Pemasyarakatan Sepeda Motor Listrik Butuh Tiga Hal Ini

Pemasyarakatan Sepeda Motor Listrik Butuh Tiga Hal Ini

Jakarta, Motoris – Wacana penggunaan kendaraan bersumber tenaga dari listrik, termasuk sepeda motor listrik sebagai sarana transportasi masyarakat di Indonesia terus menggelinding di tengah-tengah masyarakat. Namun, sejumlah kalangan mengingatkan agar penggunaan sepeda motor bersumber tenaga dari setrum itu tak memunculkan masalah baru setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan.

“Kalau soal kesiapan industri, hampir semua produsen atau brand sepeda motor yang beroperasi di Indonesia sudah siap memproduksi secara massal sepeda motor listrik, karena masing-masing sejak beberapa tahun lalu sudah mengembangkannya. Tetapi, kan tidak bisa serta merta begitu saja,” ungkap Ketua Bidang Komersial Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Sigit Kumala saat dihubungi Motoris, di Jakarta, Kamis (12/7/2018).

Menurutnya, selain kesiapan infrastruktur pengisian baterai yang harus tersedia secara luas untuk memberi jaminan kenyamanan dan kemudahan pengguna sepeda motor, harga kendaraan itu juga harus terjangkau. Jika harga lebih bersaing maka penyerapan oleh masyarakat pun meluas. Alhasil, industri juga terpacu untuk memproduksinya.

“Karena itu, insentif fiskal atau perpajakan juga perlu diberikan sehingga harga sepeda motor listrik terjangkau. Sebab, harga baterai (berbahan baku ion lithium) untuk sepeda motor listrik itu mahal, jika seperti itu maka harga jual sepeda motor jadi mahal,” kata Sigit.

Ilustrasi stasiun pengecasan baterai sepeda motor listrik – dok.Istimewa

Namun, lanjut Sigit, aspek lain yang tidak kalah penting untuk disiapkan adalah pengelolaan limbah baterai sebagai antisipasi dari dampak negatif yang terjadi terhadap lingkungan. Dampak negatif terhadap lingkungan dari limbah baterai ini, kata dia, saat ini sudah mulai dirasakan oleh negara-negara yang sejak beberapa tahun lalu telah menggunakan kendaraan listrik.

“Nah, soal siapa yang harus bertanggungjawab terhadap pengelolaan libah baterai ini juga harus dipikirkan. Jangan sampai, penggunaan kendaraan listrik yang bertujuan membuat lingkungan lebih bersih justeru membawa persoalan baru bagi lingkungan,” imbuhnya.

Uji coba
Sebelumnya, lembaga konsultan manajemen Solidiance bersama Go-Jek memulai uji coba dan melakukan feasibility study sepeda motor listrik di area Jakarta. Langkah ini diklaim sebagai cara untuk mengetahui apakah motor listrik bisa menjadi transportasi utama masyarakat di masa depan.

Associate Partner dan Country Head Indonesia Solidiance, Gervasius Samosir menyebut Indonesia perlu beralih ke kendaraan listrik karena sektor transportasi merupakan penyumbang emisi gas CO2 terbesar. Selain itu, bahan bakar fosil atau bahan bakar minyak keberadaannya semakin berkurang dan langka.

“Karena itu jika ingin generasi mendatang hidup lebih sehat perubahan itu (penggunaan sarana transportasi yang ramah lingkungan) harus dimulai sekarang,” kata Gervasius, seperti dikutip kompas.com, di Jakarta, Rabu (11/7/2018).

Ilustrasi sepeda motor listrik – dok.Electric Motorcycle News

Sementara itu, Head of Research Go-Jek Indonesia menyebut penggunaan kendaraan hemat energi merupakan cara inovatif dalam meningkatkan pendapatan para mitra pengemudi. Go-Jek percaya motor listrik bisa jadi salah satu solusi membantu mitra driver, mengurangi biaya operasional dan di saat yang sama membuat transportasi lebih efisien.

“Misi kami adalah memberikan dampak sosial positif kepada Indonesia, serta membantu meningkatkan taraf hidup mitra kami melalui inovasi dan teknologi. Kami sangat antusias berpartisipasi dalam uji coba dengan Solidiance ini dan melihat apa hasil dari inovasi ini,” ucap Ramda. (Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This