Pembeli Ferrari Cs “Tiarap”, Menunggu Usainya Pemilu

Pembeli Ferrari Cs “Tiarap”, Menunggu Usainya Pemilu
Ilustrasi, Ferrari F12 Barlinetta - dok.Yallamotor.com

Jakarta, Motoris – Memasuki tahun politik pemilihan umum legislatif dan presiden, calon konsumen mobil-mobil mewah terutama supercar sekelas Ferrari, Lamborghini, McLaren, bersikap menahan diri sembari melihat perkembangan yang akan terjadi. Namun, dari sisi kemampuan daya beli mereka dinilai masih kuat.

Sikap konsumen yang seperti itu, sebut Direktur Utama Prestige Image Motorcars – importir dan distributor mobil mewah – Rudy Salim, bukan karena mereka partisan atau karena didasari sikap dan pilihan politik tetapi lebih didasari kalkulasi ekonomis. Maklum, umumnya calon pembeli dan pembeli mobil mewah termasuk supercar adalah konsumen rasional.

“Jadi berpikir jauh ke depan soal potensi risiko dari apa yang diputuskan (membeli atau tidak sebuah supercar) terkait dengan kelangsungan usahanya (bisnisnya) di tengah kondisi yang ada (politik) itu sangat kuat,” ungkap Rudy saat dihubungi, Senin (25/3/2019).

Artinya, dampak perhelatan politik dan dampaknya terhadap perekonomian lah yang dilihat oleh para calon pembeli dan pembeli mobil-mobil mewah tersebut, yang mayoritas merupakan pengusaha. Bahkan, lanjut Rudy, itu sudah terasa sejak tahun lalu.

“Karena itu, di tahun 2018 kemarin kami hanya menjual kurang dari 10 unit (mobil mewah dan supercar). Tetapi, kami optimis setelah pemilu penjualan akan menguat, karena kalau ada penurunan kemarin bukan karena faktor daya beli,” ungkap dia.

McLaren 720S model 2018 – dok.Car and Driver

Pernyataan serupa sebelumnya diungkapkan Direktur Operational Rolls Royce Motor Cars Jakarta – bagian dari PT Eurokars Group Indonesia – Arie Christopher Setiadharma di Jakarta, Jumat (15/3) saat ditemui usai peluncuran SUV Rolls-Royce Cullinan. “Daya beli  customer potensial di segmen premium ini masih oke. Tidak ada penurunan, kan kalau orang bisnis itu enggak satu bidang saja. Nah, kita tahu banyak sektor-sektor yang menanjak di akhir-akhir ini samai sekarang,” papar Arie.

Bahkan dia menyebut  contoh Rolls Royce Cullinan yang sudah dipesan oleh pembeli, meski dia tak menyebut jumlah pembeli da harga dari mobil tersebut. Meski di Inggris SUV super mewah itu dibanderol sekitar Rp 4,7 miliar lebih. “Pasar segmen premium masih menjanjikan,” ucap dia.

Status sosial

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto, tak menampik jika segmen pasar mobil mewah masih terus menggeliat. Bahkan menurutnya, meski pangsa pasar segmen ini hanya sekitar 0,1% dari total penjualan mobil nasional, namun dinamika masih terasa.

“Kalau di luar Gaikindo atau yang diimpor oleh importir umum kita tidak tahu ya, tetapi secara umum pasar premium (mobil mewah dan supercar) masih tumbuh. Persisnya berapa kita enggak tahu, kan sebagain di luar Gakindo (oleh importir umum),” kata Jongkie.

Menggeliatnya segmen ini tak lepas dari karakter dan profil pembelinya. Mereka adalah kelompok masyarakat yang sangat mapan dalam ekonomi dan termasuk kelompok emotional market. Artinya, mobil yang dibeli bukan untuk tujuan fungsional sehari-hari, tetapi sebagai salah satu simbol status sosial.

Aston Martin New Vantage berfitur electronic rear differential (E-Diff) – dok.Motoris

“Dan biasanya orang-orang yang sudah mapan, kebutuhan dasar sampai kenutuhan tersier sudah teroenuhi, ya membutuhkan pemenuhan kebutuhan status sosail. Salah satunya mobil,” terang Jongkie.

Bahkan, meski pajak meningkat terkait dengan naiknya tarif Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM), Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 dan lainnya terkait pengendaian impor, permintaan mobil mewah ternyata juga tidak surut. Kalau pun saat ini sedikit melandai karena pembeli melihat dan menunggu situasi setelah pemilu. (Fer/Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This