YAHM Budayakan Berkendara Aman dengan Fiqih

YAHM Budayakan Berkendara Aman dengan Fiqih
Ilustrasi pelatihan safety riding yang digelar oleh PT Astra Honda Motor- dok.Kompas.com

Jakarta, Motoris – PT Astra Honda Motor (AHM) melalui Yayasan AHM membuat terobosan baru dalam membangun budaya disiplin berkendara dengan dasar kajian akademis pendekatan nilai-nilai religi. Dengan memperlihatkan dasar syariat atau hukum yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia – termasuk dalam berkendara – yayasan ini mengingatkan pentingnya berkendara aman dan nyaman bagi diri sendiri dan orang lain.

Bekerjasama dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya yayasan tersebut menerbitkan buku Fiqih Lalu Lintas. Menurut Wakil Ketua Yayasan AHM, Ahmad Muhibbuddin, penyampaian pesan keselamatan berkendara dengan menggunakan perspektif nilai-nilai relegius ini baru pertama kali dilakukan.

“Terobosan ini diharapkan dapat menjadi modal baru bagi para penggiat safety riding untuk terus mengingatkan para pengguna jalan akan pentingnya berkendara aman dan berkontribusi menciptakan kenyamanan di jalan,” tutur Muhibbuddin, dalam siaran pers, Jumat (11/1/2019).

Buku itu, lanjut Muhibbuddin, menggambarkan bahwa safety riding bukan hanya masalah keduniaan semata. Berkendar bukanlah sekadar skill dan kepatuhan terhadap peraturan lalu lintas semata.

Wakil Ketua Yayasan AHM Ahmad Muhibbuddin membaca buku Fiqih Berlalu-lintas yang diterbitkan bersama UIN SUnan Ampel Surabaya – dok.Istimewa

“Tapi ada perintah agama di sana. Kami mengapresiasi karya akademisi UIN Sunan Ampel ini sebagai kontribusi nyata dalam memperkuat upaya bersama membangun kesadaran berkendara yang aman dan nyaman,” kata dia.

Salah seorang anggota Tim Penyusun Fiqih Lalu Lintas, Muhammad Lathoif Ghozali, mengatakan fiqih sebagai sebuah disiplin ilmu dalam agama Islam memberikan produk aturan dengan pejelasan teknis yang secara persuasif menuntut ditaati oleh seorang muslim.

Fiqih itu, kata Lathoif, bertujuan untuk melindungi dan memperbaiki kualitas kehidupan muslim saat menggunakan jalan raya dengan merujuk pada peraturan yang berlaku dari nilai-nilai sakral dalam ajaran Islam yang bersumber pada Alquran, Hadis, dan maslahah mursalah.

“Maslahah mursalah ini adalah prinsip kebaikan yang diserahkan kepada manusia mau mengambil atau tidak mengambilnya. Misalnya memiliki SIM, memakai helm, mematuhi rambu lalu lintas. Ini ijtihad kami dalam memberikan legitimasi teologis untuk membangun kesadaran bersama dalam berkendara di negeri ini,” paparnya. (Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This