Smelter Baterai Resmi Dibangun, Tinggal Tunggu Carbon Tax

Smelter Baterai Resmi Dibangun, Tinggal Tunggu Carbon Tax
Ilustrasi baterai motor listrik di mobil, kini Indonesia sudah punya smelter baterai, siap pasok bahan bakau lithium ion, mulai semester kedua 2020 - dok.graphene-uses.com

Jakarta, Motoris – Jelang akhir pekan ini, Jumat (11/1/2019), PT QMB New Energy Materials meresmikan peletakan batu pertama pembangunan pabrik peleburan bahan baku alias smelter baterai untuk kendaraan listrik di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah. Fasilitas ini nantinya bakal menjadi sumber pemasok baterai untuk kendaraan elektrik di Indonesia, juga dunia.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, mengatakan, proyek smelter berbasis teknologi hydrometalurgi ini, Indonesia akan menjadi tuan rumah dalam pengembangan industri baterai untuk kendaraan listrik. Selain itu juga membuat struktur sektor otomotif di dalam negeri semakin kuat.

“Salah satu kunci sukses pengembangan kendaraan listrik adalah teknologi baterai dan powertrain elektrik motornya,” kata Menperin, dalam keterangan resminya.

Berdasarkan road map pengembangan industri otomotif nasional, pada 2025, target Indonesia, adalah mencakup 20 % dari total produksi kendaraan di Indonesia, berbasis elektrik. Artinya, ketika produksi kita mencapai 2 juta unit per tahun, sebanyak 400 ribu itu kendaraan listrik.

Baca juga: Jerman Bikin Mobil Listrik Murah Seharga Avanza

Ilustrasi bagian-bagian mobil listrik – dok.Motoris

“Ini adalah industri new battery, new energy material, yang menghasilkan high purity nickel cobalts compounds for rechargeable batteries,” kata dia.

Managing Director PT Indonesia Morowali Industrial Park, Hamid Mina, mengatakan pembangunan pabrik lithium-ion, sebagai komponen inti baterai kendaraan listrik, bakal menciptakan ledakan ekonomi untuk Indonesia. Pabrik ini ditargetkan selesai dalam waktu 16 bulan pengerjaan, sehingga efektif bisa beroperasi mulai paruh kedua 2020.

“Total investasi sebesar USD 700 juta, yang akan menghasilkan produk senilai USD 800 juta per tahun,” kata Hamid, dikutip dari Merdeka.com.

PT QMB New Energy Materials memiliki kapasitas konstruksi nikel sebesar 50.000 ton dan kobalt 4000 ton, yang akan memproduksi di antaranya 50.000 ton produk intermedit nikel hidroksida, 150.000 ton baterai kristal nikel sulfat, 20.000 ton baterai kristal sulfat kobalt, dan 30.000 ton baterai kristal sulfat mangan.

Baca juga: Avanza Cs Dipaksa Jadi Hybrid

FOLLOW IG @MotorisIndonesia, pengembangan industri mobil listrik di Indonesia.

Kolega Motoris dari eksekutif agen tunggal pemegang merek Jepang, mengatakan, smelter ini menjadi momentum dimulainya era kendaraan elektrifikasi di Indonesia. Tetapi, masih ada satu regualasi yang belum dikeluarkan yaitu Carbon Tax.

“Di dalam Carbon Tax, nantinya juga terdapat LCEV (low carbon emmision vehicle), termasuk mobil listrik dan hybrid di dalammnya. Tinggal pemerintah bagaimana, berani mengeluarkannya sebelum atau sesudah pemilu,” kata sang kolega.

Regulasi kendaraan listrik ini sudah direncanakan terbit sejak pertengahan 2018 lalu, tetapi sampai saat ini, masih belum juga diputuskan, akan dikeluarkan atau tidak.

(sna)

Clik me for more gool stuff…

CATEGORIES
TAGS
Share This