Rasio Kepemilikan Mobil di RI Masih Rendah, Ini Penyebabnya

Rasio Kepemilikan Mobil di RI Masih Rendah, Ini Penyebabnya
Ilustrasi, pengunjung IIMS 2019 antusias melihat Mitsubishi Xpander - dok.Motoris

Jakarta, Motoris – Meski di jalan-jalan kota besar kerap terlihat kemacetan lalu-lintas yang parah – dengan dereta mobil maupun sepeda motor yang terjebak macet – namun, sejatinya rasio kepemilikan mobil di Indonesia masih rendah dibanding negara tetangga. Artinya, populasi mobil masih jauh dari kata cukup dibanding jumlah penduduk.

Menurut Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi, dengan jumlah penduduk yang sebanyak 265 juta jiwa, dan mengambil rata-rata hitungan di setiap 1.000 orang, ternyata kepemilikan mobil hanya 87 unit.

“Jadi kalau kita bicara volume (kepemilikan mobil) Indonesia, itu sangat kecil. Apalagi, kalau dibandingkan dengan negara-negara lain,” kata Nangoi, saat berbicara di acara ekspose persiapan Gakindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2019, di Jakarta, Selasa (2/7/2019) lalu.

Dia pun menyebut di Malaysia dan Thailand sebagai pembanding. Di Malaysia, lanjut Nanagoi, dari 1.000 orang penduduk, jumlah mobil mencapai 400 unit.

All New Jimny Sierra yang tak pernah sepi dari perhatian pengunjung GIIAS 2018 – dok.Motoris

“Sedangkan di Thailand, dari 1.000 orang ada 240 mobil. Artinya, tidak benar jika dikatakan jumlah mobil di Indonesia sudah penuh sesak. Mungkin, karena kita melihatnya hanya di satu arah saja, Jawa saja,” terang mantan Presiden Direktur PT Isuzu Astra Motor Indonesia itu.

Jika melihat sebarannya – terutama beberapa tahun lalu – keberadaan mobil terkonsentrasi di pulau Jawa. Namun, kini secara berangsur mulai menyebar di wilayah di uar pulau Jawa. Hal ini, kata Nangoi, seiring dengan embaiknya infrastruktur jalan.

Daya beli dan pajak
Menyinggung masih rendahnya rasio kepemiikan mobil di Tanah Air, Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto menilai, tidak lepas dari faktor daya beli. Sedangkan daya beli ini tergantung tingkat pendapatan perkata atau kemampuan finansial individu serta harga mobil yang dikarenakan pajak yang tinggi.

“Kalau kita lihat pendapatan per kapita atau invidu, kalau dirata-rata masih US$ 3.500 – 3.600 per tahun. Ini rata-rata lho ya, artinya rata-rata dari 1.000 penduduk. Jadi, bukan pasti setiap orang pendapatnnya segitu atau sama semua dengan besaran segitu,” paparnya saat dihubungi, di Jakarta, Rabu (3/7/2019).

Dengan tingkat pedapatan yang tidak sama, menyebabkan kemampuan untuk membeli mobil juga tidak sama. Oleh karena itu, Jongkie mengingatkan rasio kepemilikan mobil yang 87 mobil per 1.000 penduduk, juga bukan berarti rata.

Ilustrasi kredit mobil – dok.Kengarff.com

“Nah, kenapa daya beli yang belum menjangkau. Ya selain karena besaran pendapatan berbeda, di mobilnya yang mau dibeli juga dibenai pajak bermacam-macam. Sehingga, harganya juga semakin mahal. Selain itu, bunga bank dan lembaya pembiayaan juga dirasa masih mahal, sehingga untuk kredit juga belum mampu,” kata dia.

Oleh karena itu, peningkatan rasio kepemilikan mobil juga tergantung kepada tingkat pendapatan masyarakat dan pajak. Sementara, pendapatan masyarakat akan naik jika pertumbuhan ekonomi nasional juga terus bertumbuh di atas rata-rata secara berkelanjutan. (Fan/Ara)

 

CATEGORIES
TAGS
Share This