Indonesia Bisa Berjaya Jika Main di BEV

Indonesia Bisa Berjaya Jika Main di BEV
Ilustrasi, infrastruktur pengisian arus untuk baterai mobil listrik - dok.livemint

Tangerang, Motoris – Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memainkan penting di Industri mobil listrik dunia jika memproduksi mobil listrik full electric, kendaraan listrik berbasis baterai, atau battery electric vehicle (BEV). Pasalnya, Indonesia memiliki sumberdaya alam bahan baku baterai yang cukup melimpah.

Seperti diungkapkan oleh Ketua Program Percepatan dan Pengembangan Kendaraan Listrik, Satryo Soemantri Brodjonegoro, baterai merupakan komponen terpenting bagi kendaraan listrik selain motor listriknya. Sementara, harga baterai mahal karena bahan bakunya yang tidak bisa ditemui di semua negara di dunia.

“Bahan baku untuk baterai itu tidak semua negara memilikinya. Sementara, kendaraan listrik merupakan keniscayaan yang akan terjadi di dunia karena semakin langkanya bahan bakar minyak.  Oleh karena itu, Indonesia fokusnya ke kendaraan listrik baterai (bukan hybrid dan plug-in hybrid). Alasannya kenapa? Karena dengan teknologi itu, maka Indonesia punya peluang bersaing dengan negara-negara lain,” tutur Satryo saat ditemui usai diskusi Masyarakat Konservasi dan Efisiensi Energi Indonesia di ICE, BSD City, Tangerang, Banten, Rabu (30/1/2019).

Saat ini, lanjut Guru Besar Institut Teknologi Bandung itu, negara-negara yang memiliki ion lithium jumlahnya terbatas. Sementara, kebutuhan terhadap bahan baku baterai tersebut terus meningkat, bukan hanya dari industri otomotif saja tetapi juga dari industri produk lain seperti gadget.

Ilustrasi motor listrik di mobil bersumber tenaga dari arus listrik- dok.Stanford University

Walhasil, harga bahan ini terus melesat. Sampai hari ini, harga lithium mencapai US$ 25.700 atau sekitar Rp 350 jutaan per ton. Negara-negara pemilik cadangan lithium adalah Cina, Cile, Australia, dan Indonesia.

Investasi

Di Indonesia, bahan ini terdapat di Morowali, Sulawesi Tengah. Bahkan, sejumlah investor telah tertarik menggarap proyek produksi baterai itu.Menurut hitung-hitungan Satryo, untuk melakukan percepatan kendaraan listrik di Tanah Air dibutuhkan investasi senilai Rp 1 triliun untuk memproduksi baterai yang digunakan sepeda motor listrik.

Industri dengan investasi senilai itu bisa memproduksi 120.000 unit baterai saban tahunnya. Sementara untuk baterai mobil listrik dibutuhkan investasi senilai Rp 5 triliun. Investasi itu untuk membangun pabrik dengan kapasitas produksi sebanyak 60.000 unit baterai.

Di tempat yang sama, Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika menyebut, pabrik pembuat bahan baku baterai motor listrik akan siap beroperasi pada 16 bulan mendatang. Artinya, Indonesia sudah memiliki bahan baku untuk baterai tersebut.

Ilustrasi, baterai untuk motorlistrik di kendaraan roda dua yang disimpan di bagian bagasi bagian bawah – dok.Istimewa

“Kami juga sudah mengundang produsen pembuat sel baterainya. Sehingga, jika semua persiapan ini berjalan lancar kita sudah siap untuk memproduksi baterai,” kata Putu. (Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This