Laba Ambrol, Nissan akan PHK Karyawan Besar-besaran

Laba Ambrol, Nissan akan PHK Karyawan Besar-besaran
Ilustrasi, sedan listrik Nissan Leaf yang dibuat oleh Nissan Motor Company dihadirkan ke GIIAS 2019 oleh Nissan Indonesia - dok.Motoris

Yokohama, Motoris – Pabrikan mobil asal Yokohama, Jepang, Nissan Motor Company (NMC), mengumumkan performa keuangan perusahaan selama kuartal kedua (April – Juni) 2019. Hasilnya, laba perusahaan ambrol hingga 99% (menjadi 1,6 miliar yen)  dan pendapatan anjlok hingga 13% dibanding rentang waktu yang sama tahun lalu.

Kinerja ini berdampak serius terhadap kebijakan yang bakal ditempuh perusahaan.Seperti dipresentasikan oleh Chief Executive Officer NMC, Hiroto Saikawa, dan diwartakan laman CNN dan Reuters, Jumat (26/7/2019) lalu, Nissan bakal memangkas jumlah karyawan atau Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap 12.500 orang di seluruh dunia.

Meski masih disebut sebagai gambaran kasar langkah yang bakal dilakukan, namun Saikawa mengatakan, jumlah karyawan yang bakal “dirumahkan” itu dua kali lipat dibanding perkiraan awal yang ditetapkan Mei lalu. Saat itu, pabrikan berencana mem-PHK 4.800 orang karyawan di berbagai negara.

Sejalan dengan pengurangan jumlah karyawan ini, produksi pun dikurangi hingga 10%. “Ini hanya gambaran kasar, namun fasilitas (pabrik-pabrik) di luar negeri yang mengalami rugi akan jadi target utama pemangkasan produksi (dan karyawan),” papar dia.

CEO Nissan Hiroto Saikawa – dok.BBC

Nissan akan menghentikan sementara produksi di pabrik yang berada di Indonesia dan Spanyol. Dan tahun ini, dua varian mobil mewah di Inggris sudah disetop produksinya.

Kinerja penjualan Nissan tahun ini memang amburadul. Tantangan pabrikan terus mendera, mulai dari skandal internal yang melibatkan CEO -lamanya Carlos Ghosn- hingga imbas perang dagang antara Cina dengan Amerika Serikat.

Selain itu, kebijakan tentang standar emisi gas buang di sejumlah negara maju, juga membuathnya harus beradaptasi. Tercatat, di Amerika Serikat, pangsa pasarnya susut 0,2% yakni dari 8,1% menjadi 7,9%.

Sedangkan di seluruh Eropa, termasuk Rusia, pangsa pasar tinggal 16%. Lembeknya penjualan juga terjadi di Asia, termasuk Indonesia. (Ara)

CATEGORIES
TAGS
Share This