Baterai, Jadi Penentu  Prospek Kendaraan Listrik di Indonesia

Baterai, Jadi Penentu  Prospek Kendaraan Listrik di Indonesia
Ilustrasi bagian-bagian mobil listrik - dok.Istimewa

Jakarta, Motoris – Upaya pemasyarakatan kendaraan listrik – baik roda empat maupun roda dua – menghadapi tantangan yang paling berat berupa harga jual kendaraan tersebut. Hal itu terjadi karena komponen  harga baterai yang mahal.

Menurut Senior Research Fellow The Institute of Energy Economics, Japan (IEEJ), Ichiro Kutani, baterai memiliki peran penting  dalam penentuan harga. Maklum, porsi baterai itu cukup besar.

“Salah satu tantangan besar yang dihadapi  (kendaraan listrik) di Indonesia adalah harga yang mahal. Sebab, baterai untuk motor di kendaraan listrik itu harganya masih mahal. Oleh karena itu, perlu mendapatkan perhatian dan pembicaraan secara khusus di depan,” papar dia saat Seminar Indonesia – Japan Automotif yang bertema Electrified Vehicle Concept of xEV and Well to Wheel, di Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, Jakarta, Selasa (29/1/2019).

Pernyataan serupa diungkapkan ahli teknik ketenagalistrikan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Agus Purwadi. Menurutnya, harga jual kendaraan listrik bisa menjadi titik krusial berhasil tidaknya pemasyarakatan kendaraan bersumber tenaga dari arus setrum itu.

Ilustrasi mobil listrik Wuling E100 diperkenalkan di ajang GIIAS 2018 – dok.Motoris

“Faktor harga menjadi persoalan penting. Tidak hanya di Indonesia, bahkan di negara-negara yang sudah maju dengan ekonomi yang sudah tinggi tingkatannya sekali pun. Oleh karena itu, perlu adanya insentif untuk menekan harga itu,” ungkap Agus.

Porsi baterai dalam komponen harga kendaraan bisa mencapai 30-40%. Sehingga, jika ada insentif baik di hilir berupa pemotongan pajak, maupun di hulu, maka harga jual kendaraan tersebut bisa ditekan. Walhasil, masyarakat pun akan berminat.

Menanggpai hal itu, Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, menegaskan kendaraan listrik akan diberi insentif. Baik fiskal maupun non fiskal baik untuk konsumen maupun industrinya.

“Kami akan memberikan insentif lebih bagi kendaraan listrik dan flexy engine (kendaraan dengan bahan bakar campuran), terutama kepada bahan bakar Biofuel,” ucapnya.

Dengan adanya insentif tersebut, lanjut Putu, diharapkan harga jual produk maupun operasional kendaraan listrik maupun kendaraan berbahan bakar alternatif dengan flexy engine juga terjangkau. Walhasil, minat masyarakat terhadap kendaraan ramah lingkungan itu juga tumbuh dan berkembang.

Keseimbangan

Pada kesempatan tersebut Ichiro Kutani juga menegaskan, dalam pengembangan dan pemasyarakatan kendaraan listrik perlu dilihat keseimbangan tiga hal yang menjadi tujuan utama. Pertama soal ekonomi yakni industri dari kendaraan atau industri otomotif yang menjadi produsen kendaraan berikut kontribusinya terhadap perekonomian negara.

Kedua, soal ketahanan energi. Sejauh mana penggunaan kendaraan listrik itu membuat negara  mampu menyediakan sumber energi yang berkelanjutan secara mandiri. Dalam hal ini sumber energi listrik.

Dan ketiga soal lingkungan. Menurutnya, perlu diperhatikan dampak lingkungan yang justeru akan menjadi persoalan baru yang muncul seiring dengan hadirnya kendaraan listrik.

Ilustrasi pengisian baterai mobil listrik – dok.Istimewa

“Sumber tenaga di pembangkit tenaga listrik yang menggunakan batubara akan menjadi persoalan tersendiri. Karena bahan bakar pembangkit berupa batubara memiliki residu yang tidak baik bagi lingkungan. Jadi ini perlu dipikirkan,” ucap Ichiro. (Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This