Setelah Wuling dan Sokon, Kini BYD Siap Garap Indonesia

Setelah Wuling dan Sokon, Kini BYD Siap Garap Indonesia
Ilustrasi, BYD e6, mobil listrik produksi pabrikan asal Cina BYD - dok.Paultan

Jakarta, Motoris – Pasar otomotif Indonesia telah memantik minat industri dari luar negeri, tak terkecuali dari Cina. Setelah dua pabrikan – Dongfeng Sokon (DFSK) dan SGMW Motors atau Wuling Motors – kini pabrikan asal Shenzen, Guangdong, yaitu BYD Automobile dikabarkan sudah ancang-ancang menggarap pasar Indonesia.
Sinyal kuat BYD itu diungkapkan Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto.

Dalam keterangan resmi, Jumat (10/5/2019), Airlangga menyebut pabrikan yang berdiri sejak tahun 2003 itu akan berkonsentrasi menggarap segmen pasar mobil listrik.

Maklum, BYD Automobile merupakan bagian dari BYD Cp.Ltd, yang merupakan pabrikan pembuat baterai listrik kondang di Negeri Tirai Bambu. Pabrikan tersebut, kata Airangga, sudah siap menggelontorkan investasi di Tanah Air.

BYD e6 yang digunakan sebagai armda taksi listrik Blue Bird – dok.Kompas.com

Beberapa waktu lalu, pabrikan ini telah bekerjasama dengan perusahaan operator taksi Blue Bird dalam penyediaan armada bersumber tenaga dari listrik. Setidaknya, 25 mobil listrik BYD diujicoba sebagai armada taksi perusahaan itu.

“Jika mereka sudah melakukan prototyping dan proyek percontohan, itu berarti mereka berkomitmen untuk investasi lebih lanjut,” tutur Airlangga tanpa menyebut waktu penggelontoran investasi BYD maupun besarannya.

Namun, yang pasti, Airlangga menyebut pabrikan itu tak lama lagi akan menggelar proyek percontohan di segmen kendaraan komersial. Salah satunya, kendaraan jenis bus.

Insentif dan Perpres
Hanya memang, realisasi rencana pabrikan tersebut juga tergantung kondisi pasar. Hal ini berbeda dengan dua rekan senegara BYD, yakni Wuling dan DFSK yang sudah mempunyai fasilitas pabrik dan infrastruktur jaringan penjualan, sehingga mereka lebih mudah untuk mengembangkan diri dengan berinvestasi di mobil listrik.

BYD e6, salah satu mobil listrik pertama di pasar domestik China, meluncur pada 2012. – insideevs.com

Sedangkan soal kesiapan dukungan industri lokal Indonesia, Airlangga menyebut tak ada masalah. Pasalnya, Indonesia memiliki struktur industri yang mendukungnya. Bahkan bahan baku, mulai dari baja, bahan plastik, kaca, karet untuk ban, dan lain-lain.

Sementara dari sisi aturan legal formal, pemerintah kini tengah mematangkan Peraturan Presiden (Perpres) tentang program percepatan pengembangan kendaraan listrik. Selain itu, insentif fiskal dan infrastruktur kepada para pelaku industri otomotif juga diberikan.

Bus BYD C9 Electric Motor Coach – dok.BYD

Bea masuk 0% dan penurunan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk kendaraan bermotor ramah lingkungan juga diberikan. “Perpres sebagai payung hukum sedang diformulasikan. Terutama tentang persyaratan yang akan menggunakan fasilitas insentif tersebut,” imbuh Airlangga.

Seperti dilansir laman Wikipedia, BYD di Cina pada tahun 2010 lalu memiliki kapasitas produksi sekitar  700.000 unit per tahun. Namun, pada tahun itu, penjualan BYD baru sebanyak 519.000 unit. Kendati begitu, penjualan sebanyak itu telah mengantarkan BYD sebagai pabrikan terbesar keenam di negeri berpenduduk terbanyak di dunia tersebut.(Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This