Bunga Kredit dan Dolar Naik, Jangan Ngarep Diskon Harga Motor

Bunga Kredit dan Dolar Naik, Jangan Ngarep Diskon Harga Motor
Suzuki Nex II saat diperkenakan di ajang IIMS 2018 - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Rencana Bank Indonesia yang kembali mengerek suku bunga acuan (BI Rate) hingga menjadi 5,75% di bulan ini diperkirakan akan semakin mempersempit ruang gerak industri sepeda motor di Tanah Air dalam membuat program promosi untuk memacu penjualan. Terlebih, di saat yang sama nilai tukar rupiah juga masih lunglai di hadapan dolar Amerika Serikat.

“Saat ini tren suku bunga kan naik. Jadi kalau Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 26-27 September ini kembali menaikan BI Rate, ya sudah. Tren kenaikan suku bunga akan naik. Imbasnya juga ke leasing (lembaga pembiayaan) karena 60-70% dana leasing itu juga dari bank. Kalau bank menaikan suku bunga, masa cost of fund juga naik. Kalau bank enggak menaikan bunga yang Nett Interest Margin (NIM)-nya tergerus. Sekarang terserah masing-masing leasing (mau menaikan bunga atau tidak),” papar kolega Motoris di Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI).

Sang kolega menyebut BI sebelumnya sudah berkomitmen untuk meneruskan kebijakan hawkish alias agresif pada bulan-bulan mendatang. Hal itu dilakukan demi mendongkrak nilai tukar rupiah yang terus loyo di hadapan dolar AS, dan sejak awal tahun hingga kini sudah terdepresiasi 8%.

“Ini juga tidak lepas dari ketegangan perang dagang antara Amerika (AS) dengan China. Selain itu, The Fed (Bank Sentral AS) juga masih akan menaikan suku bunganya,” ucap sang kolega.

Ilustrasi, salah satu varian motor Honda yakni Honda PCX Hybrid diperkenakan di ajang IIMS 2018 – dok.Motoris

Faktor nilai tukar rupiah yang bisa membuat industri sepeda motor khususnya para Agen Pemegang Mereka (APM) tak leluasa untuk bermanuver memuat program diskon di akhir tahun juga diakui Ketua Bidang Komersial Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Sigit Kumala.

“Rasanya untuk membuat program-program diskon seperti tahun-tahun sebelumnya, berat. Faktor currency (nilai tukat) ini memang cukup berat bagi industri, karena harga pokoknya sudah naik seiring dengan kenaikan nilai tukar dolar,” paparnya saat dihubungi Motoris, Selasa (25/9/2018) malam.

Uang muka ringan
Sementara itu, Marketing and Bussiness Development Head, PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) 2W, Yohan Yahya, menyebut sampai hari ini pihaknya belum berniat mengerek harga jual produknya.

“Soal pengaruh dolar terhadap harga jual Suzuki, masih belum bisa kami katakan. Kami masih terus mengkalkulasi. Tapi untuk sementara, kami belum berencana menaikannnya (harga),” kata Yohan kepada Motoris, Selasa (25/9/2018).

Kendati begitu, dia tak menampik kondisi nilai tukar tersebut membuat tantangan yang dihadapi APM semakin berat. Terlebih, di tengah kemungkinan kenaikan suku bunga kredit. “Masih ada waktu di triwulan terakhir (Oktober – Desember) unuk mengejar target. Akan kami coba (menggenjot penjualan) meski ada kemungkinan kenaikan suku bunga kredit,” ujarnya.

Ilustrasi, produksi motor Suzuki – dok.Carmudi.co.id

Meski kemungkinan besar tak menggelar diskon, namun PT SIS tetap berusaha memberi insentif kepada calon pembeli. Caranya dengan memberikan besaran uang muka (DP) ringan yakni Rp 300.000 untuk pembelian Nex II dan Rp 1 jutaan untuk pembelian Suzuki GSX series.

Data AISI menunjukan, sepanjang Januari-Agustus penjualan motor di Tanah Air telah mencapai 4,16 juta unit atau naik 9,7% dibanding periode sama tahun lalu yang sebanyak 3,79 juta unit. Pada saat yang sama penjualan motor Suzuki telah mencapai 8.355 unit atau berada di urutan ketiga setelah Honda dan Yamaha. (Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This