Sundulan Toyota Indonesia ke Wacana Mobil Listrik

Sundulan Toyota Indonesia ke Wacana Mobil Listrik

Jakarta, Motoris – Setelah terkesan menunggu perkembangan, Toyota Indonesia akhirnya menentukan sikap dalam ‘hiruk pikuk’ wacana kendaraan bermotor emisi karbon rendah (low carbon emission vehicle/LCEV). Melalui PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), pabrikan asal Jepang itu memberi ‘sundulan’ keras untuk membuka mata publik dan pemerintah soal peta jalan menuju era mobil itu.

TMMIN tegas-tegas mendukung kegiatan riset dan studi bersama yang diinisiasi oleh Kementerian Perindustrian Electrified Vehicle Comprehensive Study.

Tujuan di balik langkah Toyota itu diungkapkan kolega Motoris di Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo).  Dia menuturkan, Toyota ingin memberikan gambaran riil berdasar fakta empirik dan scientific soal roadmap menuju LCEV. Maklum, saat ini banyak pihak ingin menempuh ‘jalan pintas’ dengan langsung menuju era mobil listrik murni (pure electric vehicle).

Baca juga: Intip Beking Teknologi Mobil Listrik Sokonindo

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto secara simbolis menyerahkan kunci kepada Rektor Universitas Indonesia Muhammad Anis – dok.Kememperin

Padahal, kata sang kolega, jalan pintas seperti itu ‘ongkosnya’ besar.  Tak cuma membuat masyarakat gagap, tetapi juga memberi guncangan kepada industri. “Tidak bisa -ujug-ujug ( ke kendaraan) listrik murni seperti itu, tetapi harus secara bertahap. Sebab, ini bukan menyangkut habbit (kebiasaan masyarakat) dan kesiapan infrastruktur, tetapi juga kepentingan industri,” ungkapnya saat dihubungi di Jakarta, Rabu (4/7/2018) malam.

Apa yang diungkapkan sang kolega nyaris sama dengan apa yang disampaikan Presiden Direktur TMMIN Warih Andang Tjahjono. Dia menegaskan, Toyota mendukung kegiatan riset dan studi bersama yang diinisiasi oleh Kemenperin dalam upaya untuk memahami secara lebih menyeluruh aspek-aspek yang dapat memengaruhi pengembangan kendaraan elektrifikasi di Indonesia, terutama mengenai preferensi konsumen.

Aspek yang diteliti, kata Warih, bukan sekadar di tataran industri semata, baik berupa rantai pasokan komponen dalam proses produksi tetapi juga kebutuhan infrastruktur pendukung. Bahkan, harga jual, tingkat penerimaan masyarakat, hingga efektifitas pencapaian tujuan pengurangan emisi gas buang kendaraan.

Untuk itu, Toyota menyediakan sarana untuk penelitian berikut obyek yang diteliti yakni LCEV berupa mobil hybrid, plug-in hybrid, plus kendaraan konvensional. Selain itu, beragam sarana pendukung lainnya.

“Kami memberikan dukungan berbentuk penyediaan alat berupa kendaraan, data logger, charger, dan asistensi lainnya yang bisa dimanfaatkan oleh para peneliti dari enam perguruan tinggi itu,” kata Warih di sela acara Kickoff Electrified Vehicle Comprehensive Study di Jakarta, Rabu (4/7/2018).

Baca juga: Merek Jepang Siap Caplok Mobil Listrik di Indonesia

Harga terjangkau
Sementara Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menegaskan, hasil riset dan studi yang dilakukan pada 2018-219 itu nantinya akan akan menjadi masukan bagi pemerintah. Terutama, lanjut dia, dalam menerapkan kebijakan kendaraan listrik untuk mencapai target 20% produksi LCEV pada tahun 2025 nanti.

“Pemerintah saat ini terus berupaya untuk mendorong pemanfaatan teknologi otomotif yang ramah lingkungan melalui program LCEV sebagai upaya pengurangan efek gas rumah kaca hingga 29% pada tahun 2030 nanti,” ungkapnya di sela acara Kickoff Electrified Vehicle Comprehensive Study di Jakarta, Rabu (4/7/2018).

Airlangga menyebut agar kendaraan tersebut diminati masyarakat, maka selain infastruktur pendukungnya tersedia dan mudah ditemukan, harganya juga harus terjangkau. Lantaran itulah, Ketua Umum DPP Partai Golkar itu minta agar baterai motor listrik mobil LCEV itu menggunakan bahan baku lokal.

Toyota Prius Plug-in hybrid yang digunakan penelitian oleh enam perguruan tinggi – dok.Motoris

“Kita kan punya nikel dan kobalt yang bisa digunakan, jadi tidak harus impor jika menggunakan ion lithium. Sehingga, harga baterai bisa ditekan. Maklum, komponen harga yang paling besar untuk mobil LCEV itu kan baterai. Selain itu, kita berusaha menekan harga melalui kebijakan fiskal,” paparnya.

Insentif fiskal yang dimaksud adalah penerapan tarif Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) dengan mengacu kepada emisi karbon. Semakin rendah tingkat emisi karbon, maka tarif PPnBM juga semakin kecil.

“Regulasi untuk kebijakan fiskal itu, kini sedang digodok. Dan yang pasti, diharapkan akan menjadikan harga LCEV itu terjangkau,” ucapnya.

Mobil hybrid
Hal menarik lainnya dalam proses penelitian ini adalah, Toyota memberikan 12 unit mobil sedan Toyota Prius berteknologi hybrid, yakni 6 unit Toyota Prius hybrid dan 6 unit Prius plug-in hybrid. Ke-12 mobil itu nantinya akan diteliti oleh 6 perguruan tinggi yakni UI, ITB, UGM, UNS, ITS dan Universitas Udayana.

“Mobil-mobil itu nantinya dipelajari dari aspek teknikalnya seperti jarak tempuh, emisi, dan infrastruktur-nya. Selain itu, kenyamanan pelanggan melalui pelacakan data dalam penggunaan sehari-hari mobil-mobil tersebut di tiga kota besar Indonesia yaitu di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta selama periode tiga bulan,” kata Warih.

Lagi-lagi, kolega Motoris di Gaikindo mengatakan keberadaan mobil berteknologi hybrid yang disodorkan oleh Toyota itu bertujuan untuk memberi bukti kepada pemerintah dan masyarakat, bahwa mobil seperti itulah yang pas bagi Indonesia untuk menuju era mobil listrik.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dan Presiden Direktur TMMIN Warih Andang Tjahjono melakukan tes drive Toyota Prus Plug-in hybrid – dok.Motoris

“Artinya roadmap harus secara bertahap. Karena, itu sesuai dengan realitas tetapi tetap sesuai dengan tujuan semula. Mobil hybrid itu yang paling realistis dan rasional dalam menuju era LCEV sesuai dengan kondisi nyata di Indonesia, bukan shortcut seperti yang dimaui sebagaian kalangan,” kata dia.

Sang kolega menyebut, saat ini tarik menarik kepentingan itu sangat kuat, tak terkecuali di internal pemerintah. Sehingga, sundulan Toyota itu dirasa penting untuk membuka mata semua pemangku kepentingan. (Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This