Kalau Mau Laris, Harga Mobil Listrik Harus Rp 200 Jutaan

Kalau Mau Laris, Harga Mobil Listrik Harus Rp 200 Jutaan
Ilustrasi, mobil listrik Wuling, E100 diperkenalkan di GIIAS 2018 - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Harga ideal mobil listrik (battery electric vehicle/BEV) jenis kendaraan multiguna (multipurpose vehicle/MPV) bawah mencapai Rp 221 juta atau selisih 7% dari MPV pembakaran internal (internal combustion engine/ICE) Rp 207 juta. Dengan harga itu, konsumen dapat menerima mobil listrik, sehingga rasio produksi mobil elektrifikasi bisa mencapai 20% dari total produksi 2 juta unit pada 2025.

Harga sebesar itu juga berlaku untuk MPV hybrid electric vehicle (HEV) dan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV). HEV, PHEV, dan BEV masuk program mobil rendah emisi karbon (low carbon emission vehicle/LCEV) yang diusung Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Di dunia, HEV, PHEV, dan BEV disebut juga sebagai mobil elektrifikasi.

Berdasarkan hasil penelitian Lembaga Penyelidikan Ekonomi & Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM-UI), harga MPV LCEV diprediksi tetap lebih mahal 25-50% dibandingkan ICE, kendati telah diproduksi lokal pada 2025. Perinciannya, harga HEV lebih mahal 25%, PHEV 40%, dan BEV 50%.

Agar selisih harga dengan MPV ICE mencapai 7%, MPV HEV membutuhkan insentif sebesar 16-17%, PHEV 25-27%, dan BEV 30-32%. Jumlah insentif ini berdasarkan asumsi seluruh komponen LCEV dibuat di dalam negeri.

Baca juga: Era Motor Listrik Dimulai, Jokowi Pastikan Gesits Diproduksi 2019

Ilustrasi mobil listrik – dok.RusAutoNews.com

Selisih harga itu tidak dapat dicapai hanya dengan insentif yang dikucurkan pemerintah. Pabrikan mobil juga harus berani mengorbankan margin, bahkan kalau bisa, tidak mengambil untung dari penjualan LCEV. Pemerintah juga perlu memberikan insentif nonfiskal kepada pembeli LCEV.

“Konsumen masih menerima LCEV bila harganya berkisar 1,1-1,2 kali dibandingkan mobil biasa. Kalau sekarang harga segitu tidak bisa. Jadi, kalau tidak diproduksi di dalam negeri, harganya akan lebih mahal lagi,” kata Ketua Progam Studi S1 Ilmu Ekonomi UI Chaikal Nuryakin di Jakarta, Selasa (6/11/2018).

Dia menilai, harga LCEV dapat kompetitif dan diterima konsumen, tergantung pada seberapa besar niat pemerintah ingin berkoban. Adapun insentif pemerintah, seperti pengurangan pajak penjualan barang mewah (PPnBM), penghapusan bea masuk komponen, dan sebagainya masih belum bisa mencapai harga yang diasumsikan.

Baca juga: Pejabat Eselon Jadi Sasaran Pertama Mobil Hybrid dan Listrik

Honda mengatakan siap memproduksi massal mobil listrik kompak ini pada 2019. (HONDA)

Itu sebabnya, dia mendorong produsen mobil mau berkorban untuk membantu pemerintah dalam memasarkan mobil elektrifikasi. “Kalau di negara lain, produsennya juga bekorban, misalnya, untuk pemasaran pertama tidak mikir untung dulu atau zero profit. Karena sebenarnya asumsi harga yang kita set itu jauh di bawah harga di luar negeri,” kata Chaikal.

Dia mengusulkan pemerintah memberikan insentif non-fiskal bagi konsumen LCEV, seperti jalur khusus atau bebas kebijakan ganjil-genap. Ini akan merangsang orang membeli LCEV.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bersama Institut Teknologi Bandung (ITB), UI, dan Universitas Gadjah Mada (UGM) telah menyelesaikan riset tahap pertama kendaraan listrik jenis HEV dan PHEV. Riset tahap pertama ini dilakukan terhadap 18 unit mobil uji coba sumbangan dari Toyota. (Gbr)

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS