Pasar Sedan di Ambang Wassalam

Pasar Sedan di Ambang Wassalam
Ilustrasi, sedan Vios produksi Toyota Motor Manufacturing Indonesia - dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Penjualan mobil jenis sedan terus menyusut dari tahun ke tahun. Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukan, sepanjang Januari-September 2018, total penjualan sedan dari semua kategori susut 22% dibanding periode sama tahun 2017.

“Pada Januari-September 2017 penjualan masih 6.925 unit, tetapi tahun ini di periode sama hanya 5.388 unit. Artinya, berkurang 1.537 unit atau turun 22%,” tutur Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto, dalam pesan elektronik kepada Motoris, di Jakarta, Senin (15/10/2018).

Menurutnya, amblesnya penjualan sedan tersebut bukan karena pengaruh pembatasan impor yang diterapkan oleh pemerintah melalui instrumen PPh Pasal 22 yang mengerek tarif menjadi 10% dan Pajak Impor atau impor duty, serta PPnBM rata-rata 50%. “Karena aturan pengendalian impor itu kan berlaku mulai September. Tetapi, ini (data penjualan ini merupakan) penjualan sedan-sedan yang sudah ada stoknya di kita (Indonesia),” terang Jongkie.

Dia menilai, skema tarif pemajakan sedan yang berbeda dengan jenis kendaraan lain menjadikan sedan kurang diminati. Sebab, harga sedan menjadi lebih mahal hanya karena tarif pajak. Walhasil, pasar kendaraan jenis ini juga muram, bahkan cenderung tenggelam.

Lantaran itulah, jika ingin pasar sedan berkembang dan menopang industri otomotif untuk kebutuhan domestik maupun ekspor, maka insentif fiskal berupa harmonisasi tarif pajak harus segera diselesaikan.

Baca juga: Hyundai Ditantang Produksi Sedan di Indonesia

Hyundai Elantra Avante, salah satu andalan sedan asal merek Korsel. dok. Carscoops

“Kita sekarang tengah menunggu proses ini selesai. Saat ini masih di BKF (Badan Kebijakan Fiskal) Kementerian keuangan,” ucap Jongkie.

Perlunya insentif fiskal untuk mendorong produksi dan pasar sedan domestik maupun untuk keperluan ekspor juga diungkapkan Kepala Subdirektorat Otomotif, Direktorat Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (ILMATAP) Kemenperin, Togu Sihombing.

“Harmonisasi tarif itu sudah kita usulkan ke Kemenkeu. Insentif memang dibutuhkan agar ada stimulan bagi pasar untuk penyerapan sedan. Kalau pasarnya berkembang, industri tentu akan memproduksi. Produk itulah, nantinya sebagian juga diekspor. Jadi industri kita bukan hanya untuk lokal saja tetapi juga untuk menghasilkan devisa,” ungkapnya dalam pesan elektronik kepada Motoris, Senin (15/10/2018).

Terlebih, lanjut Togu, pada saat ada pengendalian impor dengan tujuan mengembangkan industri di dalam negeri, insentif berupa harmonisasi tarif pemajakan itu sangat dibutuhkan. Sebab, meski impor dikenalikan tetapi industri di dalam negeri tidak dirangsang untuk berkembang, maka pasar akan semakin mengecil atau bahkan punah. (Ara)

FOLLOW IG @MotorisIndonesia dan TWITTER @MotorisID, buat update grafis otomotif terkini lainnya. “Suzuki Goda Dunia Dengan Versi Baru Katana.”

CATEGORIES
TAGS
Share This