Renault Diminta Blak-blakan Soal Pesta Nikah Carlos Ghosn

Renault Diminta Blak-blakan Soal Pesta Nikah Carlos Ghosn
Carlos Ghosn - dok.Yahoo

Paris, Motoris – Drama penangkapan bekas bos aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi, Carlos Ghosn, oleh aparat Kejaksaan Kota Tokyo, Jepang, November 2018 lalu masih berbuntut panjang. Proses penyelisikannya tak hanya memunculkan cerita-cerita seru yang sebelumnya dianggap tabu, tetapi juga bukti-bukti baru.

Ghosn yang ditangkap dengan tuduhan manipulasi laporan keuangan itu, juga menghadapi tuduhan lain. Dia dituding menyalahgunakan imbalan sponsorship saat menggelar pesta pernikahan keduanya.

Seperti dilaporkan kantor berita AFP dan laman france24news, Kamis (7/2/2019), hasil audit di internal perusahaan Renault menyebut ada indikasi ketidakberesan sponsorship yang disepakati pengelola istana Chateau de Versailles dan Renault. Ghosn juga disebut mendapat tunjangan pribadi senilai 50.000 Euro atau setara dengan US$ 57.000 dalam pernikahan itu.

Pesta mewah bertema Marie Antoinette di istana megah Versailles itu terjadi pada tahun 2016. Saat itu pihak istana menampilkan aktor-aktor dengan pakaian abad ke-18. Walhasil, biayanya pun selangit.

Carlos Ghosn (kiri) dan Menteri Keuangan Prancis Bruno Le Maire (kanan) – dok.Nikkei Asia Review

Seorang sumber di internal Renault kepada Reuters, Kamis (7/2/2019) menuturkan sebelum hari H pernikahan itu tiba, Renault telah menyetujui untuk mensponsori renovasi istana Versailles dengan nilai 2,3 juta euro. Namun, sponsor itu bersyarat Renault akan mendapat imbalan berupa layanan senilai 575.000 euro.

Layanan itulah yang ternyata digunakan dalam pesta pernikahan Ghosn. Padahal, semestinya masuk dalam pendapatan yang didapat perusahaan. Kasus inilah yang kemudian menjadi sorotan publik.

Tak kurang Menteri Keuangan Prancis Bruno Le Maire memberi perhatian serius atas skandal tersebut. Seperti dilaporkan Reuters, Kamis (7/2/2019) Le Maire meminta Renault transparan atas tuduhan yang menyangkut nama perusahaan itu. Renault diminta blak-blakan, tanpa ewuh pakewuh mengungkap fakta yang sebenarnya.

“Audit ke Renault telah dimulai. Dan saya pribadi telah meminta audit itu,” kata dia kepada wartawan di sebuah acara bisnis di Paris.

Pemerintah Prancis diketahui memiliki saham di perusahaan otomotif itu. Pada tahun 2015 lalu, tepatnya di bulan April, saham pemerintah di Renault menggelembung dari 15% menjadi 20%. Jadi, wajar bila Le Maire berbicara keras. (Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This