LCGC Dikenai PPnBM, Honda Ngeri Jualan Melorot

LCGC Dikenai PPnBM, Honda Ngeri Jualan Melorot
Ilustrasi Honda Brio - dok.Istimewa

Bogor, Motoris – Kendaraan Bermotor Hemat Energi dan Harga Terjangkau (KBH2) atau biasa disebut Low Cost Green Car (LCGC) harganya diperkirakan bakal lebih mahal. Pasalnya, pemerintah melalui skema Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) bakal menetapkan tarif sebesar 3% untuk mobil kategori itu.

Padahal, sejak program LCGC itu digelindingkan tahun 2013 hingga kini, mobil tersebut tak dikenai PPnBM alias bertarif 0%. Melihat fakta tersebut, Direktur Pemasaran dan Purnajual PT Honda Prospect Motor (HPM) Jonfis Fandy memperkirakan penjualan LCGC bakal makin kempis.

“Meski berandai-andai, tetapi sudah jelas akan terjadi penurunan penjualan kalau seperti itu,” tutur Jonfis di kawasan Bogor, Rabu (20/3/2019).

Kondisi ini, lanjut dia, akan semakin mendorong penurunan penjualan LCGC yang saat ini terus terjadi, sejak tiga tahun terakhir. Seperti diketahui, data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukan, sepanjang tahun 2018 lalu total penjualan LCGC sebanyak 230.444 unit.

Jumlah tersebut menciut sekitar 4,13% dibanding penjualan tahun 2017 yang sebanyak 234.554 unit. Sedangkan penjualan di tahun 2017 itu sudah mengkerut 0,3% dibanding tahun sebelumnya.

Honda Brio yang di Indonesia merupakan LCGC, juga dijual di India – dok.Honda Cars India

“Tetapi kita harus tahu dulu secara jelas bagaimana aturannya (skema PPnBM yang baru), seperti apa. Setelah itu bisa kita pelajari meskipun tahu arahnya memang harus ke listrik atau hybrid,” ujar Jonfis.

Skema baru ini akan berlaku pada 2021 mendatang dengan pertimbangan kesiapan dari kalanfan industri. Dengan tenggat yang ada tersebut, industri diharapkan dapat melakukan penyesuaian dengan teknologi atau bisa memenuhi syarat untuk mendapatkan tarif PPnBM lebih rendah.

Tarif bisa dikurangi
Sebelumnya, dalam rapat konsultasi dengan Komisi XI DPR RI, Senin (11/3), Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan terkait dengan LCGC, pemerintah bakal menerapkan tarif PPnBM 2-3%. Pengenaan tarif tersebut merupakan konsekwensi dari penetapan PPnBM berdasar besaran emisi gas buang sebuah mobil.

Skema tersebut merupakan skema baru. Bahkan draft pemajakan anyar ini, kata Airlangga, sudah diserahkan ke DPR untuk dipelajari dan dibahas. Selanjutnya akan mulai berlaku dua tahun lagi atau tahun 2021.

“Terkait dengan KBH2, memang kalau dia tetap menggunakan emisi seperti sekarang dan Euro 2, dia kena 3%,” ungkap dia.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto – dok.Kemenperin

Kendati begitu, pengurangan tarif PPnBM bisa dikurangi dengan syarat Industri produsen LCGC tersebut mengubah mesin sehingga lebih ramah lagi terhadap lingkungan. Tarif bisa dikurangi 1%, sehingga tarif yang dikenakan padanya hanya 2%. (Kpr/Ara)

 

 

CATEGORIES
TAGS
Share This