Cegah Industri Ambrol, Cina Batasi Produsen Mobil Listrik

Cegah Industri Ambrol, Cina Batasi Produsen Mobil Listrik
Ilustrasi, BYD e6, mobil listrik produksi pabrikan asal Cina BYD - dok.Paultan

Beijing, Motoris – Pemerintah Repubik Rakyat Cina (Cina) kini tengah was-was dengan terus membeludaknya jumlah produsen mobil listrik di negaranya yang berujung pada mabruknya industri mobil bertenaga dari arus setrum tersebut. Lantaran itulah, pemerintah negeri dengan penduduk terbanyak di dunia itu berit melakukan pembatasan jumlah produsen.

Seperti dilaporkan laman Bloomberg dan China Daily, Selasa (4/6/2019) hingga kuartal pertama tahun ini, jumlah produsen mobil listrik di Cina telah mencapai 486 industri. Sedangkan penjualannya – meski tahun lalu melambat – namun masih terbanyak di dunia.

Deloitte Tohmatsu Consulting menyebut, sepanjang tahun 2018 lalu penjualan mobil listrik di Negeri Tirai Bambu itu mencapai 28 juta unit. Jumlah tersebut susut 1 juta unit dibanding tahun sebelumnya.

Ilustrasi pengisian baterai mobil listrik di SPLU – dok.Istimewa

“Cina merupakan pasar terbesar mobil listrik di dunia. Penjualan mobil bertenaga dari arus setrum ini terus meningkat seiring dengan diberikannya insentif bagi mobil nir emisi oleh pemerintah,” kata analis Deloitte, Zhou Lei.

Hanya saja, dengan semakin berjubelnya pabrikan – baik lokal maupun asing yang berkongsi dengan perusahaan lokal – menggarap pasar mobil listrik pemerintah juga ketar-ketir. Sebab, kondisi itu bisa menjadikan industri tak sehat.

Selektif

Terlebih, perekonomian negeri itu dalam beberapa tahun terakhir juga berada dalam tren pelambatan.
Lantaran itulah, pemerintah bakal bertindak selektif.

Pabrikan kongsi – yakni pabrikan lokal yang melakukan outsourcing dengan mengajak pabrikan asing – diseleksi dengan ketat. Hanya mereka yang berinvestasi minimal US$ 580 juta untuk kegiatan penelitian dan pengembangan selama tiga tahun saja yang boleh beroperasi.

Ilustrasi mobil listrik Wuling E100 diperkenalkan di ajang GIIAS 2018 – dok.Motoris

Selain itu, pabrikan tersebut juga harus memiliki catatan produksi 15.000 unit secara global selama dua tahun. Bahkan, jalinan kongsi antara perusahaan startup mobil listrik dengan pabrikan asing itu harus dilakukan minimal tiga tahun. Dengan begitu, pabrikan diharapkan lenih kompetitif. (Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This