Indonesia Perlu Cermati Siasat Thailand Pacu Mobil Listrik Ini

Indonesia Perlu Cermati Siasat Thailand Pacu Mobil Listrik Ini
Ilustrasi, infrastruktur pengisian arus untuk baterai mobil listrik - dok.livemint

Bangkok, Motoris – Pemerintah Thailand kini berusaha keras agar negerinya menjadi pusat produksi mobil listrik  di kawasan dengan menggandeng pabrikan-pabrikan besar asal Jepang. Caranya, pemerintah Negeri Gajah Putih itu membuat aturan anyar yang disebut dapat mendorong produksi mobil berikut kompone lokalnya, sekaligus merangsang pasar untuk menyerap produk.

Seperti dilaporkan Bangkok Post yang dilansir laman Paultan.org, Selasa (19/3/2019), melalui Kantor Ekonomi Industri (OIE) pemerintah negeri itu membuat skema yang terpisah antara mobil ramah lingkungan berharga terjangkau dengan mobil ramah lingkungan telektrifikasi mulai dari mobil hybrid, plug-in hybrid, serta mobil listrik murni.

“Dengan skema baru itu, diharapkan industri pembuat mobil tertarik dengan insentif pajak dan fasilitas lain yang ditawarkan. Pejabat OIE telh bertemu dengan Toyota, Honda dan Nissan untuk membahas skema  tersebut serta menawarkan insentif-insentif yang telah dibuat,” tulis Bangkok Post.

Direktur Jenderal OIE, Nattapol Rangsitpol, mengatakan pihaknya menawarkan skema baru itu untuk memacu produksi sekaligus menggenjot pasar mobil listrik. Maklum, dau hal itu hingga saat ini dinilai masih lemot. Pasalnya, skema lawas yang dirilis Maret 2017 lalu dirasa masih banyak mesnyisakan hambatan dan tidak efektif.

Ilustrasi bagian-bagian mobil listrik-dok.Istimewa

Walhasil, pabrikan tak bisa dengan serta merta menggenjot produksi. Gairah penyerapan produk oleh  pasar pun juga belum seperti yang diharapkan.“Skema lama itu tidak efektif untuk menggenjot produksi massal pasar mobil listrik sekaligus melokalisasi pembuatan komponen penting untuk mobil listrik. Kini, skema Eco EV bertujuan untuk menutup celahtersebut. Sebab, semestinya skema (lawas) itu tidak menjadi hambatan bagi skema eco car saat ini,” papar Nattapol.

Menolak

Bahkan Nattapol menyebut skema anyar ini seperti tiket gratis dan terbuka bagi kalangan industri untuk membuat mobil ramah lingkungan di segmen apa pun. “Karena di lokal hanya ada mobil listrik hybrid mahal dengan harga 1 juta baht lebih, sama dengan skema mobil listrik,” tegasnya.

Dengan skema baru itu, maka mobil hybrid ringan bisa berubah menjadi mobil listik berharga terjangkau. Banderolnya 500 – 700 ribu baht. “Harga ini setara dengan mobil ramah lingkungan yang tersedia di pasar lokal,” jelas pria itu.

Departemen Cukai Thailand menyatakan mobil listrik harga terjangkau (Eco EV) tersebut dikenai pajak 4%. Artinya, jauh lebih rendah dari pajak mobil ramah lingkungan yang ada sekarang,  yang sebesar 10-14%.Lantas

bagaimana dengan  respon Toyota, Honda, dan Nissan yang diajak berembuk OIE untuk menjadikan Thailand sebagai pusat produksi?  Ternyata ketiganya menolak usulan itu.

Logo Toyota – dok.Reuters

Mereka meminta waktu satu tahun untuk tawaran tersebut.Mendapat penolakan ini, pemerintah  sepertinya akan menggandeng Mitsubishi, Suzuki, dan Mazda. Apapun yang terjadi, Indonesia yang kini juga berhasrat menjadi basis produksi mobil listrik perlu mencermati apa yang terjadi di Thailand tersebut.

Sebelumnya, seperti dilaporkan Bangkok Post, awal 2018 lalu Toyota, Honda, Nissan, Mazda, dan Suzuki telah memastikan diri mengikuti program pengembangan mobil listrik di Thailand. Mereka menerima skema insentif untuk merakit mobil-mobil berteknologi ramah lingkungan, seperti hybrid, plug in hybrid (PHEV), dan electric vehicle (EV) di negara itu.

“Kami lagi mendiskusikan dengan pemerintah tentang bagaimana bisa memperkenalkan mobil hibrida di fasilitas produksi kami di Rayong (Thailand),” tutur Presiden Suzuki Motor Thailand, Yoji Murosaka.

Namun Suzuki bersama Nissan, Honda, Mitsubishi, dan Toyota juga ikut dalam program Eco Car. Program ini berbeda dengan hybrid dan konsepnya mirip dengan program LCGC di Indonesia, yakni membuat mobil bermesin konvensional yang irit BBM.(Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This