Motor Kecil Wajib Ber-ABS, Bisa Berdampak Negatif ke Industri

Motor Kecil Wajib Ber-ABS, Bisa Berdampak Negatif ke Industri
Ilustrasi pesepedamotor di Jakarta - dok.Okezone.com

Jakarta, Motoris – Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menilai pewajiban penggunaan perangkat Antilock Braking System (ABS) di sepeda motor bermesin di bawah 250 cc tidak tepat karena akan memberikan dampak negatif ke industri dan masyarakat. Begitu pun dengan alasan yang mengaitkan antara keberadaan ABS dengan berkurangnya angka kecelakaan.

Menurut Ketua Bidang Komersial AISI, Sigit Kumala, segmen di bawah 250 cc merupakan ceruk pasar terbesar industri sepeda motor di Tanah Air. Salah satu karakter di mayoritas konsumen pada segmen ini adalah sensitif terhadap harga dengan berbagai faktor penyebab, yang salah satunya adalah daya beli.

“Artinya, masalah harga, terutama kenaikan harga menjadi aspek yang memiliki pengaruh besar terhadap preferensi konsumen terhadap suatu produk. Tentu, dengan penambahan perangkat ABS akan membawa konsekwensi terhadap harga, yakni harga akan menjadi lebih mahal. Nah, ini yang akan dirasakan oleh bagian konsumen yang jumlahnya mayoritas itu,” papar Sigit kepada Motoris, di Jakarta, Selasa (6/11/2018).

Kedua, jika alasannya bahwa keberadaan ABS akan mengurangi angka kecelakaan lalu-lintas yang selama ini pesepedamotor terbanyak yang terlibat juga masih perlu dikaji lagi. Memang, lanjut Sigit, sepeda motor paling banyak terlibat karena secara jumlah di jalanan, kendaraan bermotor roda dua ini juga terbanyak.

Ilustrasi suasan apmeran motor IMOS 2018- dok.Motoris

“Tapi, apakah mereka terlibat kecelakaan karena tidak adanya ABS? Data dari lembaga yang memiliki otoritas penanganan kecelakaan, termasuk kepolisian menunjukan bahwa mayoritas kecelakaan itu karea perilaku. Melawan kecelakaan, tidak menguasai kendaraan, tidak memperhatikan kondisi jalan. Jadi faktor utama perilakunya,” kata Sigit.

Tetap opsional
Sigit meminta produsen atau industri sepeda motor sebaiknya tetap memberi pilihan kepada masyarakat apakah memilih sepeda motor ber-ABS atau non ABS. Karena hal itu menyangkut daya beli. Lebih dari itu, pabrikan dalam memproduksi sepeda motor tanpa ABS juga sudah memperhitungkan aspek keamanan dan keselamatan penggunanya.

“Memang yang perlu dilakukan oleh semua pemangku kepentingan adalah memberi edukasi kepada pengguna sepeda motor dan penegakan huku yang tegas tanpa pandang bulu. Semua yang melanggar atau lali diberi sanksi tegas, karena ini menyangkut perilaku dan budaya disiplin,” kata Sigit.

Sebelumnya, Direktur Pembinaan Keselamatan Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Mohamad Risal Wasal mengatakan pemerintah tengah mengkaji wacana pewajiban motor – termasuk yang di segmen di bawah 250 cc – untuk dilengkapi dengan ABS.

Ilustrasi, proses produksi Honda BeAT  – dok.Istimewa

“Kalau untuk motor 250 cc atau lebih itu kan sudah dilengkapi (ABS). Nah, sekarang kita lihat sekarang apa motor cc kecil juga perlu menerapkan (letentuan) ini,” kata dia di sebuah acara yang digelar Bosch di Jakarta, akhir pekan lalu.

Wacana ini, lanjut Risal, masih dalam taraf pengkajian secara intensif. Meski, sebuah Forum Grup Diskusi juga telah dibentuk dan terus secara intensif membahas hal tersebut. (Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This