Penjualan Motor Sepanjang Maret “Dihantui” Banjir

Penjualan Motor Sepanjang Maret “Dihantui” Banjir
Ilustrasi, proses produksi sepeda motor Honda - dok.AHM

Jakarta, Motoris – Meski penjualan sepeda motor dari pabrik ke diler (wholesales) sepanjang Februari lalu tercatat meningkat 21% dibanding Februari 2018, namun kalangan industri sepeda motor mengaku was-was. Pasalnya, sejumlah daerah di pasar potensial mengalami banjir.

Data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menunjukan total wholesales pada bulan kedua tersebut mencapai 531.824 unit. Sedangkan pada bulan yang sama tahun 2018 tercatat sebanyak 439.586 unit.

Namun, wholesales selama Februari  2019 itu menciut dibanding bulan sebelumnya atau Januari. Data AISI menunjukan, sepanjang Januari penjualan masih sebanyak 569.126 unit. Artinya, jumlah motor yang didistribusikan dari pabrik ke diler di bulan Februari susut 37.302 unit dibanding Januari.

“Satu hal yang perlu dicatat adalah, angka penjualan ini kan angka distribusi dari pabrik ke diler. Sedangkan yang kita tunggu itu angka riilnya yakni penjualan secara ritel. Distribusi ini dimaksudkan sebagai cara untuk memenuhi permintaan di bulan Maret yang merupakan bulan mulai panen,” papar Ketua Bidang Komersial AISI, Sigit Kumala, kepada Motoris, di Jakarta, Senin (18/3/2019).

Sementara, lanjut dia, penjualan ritel di bulan Maret ini juga mendapatkan tekanan yang juga cukup berat. Di sejumlah wilayah yang selama ini tercatat sebagai pasar penyerap motor terbesar kedua yakni Jawa Timur, terendam banjir. Sehingga, tak sedikit areal persawahan yang terancam menghadapi gangguan panen.

Padahal, lanjut Sigit, musim panen merupakan varibel penting yang berhubungan dengan penjualan motor. Jika panen berhasil, maka penjualan motor juga akan meningkat. Pun sebaliknya.

Ilustrasi,varian lain Suzuki, Suzuki GSX-R150 ABS yang telah dipasarkan hingga saat ini – dok.Motoris

“Selain Jawa Timur, juga ada sebagian daerah di Jawa Tengah. Jadi, kita sedikit was-was, di penjualan Maret ini. Mudah-mudahan cepat recovery, sehingga penjualan bisa terkejar,” kata Sigit.

Jawa Timur, lanjut Sigit, beberapa tahun terakhir terbukti sebagai wilayah penyerap motor terbesar kedua setelah Jabodetabek. Sehingga, jika penyerapan di wilayah itu menciut, akan memberi dampak yang cukup signifikan ke penjualan secara nasional. (Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This