Kena Ghosting Tahunan, Indonesia Masih Ngarep Investasi VW

Ilustrasi, emblem VW – dok.Volkswagen Newsroom

Frankfurt, Motoris – Rencana investasi raksasa otomotif asal Jerman, Volkswagen (VW) di Indonesia sudah berdengung sejak 2013. Ibarat kena ghosting bertahun-tahun, tapi Indonesia masih belum patah arang menerima kejelasan dari posisi gantung alias janji manis si pabrikan.

Berita terbaru, Menteri Investasi atau Badan Kordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia, baru saja melakukan lobi ulang pada VW langsung di Frankrurt, Jerman, Minggu (10/10/2021). 

Dalam kunjungan kerja hari keduanya, Bahlil menyatakan telah melakukan pertemuan langsung dengan Thomas Schmall-von Westerholt, Chairman of the Board of Management (Chief Executive Officer) Volkswagen Group Components.

“Saya berusaha meyakinkan VW untuk membuat prekusor katoda baterai kendaraan listrik di Indonesia. Sebagai bagian dari supply chain bahan baku pabrik baterai dan kendaraan listrik mereka di seluruh dunia,” ucap Bahlil dalam laman IG resminya.

Strategi pemerintah Indonesia ini, terbilang menarik. Ketimbang berharap VW mau bikin pabrik mobil di Indonesia dan tidak kunjung terlaksana, target kemudian diubah. Menteri Investasi lebih mendorong VW untuk bikin pabrik baterai mobil listrik, sehingga mampu memperkuat struktur industri penunjang era elektrifikasi pada skala otomotif global. 

Menteri Investasi Bahlil bertemu dengan Thomas Schmall-von Westerholt, Chairman of the Board of Management (Chief Executive Officer) Volkswagen Group Components di Frankurt, Jerman. (IG pribadi)

“Pemerintah telah berkomitmen untuk mengembangkan ekosistem kendaraan listrik dari hulu ke hilir. Kami pun di Kementerian Investasi siap untuk mendukung dan memfasilitasi penyediaan bahan baku melalui kerja sama dengan pengusaha lokal dan UMKM di Indonesia,” kata Bahlil lagi. 

Pasalnya, kalau struktur industri komponen baterai mobil listrik di Indonesia sudah kuat dan menjadi bagian rantai pasok global, sudah dipastikan bakal banyak merek-merek otomotif berdatangan sendiri. Para pabrikan otomotif ini bakal membangun pabrik mobil listrik mendekati sumber komponennya, supaya lebih ekonomis, jadi berdaya saing tinggi. Sesuai prinsip ekonomi! 

Sebelumnya, VW dikabarkan telah menyiapkan dana 40 juta-50 juta U$ dollar untuk membangun pabrik perakitan di Indonesia. Kapasitas produksinya ditargetkan 80.000 unit per tahun dan menjadikan Indonesia basis produksi untuk negara tetangga di Asia Tenggara. 

Ilustrasi baterai-listrik-buatan-BASF-untuk-mobil-listrik-dok.BASF-Catalyst

BASF

Selain itu, Mentri Investasi juga hadir ke Jerman untuk mengikat komitmen rencana investasi perusahaan kimia terbesar di dunia, BASF. Perusahaan asal Jerman ini berencana investasi smelter atau pemurnian hidrometalurgi nikel dan kobalt. 

BASF bakal menggandeng Eramet, perusahaan pertambangan asal Perancis, untuk melakukan kerja sama investasi kompleks pengolahan nikel-kobalt untuk keperluan pengembangan kendaraan listrik. Proyek tersebut mencakup pembangunan pabrik High-Pressure Acid Leaching (HPAL) dan Base Metal Refinery (BMR).

“Kami akan dukung penuh rencana investasi BASF ini. Terkait perizinan dan insentif investasi, kami yang akan urus. Kita akan kawal terus sampai beres, ” kata Bahlil.

Bahlil menjelaskan rencana investasi BASF tersebut sejalan dengan fokus pemerintah Indonesia saat ini dalam mewujudkan hilirisasi industri. Selain itu, Bahlil berharap investasi BASF ini bisa terus dikembangkan bukan saja untuk pemurnian nikel, tetapi hingga produk akhir baterai listrik.

Rencananya, pabrik BASF dibangun di Halmahera Tengah, Maluku Utara, dengan kapasitas produksi sekitar 42.000 metrik ton nikel/tahun dan sekitar 5.000 metrik ton kobalt per tahun.

CATEGORIES
TAGS
Share This