Tiga Hal yang Bikin Low MPV Mencorong di 2019

Tiga Hal yang Bikin Low MPV Mencorong di 2019
Tampilan Avanza terbaru yang marak beredar di media sosial - dok. Istimewa

Jakarta, Motoris – Kalangan industri mobil di Indonesia meyakini segmen pasar Low Multi Purpose Vehicle (Low MPV) masih akan tumbuh di tahun 2019 ini. Daya beli, budaya, serta kehadiran versi baru diyakini menjadi pemicunya.’

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto misalnya menyebut keinginan masyarakat untuk memiliki mobil masih sangat tinggi. Hanya, karena faktor daya beli terkait perekonomian nasional menjadikan jangkauan daya beli terbatas.

“Saya kira mobil-mobil dengan kisaran harga Rp 240-an juta ke bawah akan paling banyak dibeli masyarakat. Karena memang daya belinya sampai sebesar itu. Dasarnya apa? Prediksi pertumbuhan ekonomi dari pemerintah kan 5,3-,54%, relatif hampir sama dengan prediksi tahun lalu,” papar Jongkie saat dihubungi di Jakarta, Kamis (3/12/2018).

Rentang harga hingga Rp 240 jutaan, merupakan rentang harga kendaraan ramah lingkungan dengan harga terjangkau (LCGC) hingga Low MPV. Namun, karena faktor budaya dan kebiasaan masyarakat yng bepergian bersama kerabat atau keluarga, mudik ke kampung halaman, membawa barang-barang banyak saat bepergian, maka Low MPV masih akan menjadi pilihan.

Ilustrasi All New Ertiga dok.Motoris

“Itu kultur dan nature orang Indonesia. Jadi MPV akan tetap menjadi pilihan. Kalau ada model baru atau minimal model facelift, gairah pasar akan tinggi. Karena umumnya, masyarakat akan tertarik jika ada sesuatu yang baru. Tampilan masih menjadi aspek untuk pertimbangan orang Indonesia,” terang Jongkie.

Pernyataan serupa diungkapkan General Manager PT Toyota Astra Motor (TAM) Fransiscus Soerjopranoto. Menurutnya, MPV masih akan menjadi varian yang paling banyak dibeli oleh masyarakat.  “Varian low MPV masih akan mendominasi. Karena calon pembeli di segmen pasar inilah yang merupakan terbanyak di masyarakat kita,” ungkap Soerjo.

Dia mengaku, secara pribadi melihat struktur penduduk di Tanah Air, kelompok kelas menengah dengan usia muda dan produktif merupakan yang terbanyak dari kelompok usia muda 1- 35 tahun. Mereka adalah kelompok pembeli potensial mobil baru.

Pengetatan kredit
Alasan lainnya, kata Soerjo, lembaga keuangan pendukung pembelian secara kredit baik bank maupun non bank (leasing) akan semakin selektif di tahun 2019 untuk menghindarkan kredit macet (Non Performing Loang/NPL). “Sepanjang 2018, penjualan LCGC turun sekitar 4-5% karena lembaga keuangan semakin selektif setelah ada peningkatan NPL. Jadi, kalau melihat secara kelayakan (pemberian kredit), calon pembeli di segmen low MPV itu lebih tinggi (kelayakannya).

Sementara Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira memperkirakan, tantangan terbeat dari industri otomotif di tahun 2019 adalah daya beli dan potensi kenaikan bunga kredit perbankan atau lembaga pembiayaan (leasing). Pertama Bank Indonesia telah mengerek BI Rate menjadi 6%.

Mitsubishi Xpander – dok.MMKSI

“Kedua, potensi guncangan terhadap ekonomi masih tinggi. Kenapa? Perang dagang Amerika dengan Cina masih terjadi, dan ini berpengaruh terhadap upaya menggenjot ekspor kita. Kalau ekspor lemah, kemungkinan rupiah kembali melemah juga besar sekali. Apalagi, 70% ekspor kita dalam bentuk komoditi primer dan olahan primer yang rentan terhadap gejolak harga di global,” ungkapnya saat dihubungi, Kamis (3/1/2019).

Selain itu, seiring dengan perhelatan pemilihan umum sektor konsumsi meningkat, sehingga kemungkinan naiknya tingkat inflasi juga besar sekali. Sehingga, kemungkinan ban mengerek suku bunga kredit juga tinggi. “Jadi bank atau lembaga pembiayaan akan semakin selektif di 2019,” imbuh Bhima. (Fer/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This