Thailand Jadi Pusat Produksi Mobil Listrik, Indonesia Mulai Tersengat

Thailand Jadi Pusat Produksi Mobil Listrik, Indonesia Mulai Tersengat
Ilustrasi Mercedes-Benz EQ - dok.Paultan.org

Bangkok, Motoris – Soal industri mobil listrik Thailand telah beberapa langkah jauh lebih maju ketimbang Indonesia, baik dalam fasilitas non teknis maupun teknis, sehingga produsen mobil pun berlomba memproduksi mobil listrik berikut baterainya di negeri ini. Bahkan, pabrikan mobil mewah BMW dan Mercedes-Benz sudah menetapkan diri mulai produksi tahun 2019 nanti.

Seperti dilaporkan Bangkok Post dan laman Paultan, Kamis (29/11/2018), Mercedes-Benz di Thailand tengah menimbang untuk memanfaatkan insentif yang ditawarkan Board of Investment (BoI) Negeri Gajah Putih itu. Pabrikan asal Jerman itu dikabarkan segera mengajukan proposal produksi yang tenggat akhirnya pada 28 Desember mendatang.

“Kebijakan pemerintah sangat penting untuk meningkatkan populasi mobil listrik di sini (Thailand), serta mengedukasi masyarakat soal kendaraan listrik. Kami berkomitmen untuk memasarkan baik plug-in hybrid dan baterai mobil listrik, serta diversifikasi semua model untuk menyeimbangkan dengan mobil mesin pembakaran untuk pilihan pelanggan lokal,” papar CEO Mercedes-Benz Thailand, Roland Folger.

Pabrikan ini, berjanji menggelontorkan investasi senilai 607 juta baht untuk memproduksi mobil plug-in hybrid dan 600 juta baht untuk bikin baterai ion-lithium. Pada bulan Maret lalu, Mercedes-Benz dan mitra lokal Thonburi Automotive Assembly Plant mengumumkan investasi lebih dari 100 juta euro untuk produksi semua jenis mobil di Thailand hingga 2020.

Ilustrasi mobil listrik BMW i3 – dok. insideevs.com

Masih menurut laporan Bangkok Post, BMW sejak awal tahun ini sudah woro-woro sebagai yang mengajukan permohonan insentif PHEV kepada BoI. Pabrikan ini juga mengaku bakal melokalisasi perakitan baterai untuk mobil jenis itu di Thailand pada 2019 bersama mitra lokalnya di pabrik Samut Prakan.

Jika BMW bernafsu membuat memproduksi lokal mobil listrik berikut baterainya di Thailand, bisa dimaklumi. Catatan asosiasi industri otomotif negara itu menunjukan, mobil plug-in hybrid kelas premium mendapatkan tempat tersendiri di konsumen.

Sementara penjualan iPerformance – mobil plug-in BMW – sepanjang tahun 2017 lalu naik 269% menjadi 10.020 unit. Jumlah ini setara dengan 13% dari semua BMW yang dijual di negara tersebut.

Namun, yang patut dicatat adalah, fasiitas BoI ditawarkan kepada semua produsen mobil dari seantero dunia, dan mendapat respon positif. Terbukti, selain BMW dan Mercedes-Benz, Mazda Motor, dan SAIC Motor disebut-sebut telah mengajukan proposal. Bahkan, Mitsubishi Motors pun dikabarkan juga bakal masuk.

Indonesia
Sementara, di Indonesia, pemerintah sepertinya mulai ‘tersengat’ oleh langkah maju pemerintah Thailand. Terbukti, pemerintah mulai ngebut realisasi industri baterai motor listrik dengan bahan ion-lithium.

Hal itu terungap dari pernyataan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan, di Jakarta, Kamis (29/11/2018). Luhut mengatakan peletakan batu pertama pabrik baterai itu, di Morowali, Sulawesi Tengah, dilakukan pada 11 Januari 2019 nanti.

Pabrik itu, lanjut Luhut, menelan investasi senilai US$ 4,3 miliar dan akan direalisasikan secara bertahap. “Untuk investasi awal US$700 juta. Tapi mereka mau, karena macam-macam nanti baterainya,” tutur mantan Menko Polhukam itu.

Menko Kemaritiman, Luhut B.Panjaitan – dok.Jawa Pos.com

Investasi senilai US$ 700 juta itu akan digelontorkan oleh konsorsium. Mereka terdiri dari GEM Co. Ltd dengan kepemilikan saham 36%, Tsingshan Group 21%, CATL 25%, Hanwa 8%, dan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) sebesar 10%.

Namun, tak hanya investor dari Cina saja yang berminat melainkan juga dari negara-negara lain. Investor tersebut, kata Luhut, berasal dari Jepang dan Korea Selatan. (Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This