Pakai Jurus Ini Pemerintah Pingin Ekspor Mobil Capai 70%

Pakai Jurus Ini Pemerintah Pingin Ekspor Mobil Capai 70%
Ilustrasi, Presiden Joko Widodo menyaksikan ekspor Toyota Fortuner didampingin Presiden Direktur PT TMMIN, Warih Andang Tjahjono - dok.TMMIN

Jakarta, Motoris – Pemerintah menargetkan ekspor kendaraan bermotor roda empat secara utuh (CBU) tahun ini bisa mencapai 70% dari total perdagangan di sektor otomotif dan impor terus ditekan, sehingga tidak terjadi defisit neraca perdagangan. Untuk itu pemerintah mempermudah proses ekspor dan membantu industri otomotif  dalam membuka pasar ekspor baru.

Menteri Koodinator Perekonomian Darmin Nasution menyebut, kemudahan proses mengekspor itu telah diberi landasan hukum melalui Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor PER-01/BC/2019 tentang Tata Laksana Ekspor Kendaraan Bermotor dalam Bentuk Jadi. Beleid ini, lanjut Darmin, sudah diterbitkan pada Selasa (11/2/2019).

“Inti dari peraturan ini adalah menghilangkan beberapa tahapan yang dinilai tidak efisien dalam proses mengekspor kendaraan CBU. Dengan demikian,eksportir mendapatkan fasilitasi dan insentif. Insentif  itu bukan dalam bentuk pengurangan pajak, tetapi biaya yang lebih hemat karena dihapusnya tahapan tertentu itu,” papar Darmin usai peresmian simplifikasi prosedur ekspor kendaraan completely built up (CBU) di Pelabuhan Indonesia Kendaraan Terminal, Jakarta, Selasa (12/2/2019).

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang ikut mendampingi Darmin mengatakan, ada tiga kemudan yang diberikan oleh pemerintah kepada eksportir kendaraan CBU. Pertama, ekspor kendaraan CBU dapat dimasukkan ke kawasan pabean tempat pemuatan sebelum pengajuan dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB).

Toyota Innova yang diekspor – dok.TMMINToyota Innova yang diekspor – dok.TMMIN

“Kedua, pemasukan ke Kawasan Pabean tidak memerlukan Nota Pelayanan Ekspor (NPE). Kemudian yang ketiga, pembetulan jumlah dan jenis barang paling lambat dilakukan tiga hari sejak tanggal keberangkatan kapal,” kata dia.

Sebelumnya, setiap kendaraan bermotor yang akan diekspor wajib mengajukan PEB, menyampaikan NPE, serta apabila terdapat kesalahan, pembetulan jumlah dan jenis barang harus dilakukan paling lambat sebelum masuk Kawasan Pabean. “Sehingga, waktu yang diperlukan lebih lama. Tentu, hal ini tidak efisien dan efektif karena cost juga bertambah,” ucap mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.

Volume ekspor

Sri mulyani juga menyatakan dengan kemudahan itu maka volume ekspor tahun ini diharapkan mencapai 70% dari total perdagangan sektor otomotif, Sedangkan impornya hanya 30%.”(Tahun ini diharapkan) Sebulan ada 25 kali pengapalan (ekspor kendaraan bermotor roda empat CBU) . Tahun lalu ekspor lebih dari 279 ribu (unit) kendaraan yang diekspor dan impornya menurun sehingga di bawah 40%. Ekspor ke depan diharapkan lebih dari 70%,” kata wanita yang akrab disapa Ani tersebut.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto yang hadir di tempat itu menambahkan tahun ini pihaknya mematok target ekspor kendaraan bermotor roda empat atau lebih mencapai 400.000 unit. “Dari jumlah itu 95% berupa CBU (dalam wujud utuh) dan 5% CKD (dalam wujud terurai),” ujarnya.

Tahun lalu, lanjut Airlangga, total ekspor kendaraan  ini sebanyak 346.000 unit. Dari jumlah tersebut yang berupa CBU sebanyak 264.000 unit, sedangkan sisanya dalam wujud CKD.

Ilustrasi, ekspor Mitsubishi Xpander – dok.Kompas.com

Sedangkan soal pasar tujuan ekspor, Airlangga mengklaim pihaknya terus mendorong dan membantu industri dalam negeri untuk membuka pasar baru.  Salah satu tujuan baru yang dibidik adalah Australia, sedangkan di wilayah Amerika Latin ada penambahan negara yang bakal menjadi tujuan ekspor.

Selama ini tujuan ekspor kendaraan bermotor Indonesia adalah Cina, Saudi Arabia, Vietnam, dan Kamboja. Selain itu sejumlah negara Timur Tengah serta sejumlah negara di Afrika. (Fan/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This