Kredit Macet Pembiayaan Motor Mengintai

Kredit Macet Pembiayaan Motor Mengintai

Jakarta, Motoris – Penjualan sepeda motor menjelang Lebaran 2018 ini diperkirakan meningkat 15-20% dibanding musim yang sama tahun lalu, dengan cara pembelian terbanyak melalui kredit. Namun di balik fakta ini banyak kalangan yang mengkhawatirkan terjadinya kredit macet setelah masa Lebaran usai.

“Dari pengalaman tahun sebelum-sebelumnya, konsumen yang menunggak membayar angsuran, sesaat setelah musim mudik berakhir ternyata selalu ada. Baik itu karena kondisi yang memang benar-benar sulit, atau karena modus yang sengaja jadi seperti menyewa motor baru untuk pulang kampung,” kata Deputy Director Head of Retail Motorcycle Financing PT Adira Dinamika Multi Finance, Andy Sutanto, di Jakarta, Senin, (28/5/2018).

Namun, lanjut Andy, pada saat itu pihaknya langsung bertindak cepat sehingga kredit macet atau non performing financing (NPF) tersebut bisa diminimalkan. Belajar dari pengalaman itu, kata Andy, Adira kini berusaha semakin selektif dalam menerima aplikasi kredit yang diajukan calon konsumen.

“Ya meskipun, masih ada potensi kecolongan juga. Sebab, modus konsumen yang nakal itu memang bermacam-macam yang seringkali membuat petugas kecolongan. Misalnya pinjam KTP (Kartu Tanda Penduduk) dan KK (Kartu Keluarga) orang lain,” ujar Andy.

Baca juga: Gesits Bikin Motor Jepang Gerah di Indonesia

Ilustrasi, Adira Finance Expo – dok.Motoris

Adanya potensi NPF seusai lebaran juga diperkirakan kolega Motoris di Bidang Pengawasan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Penyebabnya, selain karena faktor kesengajaan yakni niatan kurang baik, juga faktor ketidaksengajaan yakni adanya himpitan kebutuhan yang besar.

“Kalau niatan kan yang tahu pribadi masing-masing ya. Tetapi yang pasti, usai lebaran nanti kebutuhan banyak. Untuk anak sekolah, kuliah juga besar. Selain itu, biasanya sehabis lebaran tabungan juga habis atau minimal berkurang. Kemungkinan terjadinya inflasi karena di saat hajatan pemilu permintaan barang-barang juga meningkat tinggi,” kata sang kolega saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (2/5/2018).

Uang beredar
Sementara itu, Ketua Bidang Komersial Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Sigit Kumala, mengaku belum bisa memprediksi ada tidaknya NPF tersebut seusai lebaran. Terlebih, lanjut dia, saat ini uang beredar (likuiditas) di masyarakat sangat besar nilainya.

Selain dari dana pemerintah di berbagai program yang melibatkan masyarakat dan memicu peningkatan pendapatan masyarakat, uang tersebut berasal dari bonus dan Tunjangan Hari Raya (THR) bagi pegawai negeri sipil dan swasta.

“Kalau sekarang belum ketahuan, nanti lihat dampaknya setelah tiga bulan. Sekarang ini banyak duit yang beredar di masyarakat,” ucap Sigit saat dihubungi Motoris, Sabtu (2/5/2018) malam.

Baca juga: Penjualan Honda CBR250RR Ambles, AHM Beralasan

Motor baru di sebuah gudang – dok.Autos.id

Terlebih, di sepanjang Maret hingga April hasil panen petani juga bagus karena tidak terdampak cuaca ekstrem baik kering maupun banjir. Pada saat yang sama, harga komoditas seperti karet, sawit, dan lainnya di Kalimantan dan Sumatera juga masih dalam tren bagus.

Selain menjadi penyokong kemampuan pembayaran, hasil panen dan harga komoditas yang bagus itu sekaligus menjadi pendorong pembelian motor. “Hasil panen karet biasanya merupakan 60% pendorong pembelian motor. Sedangkan (panen) padi 20%,” ucap Sigit.

Namun, perencana keuangan independen Rosefitri Maharani menyebut, masa panen dan keberhasilannya tak bisa djadikan ukuran pasti bahwa kewajiban kredit akan lancar. Begitu pun dengan bonus dan THR yang diterima PNS dan karyawan swasta.

Sebab, kata Fitri, pola konsumsi di masyarakat umumnya tanpa perencanaan. Masyarakat tidak menyadari betapa pentingnya perencanaan keuangan untuk kebutuhan pokok, sekunder, dan tersier dengan berbagai konsekwensi.

Bahkan, cara mitigasi atau antisipasi terjadinya risiko juga minim. Fakta pengalaman selama ini telah membuktikan hal itu.

“Sehingga, begitu mendapatkan banyak uang sudah dialokasikan ke berbagai barang atau kegiatan yang non produktif. Bahkan budaya menabung pun masih rendah. Kedisiplinan juga rendah karena pengeluaran yang tidak terencana dengan baik. Akibatnya, ketika ada kewajiban-kewajiban seperti kredit sering luput,” papar Fitri saat dihubungi Motoris, Sabtu (2/5/2018). (Ara)

FOLLOW IG @MotorisIndonesia, buat grafis otomotif terkini lainnya-Ini Baru Lawan Berat Kijang Innova.

CATEGORIES
TAGS
Share This