Mencetak Wirausahawan Andal dari SMK ala Honda

Mencetak Wirausahawan Andal dari SMK ala Honda
Direktur HR, GA, SI, IT PT AHM Markus Budiman dan GM Corporate Communication Ahmad Muhibbuddin tengah memperhatikan siswa SMKN 3 Tanjung Selor yang praktik perbaikan mesin sepeda motor - dok.Istimewa

Tanjung Selor, Motoris – Sejak tahun 2009, PT Toyota Astra Motor (TAM) menjalankan program pembinaan terhadap Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang saat ini jumlahnya telah mencapai 686 SMK dengan menguatkan pada kurikulum teknologi otomotif dan bisnis. Tahun ini tak kurang dari 50 lulusan SMK yang terjaring, meski di tahap akhir baru 9 orang yang lolos untuk mendapatkan permodalan.

“Melalui program ini, kami menyeleksi lulusan SMK untuk menjadi entrepreuner atau pengusaha. Tahun ini ada 50 orang yang kami seleksi. Kemudian di tahap selanjutnya yang lolos 20 orang, dan di tahap akhir yang lolos 9 orang. Mereka yang lolos inilah yang terus bina dan mendapatkan akses permodalan dari Astra Honda Motor Youtpreunership Programme,” tutur General Manager Corporate Communication Ahmad Muhibbuddin, usai penandatangan Nota Kesepahaman Kerjasama antara PT AHM dengan SMKN 3 Tanjung Selor, Bulungan, Kalimantan Utara, Kamis (13/12/2018).

Muhib menegaskan, mereka yang telah berhasil menjalani program ini diharapkan mampu menerapkan ilmu bisnis yang diberikan mulai dari pengelolaan perusahaan, keuangan, pemasaran, hingga aspek teknis. Para luusan SMK yang menjadi pengusaha itu bukan saja mampu menjadi tukang tetapi juga menjalani peran sebagai seorang pebisnis.

Siswa SMKN 3 Tanjung Selor Bulungan, Kaltara, tengah praktik didampingi seorang guru – dok.Motoris

“Dengan begitu, diharapkan lulusan SMK tersebut bisa menjadi pionir di lingkungannya dalam menyerap tenaga kerja. Jadi, itulah tujuan yang ingin kami capai dalam rangka ikut serta memperkuat ekonomi masyarakat, daerah, dan nasional,” ungkap Muhib.

Sementara soal pembekalan kemampuan teknis, Direktur HR, GA, SI, IT PT AHM Markus Budiman mengatakan pihaknya bukan hanya terus meningkatkan silabus materi dan para pengajar SMK binaannya saja, tetapi juga terus melakukan pemantauan perkembangan kualitas anak didik.

“Kami secara rutin menggelar kontes keterampilan para siswa. Dengan begitu kita bisa mengukur sejauh mana pembelajaran secara teori maupun praktik yang diberikan kepada pengajar bisa terserap. Indikator lainnya, bagaimana dengan animo masyarakat terhadap SMK, berapa banyak anak-anak yang berminat masuk ke SMK karena keunggulan pengajaran maupun kemampuan output lulusannya,” papar Markus.

Ukuran lainnya adalah, apresiasi dan penghargaan dari pemerintah. Penghargaan dari lembaga yang memiliki otoritas penilaian menjadi ukuran apakah pembelajaran baik secara teori maupun praktik di SMK binaan telah sesuai trek dan arah yang benar.
Bahkan, seperti yang disebut Muhib, AHM juga melakukan monitoring melalui sistem digitalisasi yakni e-learning dan e-database.

Guru SMKN 3 Tanjung Selor, Bulungan, Kaltara, saat memberikan bimbingan kepada siswanya yang tengah praktik – dok.Motoris

“Dengan data-data itu kami melakukan update muatan lokal hingga konten terbaru yang dapat di download para guru. Namun tentunya guru tersebut harus kita training sehingga benar-benar tahu betul materi yang akan diajarkan,” kata Muhib. (Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This