Transaksi di IMOS Diklaim Tembus Rp 52 M

Transaksi di IMOS Diklaim Tembus Rp 52 M
Ilustrasi, gadis usher Honda di IMOS 2018 - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Daya tarik sebagai ajang penjualan motor-motor di gelaran Indonesia Motorcycle Show (IMOS) 2018 ternyata lebih menonjol ketimbang sebagai ekshibisi teknologi masa depan seperti tema yang diusung. Terbukti, selama lima hari penyelenggaraan yakni dari 31 Oktober – 4 November 2018, nilai transaksi penjualan motor mencapai Rp 52 miliar.

Ketua panitia penyelenggara IMOS, Sigit Kumala menyebut nilai itu jauh di atas pencapaian transasksi pada penyelenggaraan tahun 2016. Pada saat itu nilai transaksisi tercatat Rp 20 miliar, dengan motor yang terjual sebanyak 1.700 unit.

“Untuk tahun ini, pencapaian nilai transaksi tersebut juga ditopang oleh sejumlah model motor baru. Kedua, tentu saja daya beli masyarakat yang masih bagus. Dan ketiga, dari sisi pembiayaan – bagi yang membeli secara kredit – juga mendukung, tidak ada lonjakan suku bunga dan uang muka yang cukup ringan,” papar Sigit yang juga Ketua Bidang Komersial Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) itu kepada Motoris, di Jakarta, Selasa (6/11/2018).

Sementara itu, PT Astra Honda Motor (AHM) yang merupakan salah satu peserta IMOS 2018 menyatakan, 388 unit motor Honda terjual di hajatan yang berlnagsung di Jakarta Convention Center.

Baca juga: Teknologi Masa Depan Masih “Sebatas”Impian di IMOS 2018

Yamaha Freego, model terbaru Yamaha yang diluncurkan di IMOS 2018 – dok.Motoris

“Dari jumlah ini, Honda PCX 150 menjadi motor skutik terlaris dengan total penjualan 106 unit, disusul Honda Vario yang terjual 61 unit,” ujar General Manager Sales AHM Ignatius Didi Kwok dalam siaran pers AHM, Selasa (6/11/2018).

Dengan penjualan sebanyak itu, lanjut Didi, Honda PCX 150 memberi kontribusi 43% terhadap total penjualan di hajatan yang berlnagsung saban dua tahun sekali tersebut. Pencapaian penjualan ini, lanjut dia, juga mencerminkan kepercayaan konsumen terhadap sepeda motor Honda.

Dibutuhkan
Pengamat dari Masyarakat Peduli Transportasi Indonesia, Joko Wardono, menyebut hingga saat ini sepeda motor masih tetap memiliki daya tarik bagi masyarakat. Setidaknya, ada tiga hal yang mendasarinya.

Kendaraan bermotor roda dua dinilai sebagai angkutan yang fleksibel terutama dalam menembus kemacetan di kota-kota besar. Terlebih, angkutan umum massal yang nyaman dan aman serta menjangkau ke berbagai titik keberangkatan dan tujuan mobilitas masyarakat hingga saat ini keberadaannya masih jauh dari tingkat kebutuhan.

Selain itu, sepeda motor bukan hanya sebagai sarana transportasi, tetapi juga sebagai sarana untuk mendukung kegiatan ekonomi produktif. Sejak ojek online dan usaha jasa pengantaran barang semakin berkembang fungsi sepeda motor sebagai alat ekonomi juga meningkat.

Motor, kata Joko, juga menjadi sarana untuk mendukung penyaluran kesenangan atau rekreasi. Kegiatan turing, olah raga, dan sebagainya untuk menghilangkan kepenatan dengan sarana pendukung sepeda motor juga terus berkembang.

Baca juga: Tuah Pameran Otomotif Bagi Gadis Cantik Pemanis IMOS

Ilustrasi, booth Suzuki di IMOS 2018 – dok.Motoris

“Artinya, sepeda motor masih terus dibutuhkan selama tiga hal itu masih ada. Soal, jumlahnya tentu juga tergantung pada daya beli dan tingkat kebutuhan. Tetapi, kalau bicara apa penyebabnya, ya tiga faktor tadi,” kata dia saat dikonfirmasi.

Salah seorang  yang sempat mengunjungi IMOS 2018, Fendrianto menilai aspek penjualan masih lebih dominan di hajatan yang disebut sebagai pameran itu.  Masyarakat, lanjut dia, lebih mempersepsi pameran sebagai tempat dimana obral diskon dan berbagai program promosi disediakan oleh agen pemenag merek.

“Jadi, mau pakai tema apapun. Apakah itu teknologi masa depan atau apa, masyarakat ya mempersepsinya masih sebatas sebagai ajang penjualan. Jadi belum sampai seperti di luar negeri seperti EICMA di Italia atau Intermot di Jerman yang benar-benar ajang menunjukan teknologi masa depan. Kita masih jauh dari itu,” ungkapnya, Selasa (6/11/2018). (Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This