Gaikindo Berhasil Hapus Pasal Pemberangus Mobil Konvensional

Gaikindo Berhasil Hapus Pasal Pemberangus Mobil Konvensional
Ilustrasi mesin pada mobil pembakaran internal dalam pada mobil konvensional. dok. FASTNLOW.net

Jakarta, Motoris – Dalam hitungan hari, pemerintah rencananya mau mengeluarkan regulasi Peraturan Presiden tentang Percepatan program Kendaraan bermotor Listrik untuk Transportasi Jalan. Salah satu usulan dalam regulasi itu, dari draft yang diperoleh Motoris, tepatnya pada Pasal 14 b, disebutkan “Pengurangan penjualan Kendaraan Bermotor berbahan bakar minyak secara bertahap dan menghentikannya mulai tahun 2040.”

Tentu saja, pasal ini mengundang reaksi keras dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), sebagai payung industri otomotif. Para anggotanya merupakan produsen, penjual, pengekspor, sekaligus pengimpor mobil konvensional di Indonesia.

“Soal pasal itu (penghentian pemasaran mobil konvensional) kita sudah hapus, jadi tidak masalah,” kata Johannes Nangoi, Ketua Umum Gaikindo kepada Motoris, di Surabaya (15/9/2018).

Nangoi menjelaskan, pasal penghentian pemasaran mobil berteknologi konvensional di Indonesia dalam waktu singkat merupakan kebijakan yang tidak masuk akal. Industri otomotif di Indonesia, kata dia, masih dalam tahap berkembang, jadi tidak ada alasan mengapa harus dihapuskan.

“Ini barang belum berkembang sudah mau dimatikan, kan mikirnya aneh,” ucap Nangoi.

Baca juga: Wuling Motors Bulan Ini Luncurkan Mobil Listrik E200

FOLLOW IG @MotorisIndonesia, buat grafis otomotif terkini lainnya. “Hyundai Jadi Investasi di Indonesia, Kapasitas Pabriknya Gede.”

Mobil Listrik

Soal keinginan pemerintah Indonesia menjadikan Indonesia rantai produksi mobil listrik dunia, Nangoi mengaku mengapresiasi keinginan tersebut. Tetapi, strategi pengembangan industri juga harus dilakukan dengan seksama dan bertahap.

Dari total 86 juta unit mobil yang terjual di dunia sepanjang 2017 lalu, kata dia, tidak sampai 500.000 unit yang benar-benar berlabel EV.

“Jadi di dunia sudah membuktikan. Kita jangan tiba-tiba melompat enggak jelas, harus bertahap, salah satunya menggunakan teknologi hybrid itu,” kata Nangoi. (sna)

CATEGORIES
TAGS
Share This