Pemerintah Ajak Renault dan Volvo Investasi di Mobil Listrik

Pemerintah Ajak Renault dan Volvo Investasi di Mobil Listrik
Ilustrasi, infrastruktur pengisian arus untuk baterai mobil listrik - dok.livemint

Jakarta, Motoris – Untuk mengejar realisasi target produksi kendaraan bersumber tenaga dari baterai listrik pada tahun 2030 sebanyak 750.000 unit pemerintah terus mengajak pabrikan berpartisipasi. Kabar terbaru menyebut, pemerintah mengajak Renault SA dan Volvo AB untuk berinvestasi di kendaraan itu.

Seperti dilaporkan laman Bloomberg, Rabu (10/4/2019), ajakan itu diungkapkan Direktr Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian, Harjanto. Dia meminta pabrikan asal Prancis dan Swedia itu untuk mempertimbangkan membangun pabrik perakitan.

Disebutkan pula, Indonesia memiliki potensi pasar yang besar. Sedangkan pemerintah, sebut Harjanto, juga tengah gencar mengundang investor untuk memproduksi baterai, karena Indonesia mempunyai sumber bahan baku baterai yang banyak.

“Merakit (kendaraan) itu mudah, jadi kami harus menguasai industri hulu (industri baterai). Kami ingin membuat komponen di sini. Itu sebabnya kami sekarang mencari pembuat baterai (yang bersedia membangun pabrik di Indonesia), karena kami memiliki bahan baku (baterai),” ungkap Harjanto.

Ilustrasi, bus listrik tanpa supir atau otonom dari Volvo yang diujicoba di Singapura – dok.Dezeen

Sementara itu, Chief Operating Officer PT Maxindo Renault Indonesia Davy J. Tuilan mengatakan pihaknya perlu melakukan studi kelayakan, Hal itu, lanjut Davy, penting untuk menjadi dasar keputusan apakah akan berinvestasi di Indonesia atau tidak.

Respon terhadap penggunaan kendaraan listrik atau industri yang terkait dengan komponen kendaraan listrik telah ada. PT Pertamina, misalnya – yang perusahaan energi milik negara Indonesia – telah mengumumkan rencana untuk untuk memproduksi baterai listrik.

Sedangkan PT Blue Bird – perusahaan operator taksi – akan mulai menambah listrik ke armada taksi mulai tahun ini. Begitu pula dengan PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) yang disebut-sebut juga bakal menggunakan bus listrik sebagai bagian dari armadanya.

Pemerintah juga terus beupaya membuat insentif bagi mobil istrik. Selain pemebasan bea masuk impor komponen dan barang modal lainnya terkait mobil listrik, pemrintah juga memberi insentif perpajakan bagi kendaraan listrik. Melalui Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) kendaraan yang berbasis pada emisi karbon, menjadikan PPnBM kendaraan listrik 0%. (Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This