulan atau denda paling banyak Rp 500.000.

Ilustrasi pemeriksaan petugas saat larangan mudik -dok.NTMC Polri

Sambodo juga mengatakan, untuk mengantisipasi kegiatan mudik yang jelas-jelas dilarang, aparat akan melakukan penyekatan akses. Tidak hanya di jalan tol, tetapi juga jalan arteri, bahkan jalur-jalur tikus yang ada.

“Ada 31 titik pos penyekatan yang terdiri dari 17 pos check point dan 14 titik penyekatan,” ucap dia seperti dilansir laman resmi Korlantas Polri. (Fan/Die/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This